
Satu per satu orang-orang penting di perusahaan Thompson Group itu meninggalkan ruang meeting. Termasuk Nyonya Grace dan Sarah yang sudah muak melihat kemesraan Moohan terhadap Thalia. Namun, tidak dengan Alexander yang mencari kesempatan untuk mendekati gadis kecil yang saat ini sedang berjalan tertatih dengan diawasi oleh Maria.
"Aletha, Sayang," panggil Alexander ketika gadis kecil itu berjalan tidak jauh dari tempatnya duduk. Mantan suami Thalia itu lalu mendekati Aletha yang diakui sebagai putrinya.
"Aletha. Ayo, ikut sama daddy!" Alexander bermaksud menggendong gadis berpipi chabi tersebut, tetapi Princess malah menangis.
Thalia yang sedang asyik bercengkrama dengan sang suami dan salah seorang petinggi perusahaan yang masih berada di ruangan tersebut, menoleh. Dia segera beranjak lalu mendekati Princess yang masih menangis dalam gendongan Maria. Thalia mengulurkan tangan, mengambil alih sang putri dari kekasih Zack.
"Kenapa menangis, Sayang?" tanya Thalia seraya mengusap air mata sang putri.
Princess menunjuk ke arah Alexander yang berdiri salah tingkah, tidak jauh dari Thalia. Pria itu mengusap tengkuknya yang tidak gatal ketika mengerti bahwa gadis kecil itu mengadu pada sang mommy. Thalia lalu mendekati Alexander.
"Maaf. Aku hanya ingin menggendong Aletha," ujar Alexander, kelu.
"Princess, Uncle. Namanya Princess. Coba sapa dia dengan nama itu, dia pasti tidak akan menangis," terang Thalia seraya tersenyum.
Tidak ada aura dan tatapan kebencian dari wajah dan netra indah Thalia pada sang mantan suami. Semua nampak biasa saja. Moohan yang memperhatikan dari tempatnya duduk, tersenyum dikulum melihat ketenangan sang istri.
"Princess? Kenapa kamu mengganti namanya, Thalia? Dan tadi, apa tadi kamu menyebutku? Uncle?" Dahi Alexander berkerut dalam.
"Iya. Kenapa Tuan Alexander? Apa ada yang salah? Dia putriku dan Hendrick Moohan, jadi aku bebas memberinya nama, bukan?" tanya Thalia seraya tersenyum penuh kemenangan.
"Putri Hendrick Moohan? Lelucon apalagi yang kamu katakan, Thalia? Dia anakku, kan? Dan kamu mengajari dia untuk memanggil aku uncle! Kamu juga seenaknya merubah nama yang telah kita siapkan!" Pria berahang tegas itu nampak tersulut emosi.
__ADS_1
Melihat kemarahan pria di hadapan dan suaranya yang mulai meninggi, Thalia lalu memberikan sang putri yang sudah tenang kepada Maria. Thalia tidak mau putrinya mendengar perdebatan yang tidak penting. Sebisa mungkin dia menjaga agar sang putri tidak mendengar suara orang yang berbicara dengan intonasi tinggi, apalagi marah-marah tidak jelas.
"Tuan Alexander Thompson yang terhormat. Apa Anda sudah lupa dengan apa yang Anda katakan sewaktu kita bertemu di depan rumah sakit di kota sebelah?" Thalia menautkan kedua alisnya.
"Saya ini hanyalah seorang ja*lang, begitu bukan yang Anda katakan? Dan dia, Anda tidak mau mengakuinya." Thalia menunjuk sang putri yang kini sudah beralih ke dalam dekapan Maria.
Alexander menelan saliva dengan susah payah. Kini, penyesalan menyelimuti hatinya. Namun, semua sudah terlambat. Thalia nampak sudah sangat bahagia dengan suami yang lebih segala-galanya dari dirinya.
"Tapi Hendrick, dia mau mengakui dan memberikan namanya di belakang nama anakku. Princess Aurora Moohan." Thalia lalu menoleh ke arah sang suami dan tersenyum manis pada suaminya yang senantiasa menatap Thalia penuh cinta. Hati Alexander terbakar karenanya.
Alexander menghela napas berat. "Aku tahu aku bersalah padamu, Thalia. Maafkan aku dan tolong beri aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku," pintanya seraya menatap Thalia penuh harap.
"Aletha tetap anakku meskipun kamu mengganti namanya dan pria itu memberikan nama belakangnya di belakang nama putriku. Kuharap, kamu tidak keberatan jika aku mendekati putriku sendiri," pinta Alexander tanpa rasa malu.
"Maaf, Tuan Alexander. Saya keberatan untuk saat ini!" Moohan yang kemudian ikut mendekat setelah melihat aura keseriusan dalam percakapan sang istri dan mantan suami Thalia itu, ikut membuka suara.
"Ini bukan urusan Anda, Tuan Hendrick?" Alexander menatap sinis pada suami Thalia.
"Tentu saja ini adalah urusan saya karena Thalia adalah istri saya dan Princess putri saya!" tegas Moohan, menatap tajam pria di hadapan yang memiliki postur tubuh sama dengannya.
"Tapi saya ayah kandungnya! Saya lebih berhak atas Aletha dari pada Anda, Tuan Hendrick!" ujar Alexander yang kembali meninggikan suara.
Moohan tertawa mendengar perkataan Alexander barusan. "Ayah kandung Anda bilang?" Suami Thalia itu lalu menelisik pria di hadapannya.
__ADS_1
"Jika memang Anda ayah kandung Princess, Anda tidak akan membiarkan wanita yang mengandung putri Anda hidup menderita di luar sana." Moohan mengatakan seraya memeluk erat pinggang sang istri dan ekor matanya melirik ke arah Thalia.
"Maafkan aku, Honey, karena aku sempat menambah penderitaanmu," bisik Moohan penuh penyesalan. Pria itu lalu mengecup puncak kepala Thalia dengan penuh rasa sayang. Dia sama sekali tidak mempedulikan Alexander yang mengeras rahangnya melihat pemandangan yang menyesakkan dada.
"Semua yang terjadi pada Thalia di luar kuasaku karena saat itu aku mengalami koma," balas Alexander membela diri.
"Dan setelah sadar, apa yang Anda lakukan, Tuan Alexander Thompson? Apa Anda mencari wanita yang mengandung anak Anda itu?" Pertanyaan Moohan membuat Alexander semakin tersudut karena memang benar adanya, dia sama sekali tidak mencoba mencari Thalia bahkan dia juga percaya begitu saja hasutan dan fitnahan dari sang mama dan adik semata wayangnya.
Alexander menunduk lesu. Pria yang memiliki tatapan tajam itu kemudian segera bergegas hendak keluar. Dia ingin meninggalkan ruangan yang tiba-tiba terasa sempit dan membuat dadanya terasa sesak jika masih berada di dalamnya.
"Jangan khawatir, Tuan Alexander. Jika sudah tiba saatnya nanti, saya pasti akan mengatakan kebenaran pada Princess tentang siapa ayah kandungnya! Saya juga janji, tidak akan menanamkan kebencian pada diri Princess terhadap Anda!" seru Moohan dengan bijak, sebelum Alexander meninggalkan ruang meeting yang menjadi tempat bersejarah pertemuan di antara mereka berempat.
Mendengar perkataan sang suami, Thalia tersenyum bangga. Dia lalu menyandarkan kepala dengan manja di bahu kokoh sang suami. "Terima kasih, Daddy. Kamu memang suami dan ayah yang terbaik. Aku sangat bahagia menjadi istrimu," ujar Thalia yang dapat di dengar oleh Alexander yang menghentikan langkah begitu mendengar Moohan menyampaikan niat baiknya.
Dalam hati, mantan suami Thalia itu mengakui kebaikan Moohan. "Terima kasih," ujar Alexander seraya mencoba untuk tersenyum meskipun hatinya remuk redam memendam kecemburuan karena kemesraan Moohan terhadap wanita yang dulu dia sayang-sayang.
Alexander segera melanjutkan langkah, meninggalkan ruangan meeting yang tidak pernah akan dia lupakan. 'Aku yang salah. Harusnya, aku tidak percaya begitu saja dengan hasutan dan fitnahan mama terhadap Thalia. Harusnya, aku percaya dengan perkataan John kala itu dan mencari Thalia. Semua ini salah mama! Mama yang dari awal tidak setuju dan selalu ingin memisahkan kami,"
monolognya dalam diam seraya terus berjalan keluar dari gedung perkantoran Thompson Group.
Alexander sampai tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang terus mengawasi gerak-geriknya semenjak keluar dari ruang meeting.
☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.
__ADS_1