
Alexander gelisah menanti pintu penthouse dibukakan oleh sang empunya. Dia sudah menghubungi Moohan tadi sewaktu berjalan menuju lift. Pria itu mengusap-usap tengkuknya dengan perasaan tidak menentu.
Perasaan cemas, apakah dia akan diizinkan atau tidak untuk bertemu dengan Aletha. Perasaan bahagia karena tadi sewaktu ditelepon, Moohan terdengar menyambut baik kehadirannya. Semua itu menyatu dan membuat Alexander berdebar seperti hendak bertemu dengan sang pacar.
Terdengar suara pintu dibuka dari dalam dan sosok Moohan muncul dengan mengembangkan senyuman. "Hai, Alexander. Apa kabar?" tanyanya ramah.
"Kabar baik, Hendrick. Maaf jika kedatanganku mengganggu waktu santai keluarga kalian," balas Alexander, sedikit canggung.
"Tidak masalah. Bukankah kita berteman? So, kamu bebas datang kapan pun. Asalkan, jangan malam-malam juga kamu datang karena itu waktu spesial kami," ujar Moohan seraya terkekeh, membuat Alexander pun ikut tertawa.
Sang tuan rumah lalu mengajak tamunya untuk masuk ke dalam. Moohan langsung mengajak teman baru yang merupakan mantan suami dari istrinya, menuju ruang tamu. "Silakan duduk, Alexander. Jangan sungkan."
Alexander tersenyum lebar. Senyum yang menyiratkan kebahagiaan di hati karena sang tuan rumah bersikap ramah. "Terima kasih, Hendrick."
Thalia yang sudah diberitahu oleh sang suami bahwa Alexander akan datang, kemudian keluar dari kamarnya. Dia menghampiri sang mantan suami, sembari mengulas senyuman. Tidak ada lagi rasa sakit hati atau pun dendam.
"Ale, apa kabar?" tanya Thalia seraya mengulurkan tangan.
Tentu saja Alexander menyambutnya dengan antusias dan langsung berdiri. "Kabar baik, Tha." Sejenak, tatapan Alexander tertuju pada netra indah Thalia.
"Silakan duduk, Ale." Suara merdu sang mantan istri, mengurai tatapan Alexander.
"I-iya. Terima kasih," ujar mantan suami Thalia itu, gugup.
__ADS_1
"Bagaimana acara pernikahan asisten kamu itu, Hendrick?" tanya Alexander, mencoba mengurai kegugupannya sendiri.
"Puji Tuhan, semua berjalan dengan lancar. Mereka nampak sangat bahagia dan Zack berencana untuk mengajak istrinya berbulan madu ke negara asal orang tua Maria," terang Moohan. Pria tampan itu lalu menatap sang istri.
"Karena itulah, Ale, ada yang akan kami bicarakan padamu. Kebetulan, kamu datang kemari," timpal Thalia, kemudian.
Alexander mengerutkan dahi. "Ada apa? Kelihatannya sangat serius?" cecarnya dengan perasaan yang kembali berdebar.
Mantan suami Thalia itu berharap, bahwa apa yang akan disampaikan oleh sang tuan rumah bukanlah sesuatu yang serius. Dia tidak akan sanggup berpikir jika itu menyangkut hal yang berat. Sebab, saat ini pikiran Alexander sudah dipenuhi oleh berbagai kerumitan.
"Tentang kepemimpinan Thompson Group," balas Thalia. "Lucas sudah mulai diproses dan dia juga bersedia mengembalikan sebagian dari apa yang sudah dia ambil. Dia juga sudah menerima konsekuensi atas perbuatannya. Kamu bisa membeli sebagian saham milik kami agar kamu bisa kembali ke posisimu, Ale," lanjut Thalia.
Alexander menggelengkan kepala.
"Saat ini, aku belum bisa fokus memikirkan perusahaan. Apalagi istri ...." Pria itu menghentikan perkataan. Dia hampir saja keceplosan menceritakan masalah rumah tangga dan keluarganya pada teman barunya itu.
"Katakan saja, Ale. Barangkali kami bisa membantu," pinta Moohan yang kemudian merubah posisi duduknya. "Itu jika kamu tidak keberatan dan menganggap kami sebagai teman," lanjutnya seraya tersenyum tulus dan Thalia menganggukkan kepala, membenarkan ucapan suaminya.
Alexander masih terdiam. Dia nampak menimbang-nimbang. "Sarah meminta berpisah dan menuntut sebagian dari saham di Thompson group."
"Apa kamu akan mengabulkan permintaannya?" Moohan menatap lekat pria yang seusia dengannya yang duduk di hadapan.
Alexander menggelengkan kepala. "Aku belum tahu. Lagi pula, mamaku melarang kami untuk berpisah. Aku khawatir, jika perpisahan itu terjadi akan semakin memperburuk keadaan mama." Ya, mantan suami Thalia itu masih saja memikirkan Nyonya Grace meskipun dia bukan mama kandungnya.
__ADS_1
Moohan dan Thalia mengangguk-anggukkan kepala. Salut juga dengan sikap Alexander yang sayang dan hormat pada mamanya.
"Oh, ya. Apakah kamu tahu satu hal?" tanya Moohan, kemudian. "Tentang mama kamu," lanjutnya, hati-hati.
"Apakah kamu juga mengetahui, kalau Mama Grace bukan mama kandungku? Apa pamanmu yang mengatakannya?" tebak Alexander karena dia mengetahui bahwa Nyonya Grace ternyata bukan mama kandungnya, dari salah satu rekan bisnis almarhum sang papa yang juga merupakan rekan bisnis Paman Hilbert.
"Bukan dari pamanku, Ale, tapi dari orang-orang kepercayaanku yang aku suruh untuk mencari tahu tentang Sarah," balas Moohan, membuat Alexander menautkan kedua alisnya.
"Sarah?"
"Maaf, Ale. Kami ingin menyerahkan kembali Thompson Group kepadamu, tapi kami tidak dapat percaya begitu saja jika di sekelilingmu masih ada orang yang culas, seperti Lucas," sahut Thalia.
"Sebab, saham kami yang di sini nantinya akan kami alihkan untuk Princess. Jadi, kami butuh orang-orang yang dapat di percaya," lanjutnya.
"Dan tentang Sarah, dia ternyata putri kandung Nyonya Grace dengan almarhum Tuan Antony," timpal Moohan.
Alexander menyipitkan kedua netra tajamnya. Menatap lekat Moohan, seolah mencari kebenaran di sana. "Apa aku bisa mempercayaimu?"
Moohan mengangguk, pasti. "Orangku bekerja dengan mencari bukti, bukan hanya sebatas apa kata orang," balas Moohan, meyakinkan.
Alexander menggelengkan kepala kuat-kuat. Perasaannya kembali tidak karuan. "Sebenarnya, aku datang ke sini karena ingin bertemu dengan putriku. Aku sedang kalut karena di rumah begitu banyak masalah. Namun, justru di sini aku mendapatkan informasi yang semakin membuatku frustasi."
Pria itu lalu beranjak. "Salam sayang untuk Aletha. Aku akan ke sini lagi jika masalahku sudah selesai, itu pun kalau kalian mengizinkan," ujarnya dengan suara bergetar menahan amarah yang memuncak.
__ADS_1
☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.