
Begitu keluar dari penthouse milik Moohan dan Thalia, Alexander kemudian berlari menuju lift. Pria itu nampak sangat tidak sabar ingin segera sampai di rumah dan meminta konfirmasi pada mamanya. Kotak besi yang membawa Alexander turun menuju lantai satu, dirasa sangatlah lambat hingga membuat mantan suami Thalia mendengkus kesal.
Setelah pintu lift terbuka, Alexander berlari menyusuri lobi apartemen. Dia tidak mempedulikan tatapan orang-orang yang melihatnya dengan penuh rasa heran. Pria itu terus berlari menuju mobilnya dan langsung tancap gas, melajukan mobilnya dengan kencang.
"****! Ada apa, sih, di depan? Kenapa macet seperti ini?" umpat Alexander bertanya-tanya, ketika baru beberapa saat melaju mobilnya terjebak kemacetan yang cukup panjang.
Alexander membuka kaca jendela dan mencoba mencari tahu dari orang-orang yang berlalu-lalang di sisi kiri mobilnya. Rupanya, di depan sana ada kecelakaan yang menyebabkan mobil korban melintang di tengah jalan raya. Pria itu lalu menyandarkan punggung pada jok mobil, sambil menunggu kemacetan terurai dan jalanan kembali normal.
Pria itu terlihat gelisah sepanjang menunggu mobilnya bisa kembali melaju. "Ck! Apa aja, sih, yang dikerjakan oleh aparat? Kenapa lama sekali menangani kemacetan akibat kecelakaan?" gerutu Alexander yang terlihat sangat kesal. Pria itu lalu turun dari mobil.
"Maaf, di depan sebenarnya ada apa, ya? Kalau kecelakaan, kenapa lama sekali?" tanya Alexander pada seseorang yang baru saja dari arah depan. Dia sendiri tidak dapat melihat apa yang terjadi di depan sana karena kemacetan yang sangat panjang.
"Oh, itu, Pak. Mobil penabrak 'kan kondisinya cukup parah dan dia ngotot minta ganti rugi padahal dia yang bersalah. Polisi tidak dapat mengamankan karena kondisi wanita itu sepertinya sedang mabuk berat. Dia bahkan akan mengancam bertelanjang bulat kalau polisi terus memaksanya untuk keluar dari mobilnya yang menghalangi jalan," terang seorang pria yang ditanyai Alexander.
"Ada-ada saja ulah orang jaman sekarang." Alexander geleng-geleng kepala sendiri.
"Padahal kalau tidak salah dengar tadi, dia itu model ternama dari kota sebelah, Pak," lanjut pria itu yang membuat Alexander mengerutkan dahi.
"Terima kasih informasinya," ucap Alexander kemudian pada pria muda yang memberinya informasi. Pria muda itu segera berlalu meninggalkan dirinya yang masih termangu.
"Sarah. Apa wanita itu adalah Sarah? Tapi dia masih bersama mama ketika aku keluar tadi dan aku pun tidak lama di tempat Thalia," gumam Alexander, menerka-nerka.
__ADS_1
Untuk memastikan apa yang melintas di benak, Alexander masuk kembali ke dalam mobil dan kemudian menelepon Pak Ben, sopir pribadi sang mama yang sekaligus kekasih Nyonya Grace. Alexander menanyakan apakah sang istri ada di mansion atau tidak. Alexander nampak mengerutkan dahi mendengar penjelasan dari orang di ujung teleponnya.
"Jadi, begitu aku keluar tadi, Sarah juga langsung keluar?" tanya Alexander, memastikan.
Setelah mendapatkan keterangan dari Pak Ben, Alexander lalu menutup teleponnya. Tepat di saat yang sama, mobil di depan mulai merayap maju. Alexander kembali menjalankan mobil dengan perasaan berkecamuk tidak karuan.
'Kehadiran wanita itu di hidupku memang selalu membawa masalah!' batin Alexander, kesal. Dia khawatir, jika ada media yang meliput dan mengenali Sarah sebagai istrinya, tentu reputasi Alexander akan semakin buruk.
Sepanjang perjalanan pulang itu, dirasakan Alexander sangat lama. Tadinya dengan berkunjung ke tempat mantan istri dia akan merasa sedikit lebih tenang setelah menemui sang putri, tapi kini justru permasalahannya semakin bertambah runyam. Satu per satu terkuak secara beruntun, seolah tidak memberikan kesempatan pada Alexander untuk menghirup napas dengan dalam.
Setelah cukup lama berkendara dengan kecepatan yang sedang karena lalu lintas belum kembali normal, mobil yang dikendarai Alexander berbelok memasuki gerbang yang tinggi menjulang. Dengan asal, pria itu memarkirkan mobil di halaman dan segera masuk ke dalam mansion. Berteriak, Alexander memanggil sang mama. "Mama! Mama di mana?"
"Ma, katakan dengan jujur. Apa benar, Sarah adalah putri kandung Mama?" tanya Alexander yang langsung pada intinya. Dia tidak mau membuang waktu dengan berbasa-basi terlebih dahulu.
"Ale. Kamu ini bertanya apa?" Nyonya Grace yang nampak sangat terkejut, mencoba mengelak dengan bertanya.
"Mana mungkin Sarah putri kandung mama, Ale. Sementara usia kamu dan Sarah tidak berbeda jauh," lanjutnya dengan menyembunyikan keterkejutan.
"Ma. Sudahlah, Ma. Jangan ada lagi yang Mama sembunyikan dari Ale. Ale sudah tahu jika Mama bukanlah Mama kandung Ale." Pria itu menatap tajam Nyonya Grace.
"Ale! Omong kosong apalagi yang barusan kamu katakan?" Nyonya Grace yang semakin terkejut dengan apa yang dia dengar, masih saja berusaha untuk menutupi kebenaran.
__ADS_1
Alexander menghela napas panjang. Dia lalu mengatakan dari mana dirinya memperoleh informasi tentang sang mama. "Meskipun Ale sudah tahu kebenaran bahwa Mama bukan mama kandung Ale, tapi Ale tetap sayang sama Mama karena Mama telah tulus merawat Ale," ujarnya dengan suara tercekat di tenggorokan.
Nyonya Grace hanya bisa diam, menunduk. Dia tidak berusaha lagi untuk mengelak. Sementara itu Pak Ben yang berdiri di belakang Nyonya Grace, bersikap biasa saja karena pria tersebut sudah tahu banyak tentang sang kekasih.
"Dan tentang Sarah. Kenapa Mama tega memisahkan Ale dengan wanita yang Ale cintai dan memaksa Ale untuk menikahi putri kandung Mama itu?" tanya Alexander kemudian, penuh penekanan.
"Maafkan mama, Ale. Mama takut kamu akan membenci mama jika mengetahui bahwa kamu bukan anak kandung mama karena selama ini mama menyembunyikannya dari kamu. Mama takut kamu akan mengusir mama dari mansion, sedangkan mama tidak memiliki apa-apa." Wanita yang duduk di kursi roda itu mulai terisak.
"Sepicik itukah penilaian Mama terhadap Ale? Ale memang sempat benci sama Mama karena Mama masih saja menyembunyikan masalah sepenting ini dari Ale, tapi rasa sayang Ale pada Mama mengalahkan kebencian itu, Ma," ujarnya dengan suara pelan, hampir tidak terdengar.
"Ale. Kamu tidak marah sama Mama, Nak? Kamu memaafkan kesalahan Mama?" Nyonya Grace memberanikan diri menatap sang putra dan Alexander menggelengkan kepala. Hal itu membuat Nyonya Grace merasa lega.
"Tidak masalah andai Mama membawa Sarah ke rumah lalu mengenalkan pada Ale sebagai putri kandung Mama. Tentu dengan senang hati Ale akan menganggap Sarah sebagai adik, seperti Jean. Namun, apa yang sudah Mama lakukan benar-benar membuat Ale kecewa, Ma!" lanjut Alexander, membuat kelegaan yang sempat dirasakan oleh sang mama, sirna seketika.
"Maafkan Mama, Nak?" Suara Nyonya Grace terdengar bergetar. Wanita itu terlihat sangat menyesali perbuatannya.
"Untuk masalah itu, Ale memang bisa memaafkan Mama, tapi tidak untuk masalah Sarah!" ujar Alexander yang terdengar penuh emosi.
Nyonya Grace tersentak mendengar suara sang putra yang menggelegar. Wanita paruh baya itu menggelengkan kepala. "Maafkan Mama, Nak. Mama benar-benar menyesal. Tapi pernikahan kalian sudah terjadi, Ale, tolong jangan ceraikan Sarah," pintanya menghiba.
☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.
__ADS_1