
Masih di ruangan Thalia. Alexander terdiam setelah mendengar jawaban wanita yang berpenampilan anggun di hadapan. Dia yang sesaat tadi sempat melambung dengan begitu percaya diri, kini harus kembali menerima kenyataan bahwa dirinya memang sudah tidak berarti apa-apa lagi untuk Thalia.
"Aku tahu kesalahanku padamu begitu besar, Thalia. Bahkan beribu kata maaf yang aku ucapkan, pasti tidak akan mampu menghapus kesalahanku dan perlakuan kasar keluargaku padamu. Sejujurnya, aku sangat salut padamu, Thalia. Meskipun kesalahan kami begitu besar, tapi kamu tidak menghukum kami seperti kebanyakan yang orang lakukan. Padahal, kamu mampu melakukannya." Alexander yang sudah tidak lagi berbicara dengan formal, menatap Thalia dengan dalam.
"Sudah aku katakan tadi, bahwa aku bukanlah orang yang seperti itu, Ale!" tegas Thalia, sekali lagi.
Alexander menganggukkan kepala. "Terima kasih karena kalian sudah membuka mataku. Terima kasih sudah menyadarkan aku, Thalia, Tuan Hendrick." Alexander lalu menatap Moohan yang masih duduk di sofa dan suami Thalia itu menganggukkan kepala.
"Dan yang membuat aku semakin salut pada kalian berdua karena kalian tetap menganggap aku sebagai ayah kandung Aletha. Maafkan aku yang sempat tidak mengakuinya, Thalia," sesal Alexander seraya menundukkan kepala.
Keheningan, sejenak menyapa ruangan tersebut. Mereka bertiga tidak ada yang mengeluarkan suara. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Apakah untuk kasus Lucas bisa kita teruskan, Tuan Thompson?" Suara merdu Thalia, mengurai keheningan.
Alexander mengangguk, pasrah. "Saya ikut saja, bagaimana baiknya menurut Anda, Nyonya," balasnya yang kembali formal karena Thalia pun berbicara dengan formal.
"Kalau begitu, kita akan melanjutkan pengusutan kasus Lucas!" tegas Thalia dan Alexander hanya menganggukkan kepala.
"Itu saja yang hendak saya sampaikan,Tuan Thompson. Silakan, Anda bisa meninggalkan ruangan saya," usir Thalia dengan halus, membuat Alexander tertegun.
Dulu, dia yang memiliki kuasa penuh atas perusahaan ini. Dulu, dia yang sering mengatakan seperti itu pada anak buahnya. Sekarang, kondisinya berbalik. Dia yang harus mendengar perkataan itu dan terusir dari ruangan yang dulu adalah miliknya.
Pria yang memiliki tatapan tajam itu menelan saliva dengan susah payah dan kemudian beranjak. Alexander hendak berlalu, tetapi dia urungkan kala teringat sesuatu. Dia lalu menatap Moohan.
"Oh ya, Tuan Hendrick. Apakah Anda memiliki waktu? Jika Anda tidak keberatan, ada yang hendak saya tanyakan."
Moohan mengerutkan dahi. Pria itu lalu mempersilakan Alexander untuk duduk di sofa dengan isyarat tangannya. Orang nomor dua di Thompson group itu pun kemudian duduk berhadapan dengan Moohan.
"Apa yang akan Anda tanyakan, Tuan Thompson?" tanya Moohan sesaat setelah mantan suami Thalia duduk di hadapannya.
__ADS_1
"Ini tentang Sarah," balas Alexander. "Saya memang sudah mendengar cerita tentang Sarah dan Anda dari asisten pribadi Anda, Tuan Hendrick. Tetapi saya ingin mendengar langsung dari Anda. Sejauh mana Anda mengenal Sarah, Tuan Hendrick?" Alexander menatap Moohan, penuh selidik.
Moohan tersenyum lalu menoleh ke arah istrinya. Pria itu kemudian melambaikan tangan, meminta sang istri untuk mendekat. Dia tidak mau pembicaraannya mengenai wanita lain, membuat sang istri merasa tidak nyaman.
Thalia mendekati sang suami lalu mendudukkan diri di samping suaminya. "Ada apa, Hubby? Bukankah Tuan Thompson hanya ingin berbicara denganmu?" tanya Thalia dengan panggilan mesra terhadap sang suami, membuat hati Alexander terasa nyeri.
"Benar, Honey, tapi aku tidak mau membicarakan wanita lain jika kamu tidak di sampingku. Aku tidak mau kamu salah paham, Honey," balas Moohan yang membuat pria di hadapannya menjadi iri.
'Harusnya, aku yang bersikap seromantis itu pada Thalia.'
Alexander tiba-tiba teringat sewaktu pertama kali dia mengajak Thalia ke kantornya. Istri yang baru dinikahinya itu begitu polos dan tidak mengerti apa-apa. Penampilan Thalia juga sangat sederhana. Namun, Alexander tetap menyukainya meski sang mama menentang.
Sepanjang menemani Alexander bekerja, Thalia begitu perhatian. "Ale, kamu sudah duduk di kursi itu sejak pagi. Apakah kamu tidak merasa capek? Aku pijat, ya?" tawar Thalia dan tanpa menunggu persetujuan darinya tangan kecil istrinya itu sudah mendarat di bahu Alexander dan memberikan pijatan lembut di sana.
Alexander tersenyum sendiri, mengingat momen romantis tersebut. Tanpa dia sadari, Moohan menatapnya dengan dahi berkerut. Suami Thalia itu lalu berdeham.
"Apa yang diceritakan Zack pada Anda, Tuan Thompson?" tanya Moohan, kemudian.
"Menurut Asisten Zack, Sarah, istri saya itu adalah mantan teman kencan Anda, Tuan Hendrick. Apakah benar demikian?" tanya Alexander hati-hati seraya melirik sang mantan istri karena takut pertanyaannya yang sensitif akan melukai hati Thalia.
"Itu benar, Tuan Thompson. Dulu, sebelum mengenal Thalia saya memang brengsek!" balas Moohan sejujurnya. Pria itu lalu menceritakan masa lalunya yang memiliki banyak teman kencan, termasuk Sarah.
"Saya tidak pernah menganggap mereka sebagai kekasih karena memang saya tidak pernah memiliki perasaan apa-apa terhadap mereka semua. Barulah ketika saya bertemu dengan Thalia, saya jadi mengerti apa itu cinta," terang Moohan, kemudian. Pria bermata kehijauan itu lalu memeluk mesra pinggang istrinya, membuat nelangsa pria yang duduk di hadapannya.
Alexander terdiam. 'Jadi benar, Sarah tidak sebaik yang mama katakan?Kenapa mama bisa sampai kecolongan dan mengenalkan aku pada wanita itu? Mama juga tidak mengizinkan ketika aku hendak menyelidiki terlebih dahulu siapa Sarah. Apa ada yang disembunyikan oleh mama?' monolognya dalam hati.
"Tuan Thompson. Apa masih ada yang hendak Anda tanyakan?" tanya Moohan, membuyarkan lamunan Alexander tentang istrinya.
"Iya, Tuan Hendrick. Masih ada satu lagi," balas Alexander yang kemudian menatap Thalia. "Maaf, ini mengenai Nyonya Thalia."
__ADS_1
"Ada apa dengan istri saya?" tanya Moohan yang kemudian menatap sang istri. Sementara Thalia mengedikkan bahu, tidak mengerti.
"Setelah kepergian Thalia dari mansion sewaktu saya mengalami kecelakaan, beberapa bulan kemudian saya bertemu dengan dia di depan rumah sakit. Saat itu, Thalia sedang menggendong Aletha dan saya lihat dia tengah mengandung. Apakah saat itu, kalian sudah menikah?" tanya Alexander, menatap Moohan dan Thalia bergantian.
Thalia menghela napas panjang, mengingat momen yang menyesakkan dada itu. Sementara Moohan menatap sang istri dengan penuh rasa penyesalan. Teringat bagaimana dulu dia telah menambah beban penderitaan istrinya.
Moohan lalu menggelengkan kepala, membuat Alexander bertanya-tanya. "Lalu, anak siapakah yang kamu kandung, Thalia?" Alexander menatap wanita yang saat ini duduk dengan menyandarkan punggung pada sandaran sofa, seraya memijat keningnya.
Ya, Thalia merasa pertanyaan demi pertanyaan yang mantan suaminya lontarkan, telah menyeretnya pada kenangan masa lalu yang menyedihkan. Masa lalu yang ingin dia hapus dari memori dan tidak ingin dia ingat-ingat kembali. Kenangan yang hanya akan membuat air matanya tumpah ruah dan dadanya terasa sesak.
"Dia mengandung anak saya, Tuan Thompson," sahut Moohan, cepat. "Saat itu kami memang belum menikah. Saya bahkan sedang mencari-cari di mana keberadaan Thalia karena setelah kejadian itu, dia tiba-tiba pergi meninggalkan saya," lanjutnya.
Moohan lalu mengklarifikasi agar penilaian Alexander terhadap Thalia tidak buruk. Moohan menceritakan dari awal pertemuannya dengan Thalia. Dia menceritakan secara detail bahwa Thalia benar-benar berniat bekerja untuk menghidupi diri dan putrinya. Signal-signal rayuan yang Moohan berikan, bahkan tidak mampu membuat Thalia melirik padanya.
"Kesalahan asisten saya dan ketidakberdayaan saya mengendalikan diri akibat terlalu banyak minum minuman beralkohol, membuat saya kehilangan Thalia," imbuhnya yang masih saja terlihat penuh penyesalan jika mengingat peristiwa tersebut.
"Asalkan Anda tahu, Tuan Thompson. Bahkan hingga sejauh itu, Thalia masih sangat mencintai Anda," imbuhnya.
Thalia menyenggol lengan sang suami dan kemudian menggeleng-gelengkan kepala. Meminta sang suami agar menyudahi membuka semuanya. Namun, Moohan tetap saja meneruskan ceritanya karena tidak ingin Alexander menyalahkan Thalia dan memandang sang istri sebelah mata.
"Sepanjang kami bercinta, bahkan yang dia sebut adalah nama Anda, Tuan ...."
"Cukup, Hubby! Itu dulu karena aku bodoh dan dibutakan oleh cinta! Sekarang tidak lagi, Hubby! Aku tahu mana yang tulus dan mana yang palsu!" Thalia berkata dengan penuh emosional.
Moohan lalu memeluk istrinya, mencoba menenangkan Thalia. "Maafkan aku, Honey. Aku harus menceritakan semua supaya tidak menjadi ganjalan dalam hati dan agar mantan suamimu terbuka matanya bahwa kamu hanyalah korban dari fitnahan keluarganya. Aku tidak mau dia memandang negatif terhadapmu, Honey. Kamu wanita terhormat, kamu wanita yang setia."
Sementara di tempatnya duduk, Alexander menunduk dan semakin larut dalam penyesalan setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya bahwa cinta sang mantan begitu besar. Ditambah perkataan Moohan barusan yang solah menampar kesadarannya. 'Andai aku tahu dari awal, aku pasti tidak akan kehilanganmu, Thalia.'
☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.
__ADS_1