
Waktu terus berputar. Thalia menjalani perannya yang baru sebagai istri Moohan dengan sangat bahagia. Itu semua karena Moohan dan orang-orang di sekitar Thalia sangat peduli dan sayang pada wanita cantik itu, serta kedua putra-putrinya.
Terlebih Moohan. Mantan casanova itu tidak mau sedetikpun berpisah dengan istrinya. Moohan bahkan mengajak sang istri dan anak-anak yang ditemani Maria ke kantor. Hal tersebut membuat Asisten Zack sangat bahagia.
"Zack! Alihkan pandanganmu sebentar ke sini!" titah Moohan ketika sang asisten terus saja melirik ke arah Maria yang sedang bermain bersama Princess di lantai yang beralaskan permadani empuk.
Sementara di dalam ruang pribadi Moohan, Thalia tengah berbaring sambil menyusui sang putra. Wanita cantik itu sampai ketiduran. Ranjang empuk dan suasana kamar yang nyaman meskipun tidak terlalu luas, serta rasa kantuk yang menyerang, membuat Thalia tidak kuasa membuka matanya.
Ya, semenjak menjadi istri Moohan, tidur malam Thalia menjadi sangat kurang. Sebab, selain mengurus sang putra, Thalia juga harus mengurusi suaminya yang selalu meminta jatah setiap sang putra terbangun. Moohan benar-benar dibuat ketagihan dengan servis yang diberikan Thalia hingga dia selalu menagihnya.
"Lusa, kamu yang memegang kendali di perusahaan ini dan aku tidak mau jika ada satu saja yang tidak kamu mengerti," lanjut bos TMC tersebut.
"Siap, Bos," balas Zack yang kemudian tatapannya fokus ke arah layar datar di hadapan.
Moohan kembali menjelaskan apa saja yang harus dikerjakan oleh Zack. Meski asisten tersebut telah mengerti semuanya, tetap saja Moohan harus memastikan. Dia tidak mau jika sampai perusahaan jadi kacau ketika dia tinggal untuk beberapa waktu ke kota sebelah, demi menjalankan misi bersama sang istri.
Setelah menjelaskan semuanya, Moohan segera beranjak. "Aku tinggal sebentar. Silakan bawa putriku jalan-jalan di taman samping." Tanpa menunggu persetujuan Zack, Moohan bergegas masuk ke dalam kamar pribadinya untuk menyusul sang istri.
Pria berdarah campuran Jerman dan India itu tersenyum, mendapati sang istri dan putra kecilnya sama-sama terlelap dalam tidurnya. Moohan lalu mendekat ke ranjang. Senyum pria bermata kehijauan itu semakin lebar, melihat dada sang istri yang masih terbuka.
"Kebiasaanmu ini, Sayang, yang membuat juniorku ikut terbangun jika putra kita bangun di tengah malam," gumam Moohan yang kemudian melepaskan satu per satu sisa kancing yang belum terbuka.
Dalam hitungan detik, semua telah terbuka dan menampakkan dada hingga perut Thalia yang putih seputih susu. Meskipun sudah melihatnya berkali-kali, Moohan tetap menelan saliva. Pria itu perlahan mulai menghisap benda kenyal milik sang putra, membuat Thalia membuka matanya.
"Dad, ah ...." Thalia mendesah nikmat kala Moohan memainkan puncak dadanya dengan lidah.
__ADS_1
Kamar berpendingin udara itu mulai terasa panas. Seiring permainan panas yang dilakukan oleh Moohan dan Thalia. Sepasang suami-istri itu mengulang percintaan di ruangan tersebut dengan lebih nikmat karena dilakukan atas dasar saling sayang dan saling membutuhkan.
Sementara Zack yang menggendong Princess dan menggandeng mesra Maria, mendapatkan tatapan tidak suka dari Mooza. Sekretaris seksi itu kemudian beranjak dan menghadang langkah keduanya. Mooza memindai penampilan Maria dari atas hingga ke bawah dan kembali ke atas lagi.
"Jadi, wanita seperti ini selera Anda, Tuan Asisten?" tanya Mooza dengan mencibir.
"Benar, Mooza. Kenapa? Ada masalah?" balas dan tanya Zack sambil mengeratkan pelukan karena dia ingin membuat sang kekasih tetap merasa nyaman berada di sampingnya.
"Tidak, Tuan. Hanya saja, sangat disayangkan jika orang penting seperti Anda memiliki kekasih yang tidak selevel seperti wanita ini," balas Mooza yang terkenal dengan mulutnya yang pedas.
"Jika kamu menghina kekasihku seperti itu, sama saja kamu juga telah menghina istri Tuan Moohan karena kekasihku saudara Nyonya Thalia. Apa kamu sudah bosan bekerja di sini, Mooza?" Zack menatap sekretaris Moohan dengan tatapan mengintimidasi.
Mooza terdengar berdecak dengan kesal lalu segera kembali ke tempat duduk. Zack menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap sekretaris yang menurutnya tidak tahu sopan santun tersebut. Zack sebenarnya sudah lama tidak menyukai attitude Mooza, tetapi karena kecerdasan dan kegesitan wanita itu, Zack tetap mempertahankan Mooza untuk membantunya.
Zack segera mengajak sang kekasih untuk menjauh dari tempat tersebut. "Jadi main ke taman, Love?" tanyanya.
"Jangan diambil hati, Love. Mooza memang tidak pernah memakai filter jika bicara," ujar Zack. "Kalau begitu, kita ke ruanganku saja," ajaknya kemudian.
"Zack. Perkataan dia tadi ada benarnya juga setelah aku pikir-pikir," ujar Maria ketika mereka baru saja masuk ke dalam ruangan Asisten Zack.
"Maksudmu?" Zack mengerutkan dahi dengan dalam. Pria itu menurunkan Princess dari gendongan lalu dia tatap dengan lekat netra sang kekasih yang berdiri di hadapan.
"Kamu dan aku. Kita memang jauh berbeda, Zack. Rasanya, aku tidak ...."
"Aku mencintaimu, Love, dan itu sudah cukup bagiku," sergah Zack yang kemudian membungkam bibir sang kekasih dengan ciuman hangatnya.
__ADS_1
Mulanya, Maria gelagapan. Namun, sedetik kemudian dia ikut larut dan menikmati ciuman sang kekasih. Zack semakin liar memainkan lidah, membuat Maria terpancing gairah dan membalas dengan tidak kalah liarnya.
Suara rengekan Princess yang berdiri memeluk kaki Zack, menyudahi penyatuan bibir tersebut. Dengan lembut, Zack mengusap bibir Maria dari sisa salivanya. Dia lalu mencium kening Maria sekilas dan tersenyum manis pada sang kekasih.
"Love, sebaiknya kamu tidurkan Princess agar kita bisa berduaan dengan bebas," pintanya dan Maria mengangguk, setuju.
"Aku akan menunggumu sambil menyelesaikan pekerjaanku," imbuhnya kemudian yang segera beranjak menuju meja kerjanya.
Maria kemudian membuatkan susu untuk Princess. Mencuci kedua tangan serta wajah putri Thalia lalu membawanya menuju sofa. Dia pangku Princess yang sedang menyusu sambil menggoyang-goyangkan kaki untuk membuat gadis kecil itu merasa nyaman dan kemudian tertidur.
Benar saja belum habis susu dalam botol, Princess mulai mengantuk. Maria terus menggoyangkan kaki sambil bersenandung kecil. Meninabobokan putri Maria yang ketika bayi pernah dia jaga ketika sang mommy kerepotan.
Kenyang menyusu dan memang sudah waktunya jam tidur siang, tidak berapa lama kemudian Princess pun terlelap. Maria lalu menidurkan gadis kecil itu di sofa dan menyelimutinya dengan selimut lembut yang sudah dia siapkan dari mansion. Maria meletakkan bantal sofa di samping tubuh mungil Princess agar gadis itu merasa nyaman karena seperti ada yang memeluk tubuhnya.
"Apa dia sudah tidur, Love?" tanya Zack ketika melihat Maria beranjak.
"Sudah," balas Maria, singkat.
Asisten Zack segera menutup laptopnya. Dia lalu beranjak dari kursi kebesaran dan segera menghampiri sang kekasih. Tanpa basa-basi, Zack yang sudah menahan keinginan untuk mencumbui kekasihnya sejak tadi, langsung melabuhkan ciuman di bibir Maria.
Wanita berwajah manis itu menyambut dengan segenap perasaan. Maria pun mulai pandai mengimbangi permainan lidah kekasihnya. Ciuman itu semakin lama semakin panas dan menuntut lebih.
Zack lalu menuntun sang kekasih menuju kursi kebesarannya. Dia sengaja mendekat ke pintu terlebih dahulu untuk mengunci pintu tersebut. Asisten pribadi Moohan itu lalu duduk di kursi empuk miliknya dengan sang kekasih berada di atas pangkuan.
"Love, aku menginginkannya. Apakah kamu tidak kebaratan?" Zack menatap sang kekasih dengan tatapan penuh damba.
__ADS_1
Maria yang sudah berada di puncak gairah, mengangguk pasrah. Zack tersenyum lalu mulai membuka kancing blouse Maria satu per satu. Pemandangan indah terpampang nyata di depan mata Zack, membuat pria itu menjadi tidak sabar ingin segera melahap dan menikmati keindahan yang dimiliki kekasihnya.
☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.