
Setelah hari penyelenggaraan Event Pesta Pelajar disekolah Zahra, Zahra dan Izzan menjadi semakin dekat. Dan mungkin, sekarang Zahrapun sudah mulai mencintai Izzan
Hari berlalu begitu cepat, Hingga sudah saatnya Izzan melamar Zahra. Awalnya Izzan ingin mempercepat lamarannya pada Zahra, tetapi niatnya itu dia urungkan karena tidak mau Zahra merasa terlalu terburu-buru
Dirumah mewah nan elegant milik ayah Abidzar, terdapat banyak sekali bunga mawar merah yang menghiasi seluruh penjuru rumah. Penataan kursi dan meja untuk para tamu pun tampak serasi dengan tema dekorasi acara yang diambil. Dan karena tidak mau hubungan antara Izzan juga Zahra diketahui oleh oranglain atau masyarakat umum, maka tamu yang diundang hanyalah para keluarga dan para kerabat dekat
☘☘☘
Pada hari bahagia itu, Izzan menggunakan setelan kemeja dan bawahan berwarna putih tulang serta adanya tambahan hiasan pita kupu-kupu warna merah, kian menambah ketampanannya. Izzan berjalan dengan tegapnya, dia diapit oleh ayahnya dan juga asisten pribadinya yang sudah dia anggap seperti saudara
Izzan menyalimi kedua orangtua Zahra beserta seluruh keluarga besar Zahra. Setelahnya, dia tampak setia menunggu kehadiran wanita yang mampu meluluhkan hatinya, Zahra
Dan tak lama, seluruh pasang mata kini tertuju pada seorang gadis yang sangat cantik. Dengan tubuh berbalut gaun syar'i berwarna putih tulang, ditambah dengan
adanya mahkota warna silver semakin menambah kecantikannya. Wajah putih berseri, Lesung pipi yang sangat dalam, Dan pipi chubby berisi membuat semua orang betah memandangi wajah cantiknya. Tak terkecuali Izzan
Izzan tak mengedipkan matanya dikala dia menatap Zahra, jantungnya berdegup kencang ketika Zahra melangkahkan kakinya semakin dekat kearahnya
"Tuhan, apakah ini yang disebut bidadari?" gumam Izzan dalam hati, sambil terus menatap ke arah Zahra dengan tatapan yang tidak bisa diartikan
"Dia terlihat semakin tampan dengan setelan kemeja itu" gumam Zahra dalam hati, yang sekilas melirik kearah Izzan
Dengan cepat, Izzan mengulurkan tangannya pada Zahra. Lalu, diterimanya oleh Zahra. Suasana semakin menghangat dan juga terasa sangat manis, ketika Izzan memasangkan cincin pertunangan kejari manis Zahra dan begitupun sebaliknya
"*Lihat, lihat! Mereka sangat serasi ya? ganteng dan cantik"
"Iyaa benar, pasangan yang serasi"
"Mas Abidzar tidak salah pilih menantu*.."
Ucap beberapa hadirin sambil terus menatap Izzan dan Zahra yang sekarang sudah disesi pemotretan
"Apa kamu lelah?" (Tanya Izzan yang melihat kening Zahra berkeringat sebesar biji jagung)
"Tidak.. aku baik-baik saja, lagipula acaranya baru dimulai" (Jawab Zahra dengan lemas)
"Tapi keringatmu seperti itu Zahra" (Ucap Izzan yang semakin panik karena kini, bibir Zahra memucat)
Dan...
__ADS_1
Brukkk
Seketika semua hadirin berdiri dari tempat duduknya, dan papa Irfan, ayah Abidzar, juga semua keluarga besar Zahra kaget ketika melihat Zahra terkulai lemas dipelukan Izzan
"Papa, abahh, ummi!" (Panggil Izzan pada orangtuanya juga calon mertuanya)
Semuanya berhambur melihat Zahra,
"Zahra kenapa nak?!" (Tanya ummi Marwah panik)
"Izzan tidak tau ummi, sekarang kita bawa Zahra kerumah sakit. Izzan takut dia kenapa-kenapa ummi.." (Jawab Izzan dengan suara bergetar, karena dia tak kuasa melihat gadis yang sangat dicintainya itu terkulai lemas dipelukannya dengan wajah yang begitu pucatnya)
"Nona Zahra kenapa Tuan muda?" (Tanya Boy, asissten pribadi Izzan)
"Jangan banyak tanya! cepat bukakan pintunya!" (Tukas Izzan sambil melotot tajam pada Boy)
"Ba-baik Tuan" (Sahut Boy langsung membukakan pintu mobil untuk majikannya).
Ayah Abidzar duduk disamping Boy yang mengemudikan mobil, sementara Ummi Marwah duduk dibelakang kemudi bersampingan dengan Izzan yang masih memeluk Zahra
"Bertahanlah sayang, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau sampai terjadi apa-apa denganmu" (Ucap Izzan sambil menatap Zahra dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca)
"Baik Tuan" (Sahut Boy sambil terus menancapkan gas)
☘☘☘
Karena mengemudikan mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi, Sekarang mobil Izzan sudah berada diparkiran rumah sakit milik ayahnya
"Panggilkan dokter Lidya, CEPAT!!" (Ucap Izzan pada salah satu perawat)
"Baik Tuan" (Ucap perawat itu)
"Nak, tenanglahh.. jangan panik, berdoa saja semoga tidak ada hal serius yang membahayakan kesehatan Zahra" (Ucap apa Irfan pada Izzan)
"Tapi paa-" (Ucap Izzan yang langsung disahut oleh papa Irfan)
"Daripada kamu berdiri disini, lebih baik kita keruang VVIP" (Ucap papa Irfan)
"Yasudah pa, ayo. Mari abah, ummi kita keruangan VVIP" (Tukas Izzan yang dibalas anggukan oleh kedua orangtua Zahra)
__ADS_1
Sesampainya diruangan rawat Zahra, dokter Lidya masuk dengan langkah tergesa-gesa
"Loh, ini siapa Zan?" (Tanya dokter Lidya)
"Panjang tante ceritanya, sekarang tolong periksa dia" (Ucap Izzan pada dokter Lidya)
"Iya Lid, cepat periksa dia" (Ucap papa Irfan menambahkan)
Dokter Lidya pun mengangguk dan segera memeriksa keadaan Zahra, dan untuk beberapa saat dokter Lidya menghela nafasnya panjang
"Huuuftt.. dia hanya kelelahan saja. Dan, apakah akhir-akhir ini dia susah makan?" (Tanya dokter Lidya)
"Maaf dok, saya terlalu sibuk mengurus pertunangan Izzan dan Zahra hingga saya lupa dengan kondisi kesehatannya" (Jawab ummi Marwah)
"Sudahlah ummi, ummi tidak usah khawatir. Zahra hanya kelelahan saja.." (Ucap Izzan pada ummi Marwah)
"Iya bu, benar kata Izzan. Ibu tidak usah mengkhawatirkannya, dan jangan menyalahkan diri ibu sendiri.. nanti, dia akan saya beri suplemen dan juga beberapa resep obat untuk mencegah lemas yang berlebih pada tubuhnya" (Ucap dokter Lidya)
"Baiklah, terimakasih dok"
"Terimakasih dokter"
Ucap ayah Abidzar dan ummi Marwah bersamaan, dan dibalas anggukan kepala juga senyuman dari dokter Lidya
"Lalu, kenapa Zahra belum juga siuman Lid?" (Tanya papa Irfan pada dokter Lidya).
"Dia hanya lanjut tertidur kak, mungkin sebentar lagi dia akan siuman. Kalau begitu, aku permisi" (Ucap dokter Lidya)
Dan semuanya mengangguk, lalu dokter Lidya pergi dari ruang rawat VVIP Zahra itu. Dan tak lama dari kepergian dokter Lidya, Zahra pun tampak mengerjap-ngerjapkan matanya. Ruangan berbau obat, sangat menyengat hidungnya
Izzan yang selalu menatap Zahra, ketika mendapati Zahra mengerjap-ngerjapkan matanya pun langsung mendekati brankas tempat tidur Zahra
"Kamu sudah siuman sayang? apa kamu haus, heemm?" (Tanya Izzan sambil menggenggam tangan Zahra, tapi tidak digubris oleh Zahra)
Papa Irfan, ayah Abidzar, dan juga ummi Marwah pun langsung berhambur kearah brankas Zahra
"Apa yang kamu rasakan sayangg?" (Tanya ummi Marwah sambil menghujani ciuman diwajah Zahra)
"Sepertinya Zahra hanya kelelahan saja ummi, tak apa.." (Jawab Zahra dengan nada yang sangat lemas)
__ADS_1
"Kamu harus banyak istirahat sayang, sepulang dari sini.. tolong jangan melakukan pekerjaan apapun yaa.." (Ucap Izzan pada Zahra dan dianggukkan oleh Zahra)