
Waktu terus berlalu. Thalia nampak sangat sibuk menjalani perannya yang baru. Sebagai wanita karir, istri, sekaligus seorang ibu. Namun, semuanya Thalia jalani dengan sangat bahagia. Hal itu karena dukungan dari orang-orang tersayang di sekitarnya.
Sang suami, begitu setia menemani meskipun kesibukan Moohan juga luar biasa padat. Selain menjadi asisten pribadi sang istri yang harus mengetahui segala hal tentang perusahaan, Moohan juga masih harus memantau perusahaan The Moohan Corporate. Moohan tidak dapat membiarkan Zack bekerja sendiri meskipun asisten pribadinya itu dapat diandalkan.
"Nak, apa kalian berdua tidak lelah?" tanya Nyonya Brenda di suatu sore ketika melihat Thalia dan Moohan baru saja pulang dari kantor kemudian langsung bermain dengan kedua anaknya.
"Lumayan, Ma. Tapi melihat tawa mereka bertiga, capekku langsung hilang," balas Moohan seraya menatap sang istri dan kedua buah hatinya, penuh rasa sayang. Mendengar jawaban sang suami, Thalia tersenyum bahagia.
"Benar, Ma. Tadi sewaktu di kantor, rasanya memang capek banget. Begitu sampai rumah dan melihat anak-anak, rasa capeknya seolah menguap dan menghilang entah kemana," timpal Thalia kemudian sambil melirik sang suami dan Moohan tertawa kecil kemudian. Pria tampan itu lalu mengacak lembut rambut sang istri.
Tentu saja Thalia sangat lelah setiap kali berada di kantor karena sang asisten pribadi selalu saja meminta jatah di jam istirahat siang. Bukan hanya sekali, Moohan kadang memintanya hingga dua sampai tiga kali dalam sehari. Hasrat Moohan yang sangat besar setiap kali berdekatan dengan Thalia, membuat pria berhidung mancung dan bermata kehijauan itu tidak dapat mengendalikan diri untuk tidak meminta haknya.
Sebagai istri yang baik, selagi dia masih mampu maka Thalia pun akan memberikan pelayanan terbaik untuk suaminya. Hal itulah yang membuat hubungan mereka berdua terlihat selalu mesra dan membuat iri siapa saja yang melihatnya. Termasuk Ameera, sekretaris di kantor Thalia, dan juga Alexander.
Nyonya Brenda tersenyum lebar, melihat kebahagiaan keluarga kecil sang putra. Wanita paruh baya itu lalu meminta baby King dari tangan Thalia. "Kalian mandi, lah, dulu. Biar anak-anak sama mama," suruhnya pada Moohan dan Thalia.
Thalia dan sang suami segera beranjak menuju ke kamar untuk membersihkan diri. Mereka berdua mandi dengan cepat, mandi yang sebenar-benarnya mandi. Tidak ada aktifitas lain yang mereka lakukan di dalam kamar mandi karena sang mama sudah menanti untuk makan malam bersama.
Kini mereka sudah berada di ruang makan. Nyonya Brenda juga nampak sudah berada di sana. Sementara anak-anak bersama baby sitter dan asisten rumah tangga.
"Hen, besok kita berangkat jam berapa?" tanya Nyonya Brenda di sela-sela makan.
"Harus pagi-pagi sekali, Ma, biar kita tidak terlambat. Kasihan Zack dan Maria jika kita tidak bisa sampai di acara penting mereka berdua tepat waktu," balas Moohan.
__ADS_1
"Bagaimana kalau Mama naik pesawat saja, Ma. Aku tidak tega melihat Mama kecapekan karena perjalanan melalui jalur darat memang cukup jauh. Biar besok, pilotnya aku suruh jemput Mama di bandara sini," lanjut putra tunggal Nyonya Brenda itu seraya menatap sang mama.
Nyonya Brenda menggeleng. "Tidak perlu, Hendrick. Mama kuat, kok," tolak Nyonya Brenda.
Moohan terdengar masih membujuk sang mama karena tidak mau melihat mama yang sangat disayanginya itu kecapekan. Namun, Nyonya Brenda yang tidak mau dipisahkan dengan kedua cucunya itu kekeuh menolak. Sementara Thalia menikmati makan malamnya sambil menyimak perdebatan kecil ibu dan sang putra.
"Hen, mama tetap bareng kalian saja!" tegas sang mama, membuat Moohan menghela napas panjang menghadapi sikap keras kepala sang mama yang menurun pada dirinya.
"Ma. Hendrick benar, Ma. Sebaiknya, Mama naik pesawat saja. Thalia juga mau mencoba naik pesawat lagi," ujar Thalia, menyela perdebatan ibu dan anak tersebut.
"Benarkah, Honey?" Moohan menatap sang istri, tidak percaya dan Thalia menganggukkan kepala.
"Syukurlah kalau begitu. Jadi, kita enggak perlu terburu-buru besok pagi," tutur sang mama.
"Apa putraku belum selesai menyusu?" tanya Moohan setelah beberapa saat. Pria itu kini sudah berbaring di balik punggung Thalia, setelah memastikan Princess terlelap dan kemudian menyelimuti tubuh mungil putrinya.
"Belum, Dad. King sekarang kalau menyusu lama. Mungkin karena siang dia tidak dapat menyusu secara langsung seperti ini," balas Thalia yang tersirat rasa penyesalan karena kehilangan moment berharga bersama buah hatinya.
Moohan beringsut lalu menatap sang putra yang tengah asyik menghisap sumber kehidupannya sambil memainkan kakinya sendiri yang terangkat. Pria tampan itu sengaja menggoda dengan melepaskan mulut mungil King dari benda kenyal kesayangan kedua pria berbeda generasi tersebut. Tentu saja keusilan sang daddy membuat King langsung merengek karena merasa kesenangannya terganggu. Moohan kemudian terkekeh senang.
"Dad, jangan diganggu, ah! Mommy capek miring terus seperti ini!" protes Thalia karena sudah capek menyusui, tetapi sang putra belum juga mau tidur.
"Ya sudah, Mommy tidur saja. Biar King Daddy yang menidurkan. Dia sepertinya sudah kenyang. Mungkin karena sedang ingin bermanja-manja dengan kita, makanya dia menyusu lama dan enggak dilepas-lepas dari tadi," ujar Moohan sambil mengangkat tubuh sang putra, setelah membetulkan kancing piyama Thalia.
__ADS_1
Moohan lalu meninabobokan King dalam dekapan sambil digoyang-goyang pelan. Thalia tersenyum menyaksikan pemandangan yang membuat hatinya damai. Perlahan wanita cantik itu pun terlelap ke alam mimpi, seiring sang putra yang juga terlelap dalam dekapan sang daddy.
Setelah memastikan King benar-benar terlelap, Moohan lalu menidurkan King di tempat tidur khusus miliknya. Bersebelahan dengan ranjang besar yang biasa digunakan oleh baby sitter untuk tidur. Sementara Princess juga masih nampak sangat lelap di atas ranjangnya sendiri.
Setelah memastikan kedua buah hatinya tidur dengan nyaman, Moohan lalu mendekati sang istri kembali. Dia gendong tubuh ramping istrinya tanpa membangunkan Thalia. Perlahan, Moohan berjalan meninggalkan kamar anak-anak untuk menuju kamar utama.
"Sus. Anak-anak sudah tidur, kamu istirahatlah," titah Moohan pelan ketika melintasi ruang keluarga dan melihat sang baby sitter menanti di sana sambil menonton acara televisi.
Baby sitter itu mengangguk, patuh. Wanita muda itu lalu tersenyum menatap punggung sang majikan hingga menghilang di balik pintu kamar. "Tuan Muda Moohan romantis sekali," gumamnya penuh rasa kagum.
Di dalam kamarnya, Moohan langsung membaringkan tubuh sang istri dengan hati-hati karena tidak ingin Thalia yang nampak kelelahan itu terbangun. Dia menyelimuti tubuh istrinya hingga sebatas dada. Moohan pun kemudian ikut membaringkan diri di samping Thalia.
Pria itu memeluk tubuh Thalia dan menciumi aroma wangi rambut istrinya. Menyimpannya dalam memori agar aroma wangi itu terus saja bisa dia rasakan. Moohan kemudian mencoba untuk memejamkan mata.
"Aku rela malam ini kita libur dulu, Honey. Aku tahu, kamu pasti sangat lelah," gumam Moohan seraya mengeratkan pelukan pada tubuh sang istri.
Cukup lama Moohan berusaha untuk tidur, tapi matanya tidak juga dapat terpejam. Suami Thalia itu lalu membangunkan sang istri dengan caranya. Benar saja, penyatuan bibir yang dia lakukan sukses membuat Thalia terbangun. Rupanya, apa yang dia katakan, bertentangan dengan hasrat yang selalu saja muncul meski di saat yang tidak tepat.
Wanita cantik itu pun terbangun tanpa ada drama merajuk karena ibu dua anak tersebut menikmati apa yang dilakukan oleh sang suami kepadanya. Perlahan Thalia pun mulai membalas ciuman Moohan dengan tidak kalah agresif. Hingga suara-suara berisik mulai memenuhi seisi ruang kamar mewah yang tadinya sunyi senyap.
Tengah asyik menikmati percintaan, terdengar bunyi dering ponsel Moohan yang menggelepar di atas nakas. "Sh*it! Siapa, sih, malam-malam seperti ini telepon? Tidak punya etika dan ganggu kesenangan orang saja!" gerutu Moohan tanpa berniat untuk mengakhiri penyatuan.
☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.
__ADS_1