Pesona Sang Janda

Pesona Sang Janda
Menjijikkan!


__ADS_3

Ketegangan tercipta di mansion mewah Alexander, setelah pria itu mengambil keputusan bahwa dia akan menceraikan Sarah. Sang mama awalnya terus membujuk, tapi Alexander bergeming. Nampaknya, keputusan mantan suami Thalia untuk menceraikan sang istri sudah final.


"Oke, Ale! Terserah padamu! Jika kamu mengusir Sarah dari mansion, mama akan ikut dengannya!" ujar Nyonya Grace yang terdengar mengancam.


"Mama adalah mama Ale dan Ale tidak akan membiarkan Mama hidup susah di luar sana! Kalaupun Sarah keluar dari mansion ini, Ale juga tidak akan mungkin membiarkan dia keluar begitu saja tanpa uang! Tidak seperti apa yang telah Mama lakukan pada Thalia!" Tatapan Ale begitu lekat pada netra keabuan sang mama.


Nyonya Grace terdiam. Dia merasa dihakimi oleh sang putra. Wanita paruh baya itu pun akhirnya menyerah dan menerima apa pun keputusan Alexander nantinya jika Sarah sudah pulang.


Wanita yang duduk di kursi roda itu kemudian kembali ke dalam kamar dengan dibantu oleh Pak Ben yang setia mendorong kursi rodanya. Dia berlalu tanpa berbicara sepatah kata pun pada sang putra. Alexander hanya dapat menghela napas panjang melihat sikap sang mama.


'Maafkan Ale, Ma. Sejak awal Ale sudah tidak mau menerima perjodohan ini, tapi Mama terus memaksa dan membanding-bandingkan Sarah dengan Thalia. Ternyata semua yang mama katakan adalah kebohongan! Putri kandung mama tidak sebaik apa yang mama katakan dan Thalia, ternyata Thalia tidak seperti yang mama ceritakan pada Ale!' Pria yang wajahnya kusut itu menatap punggung sang mama hingga wanita paruh baya tersebut menghilang di balik pintu kamar.


Alexander masih duduk di ruang keluarga. Wajahnya terlihat sangat serius. Rupanya, Alexander sedang memikirkan cara bagaimana agar Sarah bisa menerima keputusannya dan sang mama mau tetap tinggal bersama Alexander di mansion.


Lamunan pria itu terurai kala mendengar langkah kaki yang dihentak kuat seolah terdengar sangat kesal, semakin mendekat. Alexander lalu menoleh ke arah sumber suara. Dia mengerutkan dahi ketika melihat penampilan kusut sang istri.


'Kenapa dengannya?'


Alexander kemudian teringat dengan perbincangannya dengan seorang pria muda di jalan tadi. Mantan suami Thalia itu semakin yakin bahwa wanita yang menurut kabar yang dia dengar bertingkah seperti orang gila di jalan raya tadi, adalah benar Sarah istrinya. Alexander menghela napas berat kemudian.

__ADS_1


"Oh, kamu sudah pulang rupanya? Bagaimana pertemuan kamu dengan Thalia? Apa dia mau menerimamu kembali, Ale?"


Cercaan pertanyaan Sarah, membuat Alexander mengerutkan dahi. "Jadi, kamu mengikutiku?"


Sarah tertawa sumbang, kemudian. Sementara Alexander terdiam. Dia masih mengira-ngira apa yang dimaui oleh wanita yang saat ini masih berstatus sebagai istrinya.


"Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu tidak bunuh diri, setelah mendengar permintaan cerai dariku, Ale!" Suara Sarah terdengar mengejek, membuat Alexander menghela napas kasar.


"Bagaimana keputusanmu, Ale? Apa kamu mau memenuhi tuntutanku?" tagihnya, kemudian.


Alexander tersenyum miring. "Untuk yang pertama, tentu aku sangat setuju, Sarah! Aku memang sudah bosan denganmu dan tidak tahan lagi dengan keegoisan kamu!"


Kalimat Alexander yang meluncur lancar dari bibir pria itu yang seksi, membuat Sarah yang menyangka bahwa sang suami tidak akan mengabulkan permintaan cerainya begitu saja, terkejut. Selama ini dia pikir, Alexander yang selalu menuruti semua keinginan Sarah itu karena sang suami sangat mencintainya. Dia begitu percaya diri bahwa Alexander tergila-gila padanya seperti kebanyakan pria di luar sana.


Di pernikahannya yang pertama, Alexander bahkan sangat memanjakan Thalia. Sebab, selain janji suci yang telah terucap, pria itu juga mencintai mantan istrinya. Sayangnya, kebahagiaan Alexander dan Thalia tidak berlangsung lama karena sang mama bertindak memisahkan mereka ketika dia sedang koma.


"Kenapa terkejut seperti itu, Sarah? Bukankah kamu sendiri yang meminta?" Alexander menatap lekat netra wanita seksi di hadapan yang merupakan istri dan sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya.


"Tidak! Aku justru senang mendengarnya," kilah Sarah. "Lalu, bagaimana dengan tuntutanku yang kedua?" tanyanya, kemudian.

__ADS_1


"Kamu tidak memiliki hak apa-apa di Thompson Group, Sarah, karena kamu datang di saat Thompson Group sedang di atas dan di antara kita tidak ada anak. Berbeda dengan Thalia yang mendampingi aku ketika merangkak dulu dan di antara kami ada anak sebagai pengikat. Jadi, aku hanya akan memberimu uang untuk modal usaha karena semua saham milikku akan aku alihkan pada putriku."


Jawaban Alexander bagai petir yang menggelegar di siang bolong. Sarah nampak sangat syok. Harapannya untuk keluar dari mansion dengan membusungkan dada karena akan menjadi janda kaya raya, musnah sudah.


Sementara di kamar Nyonya Grace. Wanita paruh baya tersebut yang ternyata menguping pembicaraan sang putra dan putri kandungnya dari balik pintu yang terbuka sedikit, tidak kalah syok. "Tidak! Aku tidak akan membiarkan putri Thalia mendapatkan semuanya!"


Pak Ben yang dengan setia mendampingi lalu memeluk bahu sang kekasih dan mencoba meredam amarah Nyonya Grace. "Jangan lupakan, Gracy, putri Thalia itu putri kandung Ale. Kamu tidak dapat mencegah apa yang sudah menjadi keputusan putramu. Ingat, Sayang. Kamu sudah melakukan banyak kesalahan pada Ale dan sekarang, biarkan dia menentukan hidupnya sendiri," bijak Pak Ben menasehati kekasihnya.


Nampak netra kebuan Nyonya Grace berkaca-kaca. Hati kecilnya membenarkan ucapan pria yang selama ini menjadi tempat curahan hatinya. "Tapi aku baru bisa bersama Sarah, Ben, dan aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk bisa bersamanya lagi." Wanita paruh baya itu terisak di dada bidang sang kekasih.


Tidak ingin membuat wanita yang sudah memanjakan dirinya dengan limpahan materi dan kehangatan tubuh, Pak Ben lalu membopong tubuh Nyonya Grace dan merebahkan di ranjang. "Jangan terlalu kamu pikirkan, Gracy. Aku khawatir nanti kamu jadi sakit."


Pria paruh baya itu menatap dalam netra wanita kesayangan. Dia lalu mendekatkan wajah dan mengikis jarak diantara keduanya. Pak Ben mulai menyatukan wajah dan melu*mat bibir Nyonya Grace yang merupakan candu baginya. Ya, itulah cara Pak Ben untuk meredakan emosi sang wanita yang suka meledak-ledak.


Sementara di ruang keluarga, keheningan masih tercipta. Sarah yang masih syok nampak membisu. Begitu pula dengan Alexander yang juga tengah merenung.


"Secepatnya, tempat usaha yang kamu inginkan akan aku wujudkan, Sarah! Begitu juga dengan surat cerai, aku akan segera mengurusnya agar kamu bisa segera terbebas dariku dan bebas berhubungan dengan banyak pria yang kamu mau di luar sana!"


"Berhubungan dengan banyak pria? Apa maksudmu, Ale?" Sarah nampak sangat cemas. 'Apa dia sudah tahu, apa yang aku lakukan di luar sana?'

__ADS_1


"Jangan berpikir bahwa kamu bisa membodohiku, Sarah! Aku tahu kamu terlibat kencan dengan banyak pria di luar sana! Kamu bahkan sudah tidak dapat lagi hidup tanpa kehangatan dan sentuhan pria! Kamu juga tidak dapat hidup tanpa ****, meskipun kamu harus melakukannya seorang diri! Menjijikkan!" Setelah mengatakan semua yang dia ketahui tentang sang istri, Alexander segera berlalu meninggalkan Sarah yang masih termenung seorang diri.


☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.


__ADS_2