
Pagi telah berganti malam, kini keluarga besar Zahra baru saja tiba di kediaman ayah Abidzar. Fatimah yang memang sedari pagi moodnya buruk, tanpa sadar dia menutup pintu mobil dengan keras yang membuat Hafidz kaget
Bugghh
"Astaga!" (Hafidz terkaget dan berakhir mengelus dadanya)
"Fatimah kenapa sih mi?" (Tanya Hafidz sembari menuntun ummi Marwah masuk kedalam rumah)
"Biasa... kalau dia mau datang bulan kan begitu, sayang" (Jawab ummi Marwah dengan lembut dan wajah tanpa ekspresi)
"Hemm begitu ya mi" (Ucap Hafidz sambil menganggukkan kepalanya menandakan ia mengerti)
"Tapi kenapa sikapnya itu seperti bukan karena akan datang bulan?" gumam Hafidz dalam hati yang merasa ada yang salah dengan perubahan sikap Fatimah
"Assalamualaikum..."
Ucap ayah Abidzar memberi salam saat baru saja masuk ke dalam rumah. Zahra yang sedang membantu para asisten rumah tangga memasak pun berhamburan menyalimi sang ayah dan dilanjutkan pada anggota keluarganya yang lain. Lalu tidak lama, Izzan tampak turun dari tangga dan mengarah pada keluarga Zahra yang kemudian ikut menyalimi
"Bagaimana abahh, ummi.. acara pernikahan bang Faniza berjalan lancar kan?" (Tanya Zahra pada kedua orangtuanya)
"Alhamdulillah lancar, nak. Oyaa, kami semua sudah makan, nak. Jadi maaf ya, kami tidak bisa ikut makan malam bersama kalian" (Jawab ayah Abidzar dengan tatapan yang dingin dan juga wajah yang tak kalah dingin)
"Ada apa dengan abah? apa aku melakukan kesalahan? abah tidak pernah bicara dingin seperti ini padaku ku bukan?" gumam Zahra dalam hati, yang merasa sikap ayahnya itu tidak seperti biasanya. Terlebih, ibunya pun
seperti acuh tak acuh padanya dan semua kakak-kakaknya juga menatapnya dengan tatapan yang sinis dan tidak suka
"Aku dan Zulaikha duluan ya abah, mi" (Ucap Aziz pada kedua orangtuanya)
"Ummi.. abi mau tidur dengan ummi dan abi" (Seru Abimanyu sembari menyusul kedua orangtuanya yang sudah berjalan menuju kamar mereka)
"Eiiittt kamu itu, kita kan sudah besar. Ayo tidur bersama kakak" (Ucap Mufid sambil menarik kerah baju adiknya, dan berjalan menuju ke arah kamar tidurnya dan juga Abimanyu. Hal itu membuat Zahra yang tadinya merasa sesak karena perubahan sikap keluarganya pun, menjadi sedikit terhibur dengan kelakuan kedua anak kakak tertuanya itu)
"Ekhhemm" (Dehem ayah Abidzar, yang membuat Zahra langsung melihat ke arah ayah nya)
"Kami duluan Nak, Zan" (Ucap ayah Abidzar sambil menggandeng tangan ummi Marwah ke dalam kamar dan disusul oleh Hafidz serta isterinya, juga Fatimah yang menuju ke kamarnya masing-masing itu)
__ADS_1
"Iya abahh, ummi" (Balas Izzan yang memasang senyum manis)
"sayang, apa kamu tidak merasa ada yang aneh dengan keluargaku?" (Tanya Zahra pada Izzan yang kini hanya mereka berdua lah yang berada diruang tengah)
"Aku tidak merasa ada yang aneh atau berubah pada keluarga kita sayang" (Jawab Izzan yang membuat Zahra semakin berpikir keras bahwa, hal apakah yang membuat sikap keluarganya itu berubah)
"Hahaha, lumayan juga acting abah. Mertuaku itu memang benar-benar the besstt" gumam Izzan dalam hati, sambil melirik ke arah Zahra yang sedang menatap punggung keluarganya yang menghilang dari pandangannya satu persatu
"Sudahlah sayang.. ayo kita tidur, besok kita tanyakan saja pads abah dan ummi juga yang lainnya" (Ucap Izzan sembari mengelus pundak isteri nya, yang hanya dibalas satu kali anggukan kepala dari Zahra)
Ketika baru saja sampai di dalam kamar, Zahra menarik tangan Izzan hingga tubuh kekar suaminya itu hampir menindih nya. Namun dengan cepat, Izzan menahan tubuhnya dengan kedua tangannya diletakkan disisi kanan dan kiri tubuh mungil isteri nya.
"Ada apa sayang? heemm?" (Tanya Izzan bernada lembut, sembari mengelus pipi mulus Zahra)
"Apa kamu yakin, kalau tidak terjadi apa-apa pada keluargaku?" (Tanya Zahra balik, yang membuat Izzan menghela nafasnya panjang lalu ikut menidurkan tubuhnya diatas ranjang)
"Mungkin abah, ummi, kak aziz, kak hafidz, dan yang lain hanya sedang lelah sayang. Bayangkan saja, pasti pesta pernikahan sepupumu itu sangat ramai. Dan sudah pastii, keluargamu pun ikut menyambut tamu yang datang bukan?" (Jawab Izzan yang kini sudah menghadap ke samping dan memeluk pinggang Zahra dengan posesif)
"Heemm, aku berharap hanya itu saja penyebabnya" (Ucap Zahra sembari menghadap ke arah Izzan, yang kini mereka berdua sudah saling berhadapan)
Izzan mencium kening Zahra sesaat, yang membuat Zahra menutup matanya sesaat pula
"Ayo tidurlah, hari sudah semakin malam" (Titah Izzan sambil menyibakkan rambut isteri nya di belakang telinga)
Setelah beberapa saat, Izzan sudah bisa mendengar deru nafas sang isteri yang mulai teratur. Yang menandakan bahwa Zahra sudah memasuki alam mimpinya, dan dengan perlahan Izzan menyelimuti tubuh Zahra. Lalu, perlahan-lahan dia mulai menurunkan kedua kakinya dari ranjang dan dengan perlahan dia melangkah keluar dari dalam kamar
"Shuuutt, heyy.. shhuutt" (Ucap seorang lelaki yang melihat Izzan mengendap-endap menutup pintu kamarnya dan Zahra)
"Apakah dia sudah tidur?" (Tanya lelaki itu)
"Sudah kak. Ayo" (Jawab Izzan sambil merangkul pundak lelaki yang dipanggilnya kakak, yang tidak lain adalah Aziz)
"Abah, ummi, kak" (Sapa Izzan yang baru saja berada diruang keluarga)
"Jadi bagaimana, nak?" (Tanya ayah Abidzar pada Izzan yang baru saja duduk disofa)
__ADS_1
"Aku rasa rencana kita berhasil, bah. Karena tadi isteri ku sudah mulai ter kelabui. Jadi aku minta pada abah, ummi, dan semua yang ada disini untuk tidak menggubris semua pertanyaan atau apapun yang dilakukan oleh Zahra. Aku ingin kejutanku ini berhasil dan tidak terlupakan olehnya" (Jawab Izzan dengan mantap)
"Apa kamu yakin rencanamu ini akan berhasil, dik?" (Tanya Aisyah yang merasa takut jikalau Zahra akan marah, karena merasa di kerjai oleh suami dan juga keluarganya)
"Aku sangat yakin, kak. Dan kakak tidak usah takut, Zahra tidak akan marah" (Jawab Izzan yang sangat yakin dengan rencananya ini)
FLASHBACK ON✨
"Hallo, bro. Wahh rival lo udah deket nih" (Ucap Lesso, salah satu sahabat SMA Izzan diseberang sana)
"Rival apaan sih lo Sso, baru juga gue angkat udah ngomong rival an aja lo" (Tukas Izzan bernada ketus)
"Lohh lo belum tau, Zan? si Arya, mantan Ketos diSMA kita dulu. Dengar-dengar dia bakal KKN di sekolah kita. Bini lo lusa Ujian Sekolah kan? saran gue sih, mending lo jagain deh bini lo tuh. Jangan sampe Arya berhasil ngegoda bini lo. Mana anak-anak sekolah ga ada yang tau lagi, kalo Zahra itu bini lo. Kalo pun tau, cuma gue dan Zean doang" (Ucap Lesso menjelaskan, hal itu langsung saja membuat Izzan menutup laptop nya dan berdiri menghadap langit dari jendela kaca rumah milik ayah Abidzar)
"Bro, lo denger gue kan?" (Tanya Lesso yang merasa perkataannya tadi tidak direspon oleh Izzan)
"Heemm, gue dengar. Dan lo tenang aja, gue udah nyusun rencana soal ini" (Jawab Izzan dengan nada yang terdengar dingin)
"Oke, kita ngobrol lain waktu lagi. Gue harus meeting sebentar lagi" (Ucap Lesso)
"Hemm" (Balas Izzan yang langsung menutup sambungan telepon)
Setelah mematikan sambungan telepon nya dengan Lesso, Izzan langsung menghampiri Aziz yang tengah berada diruangan kerjanya. Dia menyampaikan rencananya untuk memberi Zahra kejutan, dimana ia akan memberi kejutan ulang tahun untuk Zahra dan juga memberi tahu status pernikahannya dengan Zahra itu saat disekolah
"Jadi, aku dan semuanya harus berpura-pura acuh tak acuh pada isteri mu?" (Tanya Aziz pada adik iparnya itu)
"Betul, kak. Dan nanti, aku akan bicarakan rencanaku ini pada papa. Kakak dan yang lain bisa datang ke sekolah pada pukul jam 11 siang. Di jam itu, Zahra sudah selesai Ujian Sekolah dan biasanya dijam itu murid-murid akan melihat nilai ujian dimonitor besar yang diletakkan di lapangan sekolah. Saat itulah aku akan memberikan kejutan padanya" (Jawab Izzan menjelaskan, dan mendapat anggukan kepala beberapa kali oleh Aziz)
"Baiklah, besok pagi kita akan menghadiri pernikahan keponakan ummi. Dan nanti rencanamu ini akan aku bicarakan dengan semuanya. Mungkin ketika kami sudah tiba dirumah setelah menghadiri pesta, kami akan menjalankan actingnya" (Ucap Aziz sembari menatap keluar jendela)
"Terimakasih kak, kakak baik sekali" (Tukas Izzan sambil tersenyum puas)
"Iya sama-sama, sekarang kembalilah ke kamar mu. Bisa-bisa Zahra mencarimu nanti" (Titah Aziz, yang dibalas anggukan oleh Izzan dan berlalu pergi meninggalkan ruang kerja Aziz)
FLASHBACK OFF✨
__ADS_1