
Malam ini, Alexander memenuhi undangan untuk makan malam bersama di penthouse milik keluarga kecil Moohan. Pria itu datang sedikit terlambat karena dia mencari hadiah dulu untuk sang putri. Alexander juga membelikan hadiah untuk King, putra Thalia dengan suaminya yang sekarang.
"Maaf, jika aku terlambat." ujar Alexander ketika Moohan muncul dari balik pintu yang baru saja terbuka.
"Tidak mengapa, Ale. Silakan masuk." Moohan yang menyambut sendiri tamunya segera mengajak Alexander untuk menuju meja makan karena keluarganya telah berkumpul di sana, termasuk Ameera yang sudah datang sejak tadi.
Ameera langsung berdiri melihat kehadiran sang pria pujaan. Setelah menyalami Thalia dan Nyonya Brenda, Alexander nampak bimbang untuk duduk. Pasalnya hanya ada satu bangku yang tersisa, yaitu di samping Ameera.
"Silakan duduk, Nak Ale. Jangan sungkan!" Nyonya Brenda tersenyum ramah seraya mempersilakan Alexander dengan menunjuk bangku di samping sekretaris Thalia tersebut.
Alexander mengangguk, sopan. Mau tidak mau, dia harus duduk di samping mantan sekretarisnya. Wanita seksi yang tidak pernah masuk dalam prioritas Alexander, tetapi rupanya telah lama menyimpan perasaan padanya. Ameera pun kemudian duduk, setelah Alexander duduk dengan nyaman.
Ameera tersenyum bahagia, tetapi dengan menundukkan kepala untuk menyembunyikan senyumnya itu. Meskipun sudah sangat lama jatuh hati pada Alexander, tetapi Ameera tidak mau jika dianggap agresif. Dia lebih suka menunggu, walaupun tidak tentu dan terkadang berakhir pilu.
"Ayo-ayo! Silakan Nak Ameera." Suara lembut Nyonya Brenda membuat Ameera mau tidak mau menegakkan dagunya. Wanita seksi itu lalu mengangguk, seraya tersenyum manis.
"Silakan, Ameera. Kamu layani Ale dan jangan sungkan," titah Thalia, membuat sang mantan suami menatap protes padanya.
"Santai saja, Brother. Nikmati saja makan malam ini," timpal Moohan seraya memainkan kedua alisnya.
Alexander menghela napas panjang lalu geleng-geleng kepala sendiri. Dia tidak habis pikir, kenapa sang mantan istri dan suaminya itu kekeuh menjodohkan dirinya dengan Ameera. Alexander kemudian melirik sang mantan sekretaris yang baru saja menyiapkan makanan untuknya.
__ADS_1
"Terima kasih," ujar Alexander, datar.
"Sama-sama, Tuan Muda," balas Ameera, tersipu.
Makan malam hangat itu pun berlangsung dengan khidmat. Masing-masing nampak sangat menikmati menu makanan yang dimasak sendiri oleh Thalia. Alexander yang masih hafal dengan rasa masakan sang mantan istri yang spesial, makan dengan sangat lahap.
Sesekali, terdengar obrolan antara Moohan dan Alexander di sela-sela makan yang ditimpali oleh Thalia. Sementara Nyonya Brenda dan Ameera memilih menjadi pendengar setia. Ameera tidak mau terlihat mencolok dan mengejar pria pujaan hatinya.
Usai makan malam, Moohan dan Thalia mengajak Alexander dan Thalia untuk membicarakan mengenai acara esok pagi. Rapat dewan direksi yang akan mengukuhkan kembali Alexander menjadi pimpinan di perusahaan Thompson Group. Setelah membicarakan semuanya, Alexander meminta izin untuk menemui sang putri karena ingin memberikan sendiri hadiah yang sudah dia beli tadi.
"Ameera, tolong kamu bawa Princess kemari, ya," pinta Thalia pada sekretaris yang sudah akrab dengan putrinya tersebut.
Tentu saja Ameera sangat senang. Selain dia bisa membersamai putri Thalia yang dia sayang, Ameera juga memiliki kesempatan untuk lebih dekat dengan ayah kandung Princess. Ameera bergegas ke kamar Princess untuk membawa gadis kecil itu pada Alexander.
Alexander segera berdiri dan merentangkan kedua tangan, siap menyambut putrinya. Ameera segera melepaskan tangan, setelah Princess berpindah ke tangan sang daddy. Tangan keduanya sempat bersentuhan dan itu membuat pipi Ameera merona.
"Kalian di sini dulu, ya, kami mau lihat King," pamit Thalia yang segera beranjak dan diikuti oleh sang suami. Sepertinya, sepasang suami-istri itu sengaja memberikan kesempatan pada Alexander agar lebih dekat dengan Ameera.
Awalnya, mereka berdua nampak canggung. Ameera hanya diam, menyaksikan interaksi Alexander dan sang putri. Namun, Princess yang kemudian merengek dan meminta Ameera untuk memainkan barbie yang baru dibelikan sang daddy, membuat sikap kaku mereka berdua menjadi mencair.
"Princess suka dengan hadiah dari Daddy?" tanya Ameera dan gadis kecil itu mengangguk, antusias.
__ADS_1
"Kalau gitu, Daddy akan sering-sering beliin mainan untuk Princess. Bukan begitu, Dad?" Ameera kemudian menoleh ke arah Alexander. Wanita itu bersikap layaknya seorang ibu yang sedang bermain dengan suami dan putrinya.
Alexander mengangguk, seraya tersenyum. 'Manis juga ternyata dia. Ameera juga seperti tulus menyayangi Princess,' batin Alexander, memperhatikan Ameera.
Meskipun Ameera adalah sekretaris senior di Thompson Group, tapi Alexander memang jarang bersinggungan dengan Ameera. Asisten pribadinya, lah, yang sering berhubungan dengan wanita seksi tersebut. Sebab, hampir semua urusan perusahaan, Alexander mempercayakan pada Lucas. Sayangnya, asisten pribadi yang sekaligus adik iparnya, telah menikung Alexander dari belakang.
"Dad, Incess mau bobok," rengek Princess yang terlihat sudah sangat mengantuk.
"Incess mau bobok sama Daddy dan Aunty Meya," lanjutnya seraya menunjuk Ameera yang tengah merapikan mainan Princess.
"Maaf, Sayang. Incess bobok sama bibi dulu, ya. Sama daddynya kapan-kapan saja. Daddy janji, besok daddy akan beliin mainan lagi yang banyak," rayu Alexander.
Sebenarnya, Alexander sangat ingin bisa tidur sambil memeluk sang putri. Namun, keadaannya saat ini tidak memungkinkan. Dia tidak mungkin tidur di penthouse Thalia dan Moohan, sementara jika membawa sang putri ke mansion belum tentu Thalia mengizinkan.
"Gak mau! Maunya sama Daddy dan Aunty!", Princess semakin merajuk. Gadis kecil itu menjerit mengatakan keinginannya.
Moohan yang ternyata memperhatikan sejak tadi lalu mendekat. " Temanilah dulu, Ale. Kamu bisa meninggalkan putri kita jika Princess sudah tidur," sarannya.
"Tapi, Hendrick ...."
"Tidak mengapa, Ale," sahut Thalia yang ikut mendekat.
__ADS_1
"Gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk lebih mengenal calon mommy barunya Princess," lanjut Thalia, setengah berbisik. Wanita cantik itu tertawa kemudian yang diikuti oleh Moohan.
☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.