
Mobil pribadi Nyonya Grace yang dikemudikan oleh Pak Ben, tiba di rumah sakit. Alexander melupakan sejenak keingintahuannya dengan hubungan antara sopir itu dan sang mama. Pria yang wajahnya nampak kusut tersebut segera turun lalu memanggil petugas kesehatan.
Tubuh Nyonya Grace yang tidak berdaya dipindahkan ke atas brankar lalu segera dibawa ke ruang IGD. Alexander yang tidak diijinkan masuk, menanti dengan gelisah di depan pintu ruangan yang bercat putih bersih tersebut. Begitu pula dengan Pak Ben, sopir pribadi Nyonya Grace itu juga nampak sangat khawatir, layaknya sang suami yang tengah mengkhawatirkan keadaan sang istri.
Pak Ben berjalan mondar-mandir, mengelilingi ruang tunggu di depan IGD. Apa yang dilakukan Pak Ben mengundang perhatian Alexander dan pria itu teringat kembali pertanyaannya yang belum dijawab oleh sopir paruh baya yang masih terlihat sisa ketampanannya. Putra sulung Nyonya Grace itu lalu mendekati Pak Ben.
"Duduklah, Pak. Pak Ben harus memberikan penjelasan pada saya," titah Alexander seraya menepuk bangku kosong di sampingnya.
Sopir berhidung mancung khas pria timur tengah itu mengangguk, patuh. Dia kemudian mendudukkan diri di samping Alexander. Pak Ben sama sekali tidak berani menatap sang tuan muda yang merupakan putra dari kekasihnya.
"Pak Ben masih ingat 'kan, dengan pertanyaan saya tadi?" tanya Alexander dengan tatapan mengintimidasi, membuat Pak Ben semakin tidak memiliki nyali.
Pria paruh baya tersebut teringat dengan ancaman Nyonya Grace kala itu, "Ben, jangan sampai kamu buka suara tentang hubungan kita. Kalau sampai anak-anakku tahu, maka aku akan memecatmu sebagai kekasih dan sopir pribadiku!"
"Bagaimana dengan Thalia, Grace? Dia tadi melihat sewaktu aku masuk ke kamar ini?" tanya Pak Ben, nampak sangat khawatir.
"Biar Thalia menjadi urusanku, Beniqno. Kamu jangan khawatir. Sangat mudah bagiku untuk menyingkirkan wanita itu dari sisi putraku," balas Nyonya Grace, membuat pria yang wajahnya ditumbuhi bulu-bulu kasar itu merasa tenang.
Nyonya Grace lalu meminta Pak Ben untuk segera naik ke ranjang dan masuk ke dalam selimutnya. Pria yang sudah lama menduda itu tentu menyambut baik keinginan sang kekasih. Cepat, Pak Ben melucuti pakaiannya satu per satu tanpa sisa dan segera masuk ke dalam selimut halus yang menutupi tubuh polos wanita yang menjadi pemuas nafsunya selama beberapa tahun terakhir.
Ya, mereka berdua menjalani hubungan gelap sudah sangat lama. Keduanya bermain sangat rapi. Nyonya Grace akan mengundang Pak Ben untuk masuk ke dalam kamarnya jika mansion sedang sepi tatkala kedua anaknya sudah berangkat beraktifitas dan para pelayan sibuk di belakang.
Tidak jarang, mereka main di hotel milik Thompson Group, di kamar privat Nyonya Grace. Selama itu pula, hubungan keduanya aman terkendali. Satu-satunya saksi mata yang curiga setelah melihat Pak Ben masuk ke dalam kamar Nyonya Grace, juga telah berhasil disingkirkan dari mansion.
"Pak Ben, jawab pertanyaan saya!" Suara Alexander yang menggelegar, mengurai lamunan sopir pribadi Nyonya Grace.
__ADS_1
"I-iya, Tuan Muda," jawab Pak Ben, gugup. "Di antara kami berdua memang ada hubungan," lanjutnya sembari menunduk, takut.
Pak Ben takut jika sang kekasih sadar nanti mengetahui bahwa dia telah membuka rahasianya dan berakhir dengan hubungan mereka berdua dalam. Pria paruh baya itu pun takut jika Alexander memecatnya saat ini juga. Sementara Pak Ben masih ingin berada di sisi Nyonya Grace dan merawat kekasihnya itu.
Benar saja ketakutan Pak Ben. Mendengar jawabannya, sang tuan muda langsung naik pitam. "Hubungan seperti apa, Pak?" cecar Alexander dengan tatapannya yang mematikan.
"Maaf, Tuan Muda. Saya dan Nyonya saling suka dan kami sudah lama menjalin hubungan ini," jawab Pak Ben, memberanikan diri menatap Alexander Thompson yang wajahnya semakin kusut.
Alexander menyugar kasar rambutnya. Dia teringat dengan setiap hinaan sang mama pada Thalia. Alexander memejamkan mata, kemudian.
"Thalia itu hanya seorang ja*lang, Ale! Buat apa kamu ratapi kepergiannya! Dia pergi bersama pria yang sederajat dengannya, pria dari kalangan sudra!" Sang mama nampak geram pada Alexander yang bersedih ketika baru sadar dari komanya dan mengetahui Thalia meninggalkan mansion.
"Tidak, Ma. Thalia bukan wanita seperti itu," sanggah Alexander.
"Asal Kakak tahu, ya. Thalia itu sering main dengan teman-temannya yang sesama kaum miskin ketika Kakak sibuk bekerja di kantor. Dia itu murahan, Kak!" sahut Jean, mencoba meyakinkan kakaknya.
Alexander menghela napas panjang. Mencoba mengusir jauh perkataan sang mama yang menjelekkan Thalia, yang terus terngiang-ngiang di telinga. 'Ternyata apa yang mama katakan kala itu, hanya untuk menutupi kebusukan mama sendiri.'
Alexander lalu kembali menatap Pak Ben. "Sejauh apa hubungan Pak Ben dengan mama? Apakah selayaknya hubungan suami istri?"
Pak Ben mengangguk, membuat dada Alexander terasa semakin sesak. Bertubi-tubi kenyataan pahit yang dia dapatkan hari ini. Itu semua membuat kepalanya terasa berdenyut dan serasa mau pecah.
Alexander menjambak rambutnya sendiri dengan kuat. Mencoba mengusir rasa pusing yang bertahta di kepalanya. Dia bahkan berulangkali membenturkan kepala bagian belakang ke sandaran kursi, berharap dia tersadar dan semua ini hanyalah mimpi buruk di malam Halloween.
Pak Ben merasa sangat bersalah melihat sang tuan muda berbuat seperti itu. Pria paruh baya tersebut lalu beranjak. "Tuan Muda, maafkan saya. Saya tidak bermaksud mempermalukan keluarga besar Thompson. Saya sadar sepenuhnya siapa diri saya," ujar Pak Ben.
__ADS_1
Alexander membuka mata lalu menegakkan punggungnya. "Itu bukan kesalahan Pak Ben semata," ujarnya mencoba untuk bersikap bijak.
Pak Ben menganggukkan kepala. "Saya awalnya juga tidak berani, Tuan, tapi nyonya besar terus memaksa dan merayu saya. Akhirnya, saya khilaf juga, Tuan, karena Nyonya Grace menyodorkan diri dengan masuk ke kamar saya," terangnya, membuat kepala Alexander kembali berdenyut.
'Seja*lang itukah, mamaku?' Alexander larut dalam kesedihan. Sementara Pak Ben larut dalam kenangan di masa pertama kali dia bercinta dengan sang nyonya.
"Nyonya, kenapa Nyonya kemari? Nyonya 'kan bisa menelepon saya jika ingin pergi?" tanya Pak Ben yang baru saja keluar dari kamar mandi dan mendapati sang nyonya besar sudah berada di dalam kamarnya.
"Tidak, Ben. Aku tidak mau kemana-mana," balas Nyonya Grace seraya menatap tubuh berotot Pak Ben yang hanya dibalut handuk sebatas pinggang.
Dada berbulu Pak Ben, serta perutnya yang rata karena pria paruh baya itu rajin berolahraga membuat Nyonya Grace menelan air liurnya sendiri. Wanita yang senang berpenampilan glamor itu menggigit bibir bawahnya. Dia lalu mendekati Pak Ben yang masih berdiri seperti semula.
Nyonya Grace meraba dada bidang sang sopir lalu memainkan bulatan coklat di sana. Pak Ben masih terdiam dan belum berani merespon. Nyonya Grace tersenyum lalu bertanya, "Ben, tidakkah kamu merasa kesepian? Tidakkah kamu menginginkan kehangatan dari seorang wanita?"
Nyonya Grace bertanya sambil meraba dada dan terus turun menuju perut kotak-kotak milik Pak Ben. Tidak berhenti di sana, tangan Nyonya Grace mulai berani masuk ke dalam handuk lalu meremas dengan lembut junior Pak Ben yang ternyata sudah mengeras. Wanita paruh baya itu tersenyum kemudian.
"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku, Ben? Jika kamu tidak kesepian dan tidak menginginkan kehangatan, kenapa milikmu sudah mengeras sebesar ini, Ben?" desak Nyonya Grace yang langsung melepaskan handuk Pak Ben dan pria itu tidak sempat untuk mencegahnya.
Miliknya yang disentuh tangan lembut serta diremas sedemikian rupa, membuat Pak Ben menelan saliva. "Saya takut, Nyonya. Saya khawatir jika dianggap melecehkan Anda," balasnya, jujur.
Mendengar jawaban Pak Ben dan merasakan betapa tegangnya milik pria yang sudah lama diidamkannya itu, Nyonya Grace tidak mau membuang waktu. Wanita tersebut segera melepaskan gaunnya dan kemudian menuntun Pak Ben menuju ranjang. "Kamu tidak melecehkan aku, Ben. Akulah yang menginginkanmu. Ayolah, Ben, kita bersenang-senang dan melepaskan kerinduan akan nikmatnya percintaan."
Suara suster yang memanggil keluarga Thompson, mengurai lamunan Alexander dan Pak Ben. Kedua pria berbeda usia itu segera mendekat. "Bagaimana kondisi mama saya, Sus?"
"Maaf, Tuan. Nyonya Grace saat ini mengalami stroke dan tidak dapat menggerakkan sebagian besar tubuhnya yang bagian dada ke bawah."
__ADS_1
☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.