Pesona Sang Janda

Pesona Sang Janda
Bertemu dengan Aletha


__ADS_3

Sejenak, keheningan tercipta di ruang keluarga yang luas tersebut. Nyonya Grace nampak menahan kemarahan. Sementara Sarah, membuang muka ke arah lain.


Alexander lalu mendekati wanita paruh baya yang kini duduk di atas kursi roda. Wanita yang dulu dia sangka adalah mama kandungnya. Baru-baru ini pria tersebut mengetahui bahwa wanita yang selama ini dia panggil mama, ternyata adalah mama tirinya.


Meskipun demikian, Alexander tetap menghormati Nyonya Grace. Karena bagaimana pun, wanita paruh baya itu yang telah merawatnya semenjak masih bayi. Nyonya Grace juga menyayanginya, itu sejauh yang Alexander ketahui.


"Ma. Kenapa kami tidak boleh berpisah, Ma?" tanya Alexander dengan tatapan menyelidik. "Aku tidak masalah, Ma, berpisah dengan Sarah. Toh, wanita pilihan Mama itu sendiri yang meminta pisah," lanjutnya.


Nyonya Grace terdiam. Dia nampak mengerutkan dahi dengan dalam. Berpikir apa yang harus dia katakan pada Alexander karena tidak mungkin Nyonya Grace berkata yang sebenarnya.


Wanita paruh baya itu ingin menyembunyikan selamanya identitas Sarah. Dia tidak mau kalau Alexander sampai mengetahui bahwa Sarah adalah anak kandungnya. Anak dari hasil perselingkuhan Nyonya Grace dengan Antony.


Antony adalah salah satu pengusaha di kota sebelah, tetapi perusahaan Antony adalah perusahaan kecil. Tidak selevel dengan perusahaan Moohan yang merupakan perusahaan terbesar di kotanya. Setelah Antony sakit, perusahaan miliknya mulai kolaps karena tidak ada penerusnya yang mampu menjalankan. Lalu perusahaan itu jatuh pailit setelah papanya Sarah itu meninggal dunia.

__ADS_1


"Dia pasti hanya sedang emosi saja, Ale. Beri dia waktu untuk menenangkan diri. Mama akan bantu untuk membujuknya," tutur Nyonya Grace kemudian.


Sarah mendengkus mendengar perkataan sang mama mertua. Wanita itu pun tidak tahu jika Nyonya Grace adalah mama kandungnya. Sarah hanya mengetahui dari sang papa bahwa mama mertuanya itu adalah sahabat baik almarhum sang papan


.


"Sarah, tunggu, Nak," cegah Nyonya Grace ketika melihat wanita yang memiliki tubuh tinggi semampai itu hendak berlalu dari ruangan tersebut.


"Tolong, bawa mama ke kamar kamu, Nak. Mama mau bicara," lanjut Nyonya Grace meskipun Sarah tidak menoleh ke arahnya.


Istri Alexander itu seolah jijik pada sang mama mertua. Apalagi, beberapa kali Sarah melihat Nyonya Grace sedang berkencan dengan sopir pribadinya. Hal itu semakin memperburuk citra Nyonya Grace di mata Sarah.


"Bicara saja di sini, Ma. Aku akan mendengarkan," tolak Sarah yang tidak ingin berbincang berdua dengan Nyonya Grace di dalam kamar mewahnya.

__ADS_1


"Nak. Ini pembicaraan yang bersifat pribadi. Hanya antara kita, sesama wanita," bujuk Nyonya Grace.


"Kalau begitu, aku akan keluar dan silakan jika kalian mau mengobrol." Alexander yang cukup mengerti akan keinginan sang mama akhirnya memutuskan untuk keluar.


Alexander ingin menghirup udara segar di luar sana. Hati dan pikirannya sedang panas saat ini dan dia tidak mau membuat hatinya semakin panas jika terlibat lebih jauh tentang urusan pribadi kedua wanita tersebut. Dua wanita yang dengan mudah menjalin hubungan dengan pria tanpa terikat pernikahan.


Mantan suami Thalia itu melajukan mobil mewahnya, menjauh dari mansion. Tanpa dia sadari, mobil itu melaju menuju bangunan bertingkat tinggi di mana keluarga kecil Thalia tinggal. Ya, Alexander tiba-tiba saja kepikiran dengan sang putri dan ingin bermain dengan gadis kecil yang selalu hadir dalam mimpinya.


Mobil itu terus melaju dengan kecepatan tinggi. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, pria itu memarkirkan mobil di tempat yang tersedia.


Alexander segera turun lalu bergegas memasuki lobi dan terus menuju lift. "Semoga mereka mengizinkan aku untuk bertemu dengan Aletha," gumamnya penuh harap.


☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.

__ADS_1


__ADS_2