
Sarah terus mengikuti langkah suaminya. Wajah wanita bertubuh tinggi semampai dengan body yang seksi itu terlihat sangat kesal. Dia kesal pada Thalia karena wanita yang dulu hanya bekerja sebagai tukang bersih-bersih tersebut telah dapat membuat Moohan bertekuk lutut dan menikahinya.
Bukan hanya Moohan, ternyata suaminya, Alexander, adalah mantan suami Thalia. Sarah semakin kesal pada Thalia karena sepanjang acara tadi, mendapati tatapan sang suami terus saja menatap kagum ke arah mantan istri Alexander. Dia merasa bahwa Thalia adalah sebuah ancaman baginya.
"Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak mau, posisiku di samping Alexander terancam karena kehadiran wanita itu! Apalagi, Alexander juga sudah mengetahui masa laluku dan kini mulai menjauh!" gumam Sarah sambil mengendarai mobilnya, mengikuti mobil sang suami yang telah malaju di jalan raya.
"Bagaimana kalau Alexander menceraikan aku?" Sarah memukul-mukul setir mobilnya sendiri. Meluapkan kekesalan yang sedari tadi bersemayam di hati.
Sarah menghentikan laju mobilnya ketika melihat mobil sang suami memasuki pintu gerbang bangunan mewah milik keluarga Thompson. Wanita itu nampak ragu, haruskah ikut pulang ke mansion di saat pikiran sang suami sedang tidak baik-baik saja ataukah menunggu hingga Alexander melupakan masalah semalam? Sarah nampak menimbang-nimbang.
Suara klakson dari mobil di belakangnya, mengejutkan Sarah yang kemudian tersadar dari lamunan. Mobil itu kemudian berhenti tepat di samping mobil Sarah. Sang pengemudi membuka kaca jendelanya, lalu berteriak, "woi! Ngapain Kakak berhenti di sini?"
Rupanya, pengemudi mobil di sampingnya adalah Jean, adik kandung Alexander satu-satunya. Adik yang selalu dimanjakan oleh sang mama mertua. Sarah yang juga membuka kaca jendela mobilnya, menghela napas panjang kemudian.
"Aku baru saja terima telepon dari papa," kilah Sarah. Dia terpaksa berbohong karena tidak mau Jean yang terkenal sebagai si tukang mengadu itu, menceritakan apa yang dilihatnya pada sang mama mertua.
Jean menganggukkan kepala lalu segera melajukan mobilnya kembali. Mau tidak mau, Sarah pun mengikuti mobil Jean. Dia harus menyiapkan mental jika setibanya di mansion nanti, Alexander akan berceramah panjang dan lebar.
Setelah memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil sang suami, Sarah segera turun lalu masuk ke dalam mansion mewah tempat dia tinggal beberapa bulan ini. Dia berjalan sangat cepat melintasi ruang tamu super luas dan juga ruang keluarga yang tidak kalah luas agar bisa secepatnya tiba di kamarnya. Sarah tidak ingin bertemu dengan sang mama mertua saat ini karena kondisi hati Nyonya Grace juga sedang tidak baik-baik saja.
Langkah Thalia terhenti ketika dari ruang kerja sang suami yang pintunya tidak ditutup, terdengar suara teriakan kemarahan Alexander. Suara itu kemudian disusul jeritan Jean yang baru saja masuk ke mansion tersebut. Sarah mengerutkan dahi dengan dalam, menduga apa yang terjadi di dalam sana.
Sedetik kemudian, mantan super model yang seksi itu menggelengkan kepala. "Bukan urusanku. Sebaiknya, aku ke kamar saja dan beristirahat. Jiwaku lelah, ragaku juga ikut lelah," gumamnya yang segera meneruskan langkah.
Baru beberapa langkah Sarah berjalan, dia kembali menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah suara Jean yang berseru memanggil nama suaminya. Sarah melihat Lucas keluar dari ruang kerja Alexander dengan tergesa. Disusul oleh Jean yang menangis sambil menahan langkah sang suami.
__ADS_1
"Lucas! Jangan pergi Lucas, kumohon!" Jean bersimpuh di kaki Lucas.
"Jangan kamu tangisi pengkhianat seperti dia, Jean!" seru Alexander dengan tatapan kemarahan pada asisten pribadinya. Bukan, bukan lagi asisten pribadi karena baru saja Lucas mengundurkan diri setelah Alexander bukan lagi pimpinan di Thompson Group.
"Maaf, Alexander. Aku sudah mengambil keputusan untuk berhenti bekerja di Thompson Group. Aku akan kembali ke tempat asalku," pamit Lucas.
"Kenapa, Lucas? Kenapa mendadak seperti ini? Apa karena saat ini aku bukan lagi pimpinan di perusahaan?" cecar Alexander dengan tatapan menyelidik.
"Itu salah satunya," jawab Lucas yang membuat Alexander menghela napas panjang. "Maaf, jika aku juga harus menceraikan adikmu," lanjutnya.
Alexander menatap tidak percaya pada asisten pribadi, sekaligus adik iparnya tersebut. Dia tidak percaya, Lucas yang dulu begitu tergila-gila pada Jean, dengan mudah menceraikan sang adik. "Kamu hanya bercanda, kan?"
Lucas menggelengkan kepala. "Tidak. Aku serius dengan ucapanku dan aku juga sudah meminta Jean untuk segera pulang," balas Lucas.
Mendengar perkataan sang adik dan melihat sikap Jean yang manja pada suaminya, rahang Alexander mengeras. Pria itu sangat marah pada Lucas karena telah mempermainkan perasaan adiknya. Kedua tangan Alexander terkepal sempurna, siap meninju wajah munafik Lucas jika sampai membuat Jean menangis.
"Jean, ada yang harus aku sampaikan padamu," ujar Lucas. Pria itu melepaskan jerat tangan Jean dari lengannya dengan sedikit kasar, membuat adik kandung Alexander tersentak kaget.
"Kamu kenapa, sih, Sayang? Kenapa jadi kasar sama aku sekarang?" tanya Jean dengan dahi berkerut dalam.
"Mulai sekarang, kita berpisah, Jean. Kamu bukan lagi istriku." Lucas menatap Jean tanpa ada rasa bersalah sama sekali.
"Tidak, Lucas! Kamu pasti bercanda, kan?" Air mata Jean, mulai bercucuran.
Lucas menggelengkan kepala. Ya, pria yang memang tidak tidak pernah mencintai Jean itu menceraikan adik kandung Alexander yang manja begitu saja. Alasannya karena dia ingin kembali ke kota kecil tempat asal Lucas.
__ADS_1
"Maaf, Jean. Aku tahu, kamu tidak akan dapat hidup sederhana bersamaku. Untuk itulah aku menceraikan kamu agar kamu bisa bebas memilih pria yang bisa menuruti semua keinginan kamu itu," ujar Lucas dengan sangat lugas.
Baru saja selesai Lucas berkata, bogem mentah dia terima dari sang mantan kakak ipar. Netra Alexander berkilat penuh amarah, menatap sang mantan asisten pribadi. "Kamu memang baji*ngan, Lucas!"
Dua kali tinju dari Alexander mendarat di wajah Lucas. Pukulan keras yang penuh amarah itu membuat wajah putih Lucas membiru dan darah segar keluar dari sudut bibirnya yang pecah. Lucas mengusap bibirnya yang berdarah dan kemudian tersenyum penuh kemenangan.
Dia tidak peduli meskipun Alexander telah membuat wajahnya babak belur. Satu hal yang membuat Lucas tersenyum karena kini dia sudah terbebas dari wanita manja dan posesif seperti Jean. Dia juga tenang meskipun tidak lagi bekerja di Thompson Group yang memberinya gaji besar karena pundi-pundi hartanya di tempat asal, sudah berlimpah.
"Hentikan, Kak!" teriak Jean yang tetap ingin melindungi Lucas, pria yang sangat dia cintai.
"Kumohon, Lucas, jangan ceraikan aku," pinta Jean kemudian yang terdengar pilu. Namun, Lucas tidak menghiraukan tangis dan rengekan Jean. Dia tetap berlalu meninggalkan ruang kerja Alexander dengan langkah pasti.
Suara tangisan pilu Jean dan suaranya yang terus memohon sambil bersimpuh di kaki Lucas tepat di depan ruang kerja Alexander, membangunkan Nyonya Grace yang baru saja terlelap. "Ada apa ini?" tanya Nyonya Grace yang berusaha untuk membuka matanya dengan sempurna.
Wanita paruh baya tersebut membulatkan mata, kala melihat sang putri kesayangan bersimpuh di kaki Lucas. "Apa-apaan ini? Kenapa kamu bersimpuh di kaki pria yang kastanya lebih rendah dari kita, Jean?"
Nyonya Grace menatap sang putra yang masih berdiri dengan berkacak pinggang di hadapan Lucas. Aura kemarahan terlihat jelas menyelimuti wajah tegas Alexander. Melihat tatapan sang mama yang tertuju ke arahnya, pria itu kemudian membantu sang adik untuk berdiri.
"Bajingan itu telah mempermainkan Jean, Ma! Dia telah menyakiti hati Jean dan dia tidak benar-benar mencintai Jean!" Alexander menuding tepat di depan wajah bonyok sang mantan adik ipar.
Lagi-lagi, Lucas hanya tersenyum. Sama sekali tidak ada raut penyesalan di wajahnya. Dia usap kembali darah yang masih mengalir di bibir.
"Kalimat itu juga berlaku untuk dirimu sendiri, Alexander! Apa kamu tidak ingat bahwa kamu juga pernah menyakiti seorang wanita? Apa kamu juga benar-benar mencintai Thalia ketika kamu menikahinya dulu?" Lucas tersenyum seringai karena telah berhasil membuat Alexander tersudut dan kesal dalam waktu yang bersamaan.
☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.
__ADS_1