Pesona Sang Janda

Pesona Sang Janda
Bicara Empat Mata


__ADS_3

Hari berganti, waktu yang dinanti Thalia pun tiba. Kini mereka tengah bersiap untuk berangkat ke kota tempat asal Thalia. Kota yang akan menjadi tempat tinggal sementara keluarga kecil Moohan dan sang istri tercinta.


Zack dan Maria pun telah bersiap. Mereka berdua juga hendak ikut mengantarkan hingga ke apartemen, tempat tinggal sementara mereka di sana. Selain membawa sang kekasih, Zack juga membawa seorang baby sitter dan seorang asisten rumah tangga yang akan membantu Thalia dan Nyonya Brenda di sana.


Sementara di dalam mobil Moohan yang dikendarai oleh Pak Lee, selain Moohan, ada sang istri dan juga mamanya yang masing-masing memangku Princess dan King. Mereka duduk di bangku belakang yang nyaman. Ya, Pak Lee nantinya yang akan mengawal Nyonya Brenda jika hendak bepergian, selama berada di kota tersebut.


"Sayang. Jika lelah memangku King, biar aku menggantikannya," tawar Moohan setelah cukup jauh mobil mereka melaju meninggalkan kota.


"Jangan, Dad. Anak-anak 'kan tidak boleh duduk di depan," tolak Thalia. "Lagian, aku tidak akan lelah karena King anteng dan enggak rewel," lanjutnya sambil memandangi wajah tampan nan menggemaskan sang putra, yang mirip dengan daddynya.


Moohan sebenarnya ingin menggunakan pesawat pribadi, mengingat perjalanan mereka cukup jauh. Namun, Thalia menolak karena dia memiliki trauma dengan alat transportasi udara tersebut. Moohan akhirnya mengalah dan memutuskan untuk menggunakan mobil.


Ya, Thalia pernah diajak berbulan madu oleh mantan suami dan pesawat yang mereka tumpangi tiba-tiba mengalami overrun. Banyak korban jiwa berjatuhan akibat kecelakaan tersebut. Beruntung, Thalia dan Alexander selamat dan hanya mengalami sedikit cidera.


Mobil terus melaju dengan kecepatan penuh melintasi perbatasan yang di kanan dan kirinya hanya ditumbuhi rumput liar. Jalanan yang lebar tersebut nampak lengang karena memang jarang penggunanya. Kebanyakan, orang-orang memilih mengunakan pesawat atau kereta untuk keluar masuk ke kota tersebut.


Hanya sesekali mobil yang dikemudian Pak Lee berpapasan dengan mobil lain. Sepinya jalanan dan bebas dari hambatan, membuat perjalanan mereka cepat sampai tujuan. Kini, iring-iringan dua mobil tersebut telah memasuki kota.


"Honey. Mau langung ke apartemen atau ke mana dulu? Barangkali ada yang mau kamu beli?" tawar Moohan, menoleh ke arah sang istri.


"Tidak, Dad. Langsung ke apartemen saja. Sepertinya, anak-anak sudah lelah dan ingin rebahan," tolak Thalia.


"Mama juga sepertinya suda lelah," lanjutnya seraya menoleh ke arah sang mama mertua.


Nyonya Brenda tersenyum. "Lumayan pegel punggung mama, Hen," ujarnya, jujur.


"Baiklah. Jika butuh sesuatu biar nanti Zack yang membelikan." Moohan kembali menghadap ke depan dan kemudian memberikan petunjuk pada Pak Lee ke arah mana mobil harus melaju.

__ADS_1


Tidak berapa lama, kedua mobil tersebut memasuki kawasan apartemen mewah di kota tersebut. Moohan segera turun lalu mengambil alih sang putri dari pangkuan mamanya. Pria tampan itu kemudian menuntun Nyonya Brenda untuk turun.


Setelah memberikan Princess pada Maria, Moohan bergegas membukakan pintu di sisi yang lain. Dia melakukan hal yang sama seperti tadi. Mengambil alih sang putra dari pangkuan sang istri lalu menuntun Thalia untuk turun dari mobil.


Baby sitter yang ikut di mobil Zack segera mendekat dan kemudian meminta King dari tangan Moohan. "Tuan, biar baby King bersama saya."


Setelah memberikan sang putra pada baby sitter tersebut, lalu menuntun sang istri dan mamanya memasuki lobi apartemen. Mereka kemudian menuju ke lift khusus yang akan mengantarkan ke lantai tertinggi bangunan tersebut. Lantai di mana penthouse yang sudah disiapkan oleh Moohan untuk keluarga kecilnya berada.


Kedatangan Moohan dan keluarga disambut oleh pegawai apartemen yang bertugas membersihkan penthouse miliknya. Pria muda itu lalu mempersilakan pemilik penthouse untuk masuk. Dia ikut membawakan barang-barang milik Moohan dan keluarga yang tidak terlalu banyak karena semua sudah disiapkan di sini sewaktu suami Thalia itu mengurus pembelian saham.


"Nyonya, saya tidurkan baby King di kamar bersama Nona Princess, ya, agar Anda juga bisa beristirahat," ijin sang baby sitter.


"Tidak perlu, Sus, biar King bersama ...."


"Silakan, Sus. Nanti asinya aku antar ke kamar anak-anak," sergah Moohan, cepat. Rupanya, ayah kandung King itu ingin menghilangkan penat setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh dengan bersenang-senang bersama wanita kesayangan.


Thalia protes dengan menatap tajam dan dahi berkerut dalam, tetapi Moohan tidak mengindahkan. Pria yang rahangnya ditumbuhi bulu-bulu kasar tersebut malah terkekeh melihat ekspresi istrinya. Dia lalu memberi isyarat pada sang baby sitter agar segera berlalu menyusul Maria yang sudah membawa Princess ke kamar putri kecilnya.


Setelah semua orang berlalu, Moohan segera mengajak sang istri untuk menuju ke kamar utama. Kamar yang paling luas di antara kamar-kamar lain yang dilengkapi fasilitas bak hotel bintang lima. Pria tampan itu memang ingin memberikan yang terbaik untuk sang istri dan ingin agar istrinya merasa nyaman. Ketika Moohan hendak menutup pintu kamar, suara Zack mengurungkannya.


"Hendrick, tunggu!"


Moohan membuka lagi pintu kamar sedikit lebih lebar. "Ada apa, Zack?"


"Alexander. Dia sudah menunggu di bawah dan ingin bertemu denganmu."


Mendengar nama sang mantan disebut, Thalia yang baru saja hendak merebahkan diri mengurungkan niatnya. Ibu dua anak itu lalu menuju pintu, mendekati sang suami. "Apa kamu membuat janji dengannya, Dad? Kenapa tidak mengatakan padaku?"

__ADS_1


Moohan menggelengkan kepala. "Tidak, Honey. Aku juga tidak tahu darimana dia tahu kalau kita tinggal di sini."


"Pasti dari orang perusahaan, Hen. Kamu harus ingat, dia masih memiliki kuasa di perusahaan meskipun tidak seperti kemarin. Sepertinya, kamu harus hati-hati," duga Zack, seraya mengingatkan.


Moohan mengangguk-angguk. Dia membenarkan perkataan sang asisten. Pria itu lalu menatap istrinya.


"Apa aku boleh menemuinya?"


Thalia menggeleng. "Jika urusan perusahaan, sebaiknya dibicarakan di perusahaan bukan?"


Moohan kembali menganggukkan kepala, membenarkan perkataan istrinya. "Zack, katakan padanya jika mau menemuiku besok saja," titahnya pada sang asisten.


"Tapi, Hen. Aku tadi sudah mengatakan seperti itu dan dia bilang ini tidak ada kaitannya dengan perusahaan," balas Zack.


"Lalu?" Moohan mengerutkan dahi.


"Sarah. Ternyata Alexander suaminya Sarah." Zack melirik Thalia yang kini wajahnya menjadi masam.


Thalia menghela napas panjang.


Sarah, nama itu memang sudah tidak asing bagi istri Moohan. Beberapa kali Thalia pernah bertemu dengan mantan teman kencan suaminya itu ketika dia masih bekerja di TMC sebagai petugas kebersihan di ruangan Moohan. Namun, mendengar nama itu disebut saat ini, apalagi barusan Zack mengatakan bahwa Alexander adalah suami Sarah, tak ayal, Thalia pun dibuat penasaran apa yang kira-kira akan dibicarakan oleh mantan suaminya pada Moohan.


"Lantas, apa hubungannya denganku? Aku dan Sarah, juga yang lain, sudah lama berakhir." Moohan mengedikkan bahu, nampak tidak mengerti dengan maksud pria yang mencarinya.


"Aku juga tidak tahu, Hen. Dia tidak mau mengatakan padaku. Dia bilang, dia mau bicara empat mata denganmu," ujar Zack.


"Honey?" Moohan menatap pada sang istri.

__ADS_1


Meskipun penasaran, Thalia tetap menggeleng. "Besok saja jika mau bicara, saat acara serah terima jabatan," larang Thalia, tegas.


☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.


__ADS_2