Pesona Sang Janda

Pesona Sang Janda
Lagi Nanggung


__ADS_3

Moohan tidak mempedulikan dering ponselnya. Dia terus memompa meskipun suara ponsel itu terus memanggil, meminta untuk diangkat. Thalia yang tidak tahan mendengar suara nyaring ponsel milik suaminya yang terdengar berisik lalu berkata, "angkat dulu, Hubby. Siapa tahu penting, kan?"


Enggan, Moohan melepaskan penyatuan yang sudah hampir mencapai puncak. Dengan menggerutu, dia beringsut lalu turun dari pembaringan dan meraih benda pipih dengan logo buah bekas gigitan serangga. "Nomornya tidak tersimpan di memori ponselku, Honey," ujar Moohan dengan dahi berkerut dalam.


"Aku abaikan saja, ya," lanjutnya, setelah menolak panggilan tersebut dan kembali mendekat ke ranjang. Baru saja ditolak, ponsel Moohan kembali berdering.


"Angkat saja, Hubby. Kalau tidak diterima, Hubby tidak akan tahu siapa yang menelepon," saran Thalia yang kini sudah mendudukkan diri dengan bersandar pada head board ranjang dan menyelimuti tubuh polosnya hingga sebatas dada.


Mau tidak mau, Moohan mengikuti saran sang istri. Dia geser tombol gambar telepon berwarna hijau untuk menerima panggilan. Moohan lalu mengaktifkan mode load speaker agar sang istri ikut mendengar suara si penelepon.


"Halo, Sayang. Kenapa tadi di-reject?" protes seorang wanita di ujung telepon yang suaranya sangat familiar di telinga Moohan.


"Sarah?" Dahi Moohan semakin berkerut dalam setelah mengetahui bahwa si penelepon adalah mantan teman kencannya.


"Iya, Hendrick, ini aku. Sengaja aku pakai nomor baru karena aku tahu, kamu tidak akan menerima teleponku jika aku menggunakan nomor ponselku yang lama," terang Sarah dengan sejujurnya.


Moohan menghela napas panjang lalu menatap ke arah sang istri. "Apa maumu, Sarah?" tanya Moohan yang langsung pada intinya. Dia malas berbasa-basi dengan orang yang keberadaannya tidak lagi dianggap penting.


Sejujurnya, Moohan sudah ingin mengakhiri sambungan telepon begitu mengetahui bahwa Sarah yang menghubungi. Namun, dia urungkan karena tidak mau sang istri malah jadi curiga jika panggilan itu langsung dia akhiri. Moohan merasa kesal dengan adanya telepon dari Sarah, apalagi wanita itu sudah mengganggu waktu kebersamaannya dengan sang istri di malam hari.


"Sayang, kenapa sekarang kamu jadi ketus seperti ini?" protes Sarah bertanya. "Aku hanya ingin mengingatkanmu, Sayang, kalau nomor ponselku masih yang lama dan aku siap jika kamu menginginkan aku kapanpun," lanjutnya dengan suara yang mendayu, merayu.


"Sarah, aku bukan Hendrick yang dulu! Salah besar jika kamu masih mengharapkan panggilan dariku seperti di masa lalu!" sergah Moohan.


"Jangan munafik, Hendrick Sayang. Ayolah, aku tahu siapa kamu. Kamu tidak akan pernah puas hanya dengan satu wanita saja. Aku bahkan tahu dalam semalam kamu bisa berganti banyak wanita, bukan?"

__ADS_1


Suara Sarah yang mengingatkan akan kebejatan Moohan di masa silam, membuat pria itu semakin geram. Baru saja beberapa hari dia merasakan kenyamanan, setelah hubungan Thalia dengan Alexander mencair dan mereka bertiga kemudian berteman. Kini, Sarah muncul yang mungkin saja akan membawa masalah baru bagi keluarga kecilnya.


Moohan bertekad tidak akan membiarkan hal itu terjadi dan sebelum Sarah semakin jauh berceloteh, dia langsung menggertak Sarah. "Apakah Alexander Thompson telah menendangmu dari mansionnya hingga kamu mencari mangsa lain, Sarah?"


"Jaga bicaramu, Hendrick! Alexander tidak akan pernah menendangku karena aku bukan mantan istrinya yang ja*lang itu!" teriak Sarah dari ujung telepon. Wanita itu sepertinya sangat marah karena Moohan mengejeknya.


"Benarkah? Mungkin saat ini belum, Sarah. Tunggulah saat itu tiba," balas Moohan santai lalu terkekeh kecil, membuat Sarah semakin keki.


Sementara Thalia nampak tidak peduli mendengar sindiran Sarah terhadap dirinya. Istri Moohan itu malah asyik memainkan jemari di dada bidang suaminya. Moohan lalu mengecup sekilas bibir Thalia.


"Alexander Thompson pasti akan mengusir seorang wanita yang dinikahi karena dia kira adalah wanita terhormat, tapi teryata wanita itu tidak ada bedanya dengan ja*lang!" lanjut Moohan yang membuat Sarah langsung mengakhiri panggilan secara sepihak.


Moohan mengedikkan bahu lalu melempar ponselnya dengan asal ke atas sofa. Pria itu lalu mencumbui sang istri kembali. Melanjutkan hasrat yang sempat terjeda karena panggilan masuk yang tidak penting dari mantan teman kencannya.


"Love you, Honey. Tidak ada satupun wanita yang mampu menggetarkan hatiku selain kamu," bisik Moohan setelah menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri.


Thalia menautkan kedua alisnya, seolah tidak percaya ucapan sang suami barusan.


"Aku berkata yang sejujurnya, Sayang. Meskipun di masa lalu aku adalah petualang dan pecinta banyak wanita, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang mampu membuatku merasakan jatuh cinta. Setiap berdekatan denganmu, detak jantungku semakin cepat dan aliran darahku terasa hangat. Dan setiap kali berhubungan badan seperti barusan, keindahan dunia seakan dapat aku genggam. Kamu istimewa, Thalia." Moohan lalu melabuhkan ciuman yang dalam di kening istrinya.


Thalia tersenyum mendengar rayuan Moohan barusan. "Selain pandai bercinta, kamu pandai merayu juga rupanya, Hubby. Pantas saja banyak wanita yang mau menjadi teman kencanmu," ujarnya.


Moohan menggeleng. "Aku tidak pernah melontarkan kata-kata manis setiap kali berhubungan dengan mereka, Honey. Hanya sebatas kata rayuan standar dan tidak ada yang istimewa karena memang mereka tidak istimewa.


"Really?" Thalia menggoda dengan mengangkat kedua alisnya.

__ADS_1


"Apa kamu ingin aku kembali menaiki tubuhmu, Honey? Kenapa kamu menggodaku seperti itu?" Moohan beringsut siap untuk melakukan pendakian kembali.


Thalia segera mencegah dengan kibasan tangan. "No, Daddy! Aku lelah sekali! Lagipula, besok pagi kita harus berangkat ke pernikahan Zack dan Maria. Aku enggak mau kalau sampai kita kesiangan."


Mendengar nama sang asisten, Moohan teringat sesuatu. "Tunggu sebentar, Sayang. Aku mau telepon Zack dulu," pamitnya seraya bangkit dari ranjang.


Moohan kemudian mengambil piyamanya yang teronggok di lantai dan mengenakan dengan cepat. Dia juga mengambilkan gaun tidur milik sang istri. Setelahnya, Moohan segera mengambil ponsel lalu menelepon sang asisten.


Pria tampan itu nampak mondar-mandir sambil menempelkan ponsel di telinga kirinya. Cukup lama menanti, Zack tidak juga menerima panggilan Moohan. Hal itu membuat suami Thalia nampak sangat kesal karena sudah tiga kali dia mengulang panggilannya.


"Masak jam segini Zack sudah tidur?" gumam Moohan bertanya pada diri sendiri, seraya menatap layar ponselnya.


"Beneran sudah tidur mungkin, Dad," sahut Thalia yang dapat mendengar gumaman sang suami. Wanita cantik itu kini sudah mengenakan gaun tidurnya.


Moohan nampak masih menempelkan ponsel di telinga, menanti Zack yang jauh berada di sana menerima panggilan darinya. "Halo, Zack! Ngapain aja, sih, lama banget enggak diangkat?" tanya Moohan kesal, setelah Zack menerima panggilan teleponnya.


"Sory, Hendrick. Tadi itu, em ...." Zack terdengar ragu untuk menyampaikan.


"Tadi apa, Zack? Jangan bilang kalau kalian berdua sedang melakukan hubungan ...."


"Benar, Hendrick. Tadi itu lagi nanggung," sergah Zack sejujurnya.


Thalia tersenyum lalu geleng-geleng kepala mendengar perkataan Zack yang blak-blakan.


☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.

__ADS_1


__ADS_2