Pesona Sang Janda

Pesona Sang Janda
Membujuk Thalia


__ADS_3

Usai sarapan pagi yang diwarnai ulah Moohan hingga membuat Thalia dua kali tersedak itupun berakhir. Nyonya Brenda segera mengejar sang putra yang berjalan menuju ke ruang kerja bersama sang asisten. Wanita paruh baya itu sampai lupa pamitan pada Thalia yang masih duduk di meja makan.


Thalia masih duduk di sana karena biasanya jika mereka berdua makan bersama, mamanya Moohan itu akan mengajak Thalia ngobrol hingga lama. Hanya saja, ada yang berbeda dengan pagi ini. Thalia tidak lagi menolak ketika diajak makan bareng di ruang makan keluarga, di mana di sana ada Moohan, pria yang selama ini dihindari oleh Thalia.


'Ada apa, ya? Apakah yang dikatakan Hendrick tadi, serius adanya? Ah, tidak-tidak! Aku tidak mau berpikir terlalu jauh,' monolog Thalia dalam diam. Ibu dua anak itu mengedikkan bahu dan kemudian segera beranjak untuk melihat sang putra yang sedang bersama Maria.


'Tapi kalau benar, bagaimana ya? Apa ini tidak terlalu cepat?' Thalia bertanya-tanya pada diri sendiri, sambil berjalan menuju ke kamarnya.


Di ruang kerja Moohan, Nyonya Brenda yang menyusul masuk langsung mencecar sang putra. Pertanyaan demi pertanyaan seputar rencana pria tampan itu yang akan segera menikahi Thalia seperti yang didengarnya tadi, dia utarakan dengan rasa penasaran. Sementara Moohan hanya tersenyum mendengar betapa antusiasnya sang mama.


"Hen! Kok malah senyum-senyum!" protes sang mama yang sudah tidak sabar ingin mengetahui kebenarannya.


"Duduk dulu, Ma," pinta Moohan seraya menepuk bangku kosong di sebelahnya.


Zack segera berdiri untuk memberikan jalan pada Nyonya Brenda. Mereka bertiga kini telah duduk di sofa empuk di dalam ruang kerja Moohan yang luas. Ruangan yang di desain ekslusif dengan dominasi warna biru.


"Mama do'akan saja, ya." Moohan lalu menceritakan bahwa Thalia bersedia menikah dengannya asalkan dia mau membantu Thalia untuk membalaskan dendam. Bukan, bukan membalaskan dendam, tetapi lebih tepatnya memberi pelajaran agar orang-orang yang pernah menyakiti Thalia sadar bahwa apa yang telah mereka lakukan adalah sebuah kesalahan.


Nyonya Brenda mengangguk lalu tersenyum. "Dia memang wanita yang baik. Sejak awal bertemu dengan Thalia, mama sudah jatuh hati padanya, Hen," tuturnya seraya menepuk lengan sang putra.


"Lalu, apa rencana kalian?" tanyanya kemudian.


"Semalam, aku nyuruh Zack untuk menghubungi Paman Hilbert, Ma. Aku berencana membeli saham paman di Thompson Group, perusahaan mantan suami Thalia," terang Moohan.


"Jika kamu membutuhkan modal, mama ada simpanan, Hen. Kalau masih kurang, kamu bisa jual aset mama yang di kota kecil itu karena mama rasanya enggan untuk balik ke sana. Pakailah untuk mewujudkan keinginan Thalia. Mama berharap, kalian bisa segera menikah." Nyonya Brenda berkata sungguh-sungguh dan dengan tatapan penuh harap.


Ya, wanita anggun itu telah memutuskan untuk tinggal bersama sang putra dan keluarga kecil Moohan nanti. Nyonya Brenda sangat bahagia ketika Thalia sudah ditemukan dan saat ini ada bersama mereka. Besar harapan Nyonya Brenda, sekiranya sang putra dan Thalia segera terikat dalam ikatan yang suci, yaitu pernikahan.

__ADS_1


Moohan mengangguk. "Baik, Ma. Terima kasih. Nanti jika aku kekurangan modal, aku akan minta pada mama," balas Moohan seraya tersenyum pada sang mama.


"Zack, katakan bagaimana hasilnya," pinta Moohan kemudian seraya menatap sang asisten yang setia mendengarkan pembicaraan sang bos dan sang mama angkat.


"Paman Gilbert setuju dan beliau juga sudah menghubungi rekan-rekan bisnisnya. Sebagian dari mereka juga setuju dan jika saham-saham tersebut digabung, maka total saham yang dapat dimiliki Thalia di Thompson Group empat puluh lima persen. Jika Alexander hanya memiliki empat puluh persen, Itu artinya apa yang kita ...."


"Jadi, saham itu untuk Thalia?" sergah Nyonya Brenda bertanya, sebelum Zack menyelesaikan perkataannya.


"Benar, Ma. Aku ingin, Thalia sendiri yang memberi pelajaran pada mereka. Beruntung jika aku bisa membeli saham lebih banyak dari saham milik Alexander, jadi Thalia yang memiliki wewenang untuk mengambil keputusan," sahut Moohan.


"Apa Thalia setuju?" Wanita paruh baya tersebut menatap sang putra dengan dahi berkerut.


Moohan menggeleng. "Aku memang belum menyampaikan ini padanya, tapi aku yakin Thalia pasti setuju, Ma. Dia tidak akan sendirian karena aku sendiri yang akan mendampinginya. Untuk sementara, Zack yang akan mengurus semua di sini," terangnya.


Nyonya Brenda mengangguk-angguk, setuju dengan rencana sang putra. "Mama ikut jika kalian nanti pindah ke sana," pintanya yang tidak ingin berpisah dengan anak-anak Thalia, cucu kesayangannya.


"Pasti, Ma. Thalia juga mungkin akan menolak jika tidak ada Mama di antara kami. Mama tahu sendiri 'kan, dia selalu menutup diri dariku," balas Moohan, tersenyum kecut.


"Hen, tolong jangan ajak ...." Zack menjeda ucapannya. Pria bermata biru itu lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Jangan ajak siapa, Zack?" tanya Moohan yang tersadar dari lamunan.


"Maria?" Moohan menatap penuh selidik pada sang asisten.


Zack tersenyum. Sementara Nyonya Brenda mengerutkan dahi. Wanita anggun itu memang belum tahu apa-apa mengenai Zack dan Maria yang sudah mulai dekat.


"Apa kamu menyukai Maria?" tanya Nyonya Brenda dan Zack menganggukkan kepala, mengiyakan.

__ADS_1


"Memangnya, kalian sudah jadian? Jangan katakan kalau kamu sudah menyalipku, Zack!" Moohan menyipitkan mata, menatap Asisten Zack yang sekaligus sahabatnya.


"Maaf, Hen. Cinta itu datang tiba-tiba dan kami telah merasa cocok," balas Zack seraya tersenyum bahagia. Sinar mata asisten pribadi Moohan tersebut berbinar, menunjukkan perasaannya yang tengah berbunga-bunga saat ini.


Moohan yang merasa kalah set, berdecak kesal lalu membuang muka ke arah lain. Sementara Nyonya Brenda tersenyum senang. Wanita bersahaja itu turut bahagia karena sang putra angkat yang selama ini setia mendampingi Moohan telah menemukan tambatan hati.


"Selamat, Zack. Mama turut bahagia mendengar kabar baik ini," tuturnya, tulus. "Jika memang kalian sudah sama-sama cocok, sebaiknya kalian segera menikah sebelum kami tinggal pergi. Mama tidak mau kalau kalian sampai kebablasan seperti pergaulan Moohan selama ini," pintanya, seraya melirik sang putra.


"Ma, itu 'kan sudah berlalu, Ma," protes Moohan. "Aku sudah sadar sekarang kalau apa yang aku lakukan dulu, adalah sebuah kesalahan," lanjutnya.


"Iya, Nak. Mama tahu itu dan mama sangat bersyukur mendengar bahwa kamu sudah tidak lagi bermain dengan banyak wanita," tutur Nyonya Brenda seraya mengusap punggung kokoh sang putra.


"Ma, yang tadi itu aku tidak setuju dengan usul Mama," ujar Moohan, membuat sang mama mengerutkan dahi.


"Pernikahan Zack dan Maria dipercepat. Aku tidak setuju itu!" Moohan menatap tajam sang asisten.


"Di mana-mana, bos dulu yang menikah. Setelah itu, baru asistennya menyusul," lanjut Moohan, keki.


Nyonya Brenda dan Zack saling pandang lalu terkekeh bersama. Mereka berdua paham betul, memang Moohan dari dulu tidak mau menjadi yang nomor dua. Dia maunya menjadi yang pertama.


"Iya-iya. Nanti mama bantu membujuk Thalia agar kalian bisa menikah secepatnya," pungkas sang mama di sela tawa kecilnya.


☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.


Guys,,, maaf, ye, up nya telat 😊🙏


Ada yang minta di lem biru, si ponsel ngadat 🤦‍♀️

__ADS_1


Mau lanjut nulis pakai lepi, lupa pasword 😄


Mksh masih setia menanti 🥰😘


__ADS_2