
Pertanyaan Thalia yang disampaikan dengan memuji Moohan, membuat pria tampan itu tersenyum. Hatinya membuncah bahagia. Pujian dari Thalia barusan mengisyaratkan bahwa wanita cantik di hadapan, mulai membuka hati untuknya.
"Jika aku boleh meminta lebih saat ini, aku tidak hanya mau menjadi asisten pribadimu, tetapi sekaligus aku mau menjadi suami kamu." Moohan menatap dalam netra indah Thalia.
"Dan mama sangat setuju jika kalian menikah dahulu agar kalian berdua bisa lebih fokus dalam menjalankan rencana," timpal Nyonya Brenda yang langsung nyelonong masuk ke dalam kamar Thalia.
Entah sejak kapan wanita paruh baya tersebut berada dibalik pintu yang tidak tertutup rapat. Sepertinya, wanita paruh baya tersebut ikut mendengarkan pembicaraan Moohan dan Thalia. Sesuai janjinya tadi, Nyonya Brenda akan membantu sang putra untuk meyakinkan Thalia.
"Mama?" Thalia menatap tidak percaya pada wanita anggun yang dulu sering memberikan bantuan padanya dengan membeli kue-kue dagangan Thalia dalam jumlah yang banyak lalu membayarnya dengan uang lebih.
"Mama tahu, Thalia. Luka yang ditorehkan putra mama padamu begitu dalam. Namun, tidakkah kamu bisa melihat keseriusan Hendrick padamu? Dia sangat menyayangimu, dia juga menyayangi anak-anak kalian," bujuk Nyonya Brenda yang selalu menyebut kedua anak Thalia sebagai anak Moohan juga. Wanita anggun itu lalu duduk di samping Thalia.
Baik Nyonya Brenda maupun Moohan sendiri memang tidak pernah membedakan antara Princess dan King. Itulah salah satunya yang membuat Thalia mulai membuka diri pada Moohan. Ketulusan pria di hadapannya pada anak-anak, itu yang lebih utama buat Thalia.
"Mama akan sangat berterimakasih padamu jika kamu mau menjadi menantu mama, Nak," lanjut Nyonya Brenda, penuh harap. Ditatapnya netra indah Thalia dengan dalam.
"Aku tahu, Ma, kalau Hendrick sayang sama anak-anak," balas Thalia.
"Bukan hanya sayang pada anak-anak, Mommy, tapi aku juga sangat menyayangimu," sanggah Moohan meluruskan. Pria tampan itu tersenyum kemudian.
Thalia mengalihkan pandangan matanya untuk menghindari tatapan mata Moohan yang senantiasa membuatnya berdebar. "Iya. Aku tahu itu," ujarnya tanpa menatap pria tampan di hadapan. "Hanya saja jika harus menikah secepatnya, aku belum siap," lanjut Thalia, jujur.
Nyonya Brenda menghela napas panjang. "Sini, biar King sama grandma," pintanya seraya mengulurkan tangan dan Thalia kemudian menyerahkan sang putra pada neneknya yang masih terlihat cantik di usia yang tidak lagi muda.
"Kalian silahkan dilanjut ngobrolnya, biar King tidur di kamar mama." Nyonya Brenda kemudian segera beranjak. "Thalia, mama tetap berharap kamu mau menikah dengan Hendrick sebelum kalian menjalankan rencana untuk memberikan pelajaran pada pria itu dan keluarganya," lanjutnya yang langsung keluar tanpa memberikan kesempatan pada Thalia untuk berbicara.
__ADS_1
Thalia terdiam. Wanita cantik itu nampak bingung dengan permintaan Nyonya Brenda yang selama ini sudah sangat baik padanya. Tidak enak rasanya jika membuat wanita yang sudah dianggap sebagai mama, menjadi kecewa karena penolakannya.
Sepeninggal sang mama, keheningan sejenak tercipta di kamar luas milik Thalia. Moohan tiba-tiba beranjak lalu mendekati ibu dua anak tersebut dan kemudian duduk tepat di samping Thalia. Wanita cantik itu bergeser sedikit untuk memberikan jarak, membuat Moohan tersenyum kecut.
"Aku mengerti, Mommy. Mengenai pernikahan jika memang kamu belum siap tidak mengapa, aku akan bersabar menantimu," ujar Moohan, mengurai keheningan.
Thalia masih terdiam. Wanita cantik itu menghela napas panjang berkali-kali, mencoba untuk mengurai debaran di dada yang semakin tidak terkontrol. Berada sedekat ini dengan Moohan, membuat jantungnya berpacu tiga kali lebih cepat.
Aroma maskulin yang menguar dari tubuh Moohan, memenuhi rongga penciumannya dan membuat Thalia merasa mabuk kepayang. Aroma itu begitu menggoda dan ingin rasanya dia memeluk pemilik keharuman tersebut. Batin Thalia berperang, antara rasa gengsi dan juga keinginan hati.
"Ijinkan aku untuk lebih dekat denganmu dan membangun chemistry di antara kita agar kamu semakin yakin jika memang kamu mau menerimaku. Jadi, bukan karena terpaksa atau semata-mata demi anak," lanjut Moohan seraya mengambil tangan Thalia lalu menggenggamnya erat, membuat wanita cantik itu semakin grogi.
Telapak tangan Thalia berkeringat dingin. Apalagi ketika Moohan mengecup punggung tangannya, dia semakin salah tingkah. Thalia seperti remaja yang baru pertama kali mengenal dan disentuh oleh seorang pria.
Moohan yang merasakan tangan Thalia bergetar, tersenyum. Pria tampan itu semakin yakin bahwa sebentar lagi dia akan dapat menggenggam hati sang wanita pujaan. Tidak mengapa jika saat ini hanya tangan Thalia yang baru bisa dia genggam, Moohan sudah sangat senang karena tidak ada penolakan.
Thalia memberanikan diri menatap netra kehijauan milik Moohan. Netra yang memiliki tatapan tajam yang dapat menembus hingga ke jantung Thalia. Wanita cantik itu ingin mencari tahu kesungguhan dari ucapan Moohan barusan.
"Ini pertama kalinya aku mengutarakan isi hatiku pada wanita, Mommy, dan itu kamu," lanjut Moohan, mencoba meyakinkan. "Aku akan menjadi pria yang paling bahagia di muka bumi ini jika kamu mau menjadi kekasihku," imbuhnya dan Thalia menganggukkan kepala, kemudian.
Moohan senang bukan alang kepalang. Pria itu bahkan langsung memeluk Thalia seeratnya. Moohan seolah takut jika Thalia kembali menjauh darinya.
"Sesak, Hendrick. Lepaskan!" pinta Thalia yang merasa sesak napas karena Moohan sangat erat memeluknya.
"Maaf-maaf. Maafkan aku, Mommy." Moohan melonggarkan pelukan lalu mencium puncak kepala Thalia penuh kasih.
__ADS_1
Thalia tersenyum tipis. Dia biarkan Moohan melakukan apapun yang pria itu mau. Thalia bersyukur karena Moohan tidak kurang ajar padanya. Mantan bosnya tersebut hanya mencium puncak kepala tanpa ingin melakukan lebih.
"Terima kasih sudah mau menjadi kekasihku, Sayang," ujar Moohan setelah melepaskan pelukan.
Kini, panggilan Moohan pada Thalia berubah. Dia memilih panggilan sayang untuk sang kekasih hati. Panggilan yang akan mengingatkan Moohan untuk selalu menyayangi Thalia dengan segenap hatinya.
Thalia tersenyum lalu mengangguk. "Terima kasih juga, Daddy, karena Daddy sudah mau menerima kami dengan tulus," balas Thalia yang membuat Moohan kembali memeluknya.
"Jangan bicara seperti itu, Sayang. Kamu adalah mommy dari anak-anakku. Jadi sudah pasti aku akan menerima kalian. Aku akan menyayangi dan menjaga kalian dengan segenap jiwaku," janji Moohan sungguh-sungguh.
Kebahagiaan menyelimuti hati Thalia, kini. Tidak ada lagi keraguan di hati. Dia hanya butuh sedikit waktu lagi untuk menerima Moohan menjadi bagian dari hidupnya, menjadi belahan jiwanya.
Thalia mendongak dan tepat di saat yang sama, Moohan menunduk hingga bibir keduanya bertemu. Namun, Moohan tidak ingin mengambil kesempatan. Dia hanya membiarkan bibirnya menempel di bibir tipis Thalia, tanpa ingin ********** seperti yang sering dia harapkan selama ini.
Moohan berhasil menguasai perasaannya. Rasa sayang telah mampu mengalahkan hasrat yang seringkali muncul dan terasa membara kala melihat Thalia dari kejauhan. Kini, ketika mereka berdua berada sedekat ini, yang ada hanyalah rasa ingin melindungi sang wanita.
Pria tampan itu lalu menjauhkan sedikit wajah dan mengusap bibir Thalia dengan ibu jarinya. "Aku menunggu saat yang tepat untuk mengecup bibir ini, Sayang. Nanti, ketika kita berada di altar untuk mengucap janji suci," ujar Moohan, membuat Thalia merasa dihormati dan disayangi.
Moohan yang dikenalnya dulu, sudah benar-benar berubah. Dia bukan lagi pria brengsek yang hanya menurutkan nafsu semata. Thalia merasa bahagia dengan perubahan Moohan yang menurut orang-orang terjadi berkat dirinya.
Pria tampan itu masih memeluk Thalia. Moohan nampak sangat menikmati harum rambut sang kekasih hati. Berkali-kali dia ciumi puncak kepala sang wanita dan menyimpan aroma wanginya dalam memori.
Thalia pun sama. Dia juga terlihat sangat menikmati kehangatan pelukan Moohan. Aroma parfum pria tampan yang memeluknya, membuat Thalia merasa nyaman.
Suara ketukan pintu yang dibarengi dengan hadirnya Maria bersama Princess, mengurai kemesraan mereka berdua. Thalia buru-buru melepaskan pelukan, lalu berkata dengan pelan, "beri aku waktu beberapa hari, Dad. Aku akan memikirkannya dengan matang."
__ADS_1
☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.