
Waktu terus berputar. Siang dan malam datang dan pergi, silih berganti. Moohan yang disibukkan dengan urusan pembelian saham di Thompson Group, tidak sempat memikirkan untuk menagih jawaban Thalia.
Kesibukan yang mengharuskan Moohan wara-wiri di dua kota yang memiliki jarak tempuh cukup panjang, membuat bos TMC tersebut juga kehilangan banyak waktu kebersamaan dengan Thalia dan anak-anaknya. Dia bahkan sampai jatuh sakit karena kelelahan. Ternyata, membutuhkan energi yang luar biasa banyak dan juga menguras pikiran untuk bisa merebut kekuasaan Thompson Group dari Alexander, pemilik saham terbesar sebelumnya yang kekuasaannya sudah turun-temurun.
Sementara Thalia yang masih menata hati, kini telah merasa yakin dengan Moohan. Sikap dan perilaku pria itu yang menunjukkan keseriusannya, membuat ibu dua anak tersebut tidak dapat memungkiri bahwa Moohan adalah pria yang baik. Meskipun di awal ayah dari sang putra telah menorehkan luka di hati Thalia.
"Apa kamu sudah benar-benar yakin, Thalia? Mr. Moohan memang orang yang baik, tapi aku tidak mau kamu terluka untuk yang kedua kalinya," tanya Maria ketika sahabatnya itu meminta pendapat untuk menemui Moohan yang terbaring di kamar dan bermaksud memberikan jawaban.
"Ya, Maria. Aku sudah yakin, sekarang. Setiap orang bisa saja melakukan kesalahan. Namun, jika orang tersebut telah menyadari kekeliruannya lalu menyesali dan mau memperbaiki diri, tidak ada salahnya bukan jika memberikan kesempatan?" balas Thalia dengan balik bertanya dan Maria mengangguk, membenarkan.
Begitulah yang saat ini dipikirkan oleh Thalia. Moohan memang memiliki masa lalu yang buruk. Pria itu juga pernah membuatnya terluka dan sempat hidup menderita karena benih Moohan yang tumbuh subur di rahimnya. Namun, dia telah meminta maaf dan menunjukkan perubahan baik serta bersikap manis pada Thalia, dan wanita cantik itu tidak ingin terus-terusan terbelenggu dengan masa lalunya.
"Jadi, kamu ingin menemuinya sekarang?" Maria menatap sang sahabat, hendak memastikan dan Thalia mengangguk yakin.
"Aku harus menemuinya sekarang dan memberikan jawaban. Kasihan dia jika lama menanti yang tidak pasti," tegas Thalia dan Maria mengangguk lalu menepuk pundak sang sahabat untuk memberikan dukungan.
Dia sudah bekerja keras untuk mewujudkan keinginanku sampai jatuh sakit. Tidak adil rasanya jika aku masih belum bisa mempercayai dan menerima dia. Apalagi, Mama Brenda selama ini juga sangat sayang padaku dan anak-anak. Tidak ada lagi yang perlu aku khawatirkan seperti pernikahanku yang dulu. Pernikahan yang tidak mendapatkan restu hingga mertua dan iparku senantiasa memusuhiku bahkan sangat kejam padaku." Tatapan Thalia menerawang, teringat dengan masa lalunya ketika masih tinggal di mansion mantan suaminya.
Di depan kamar Thalia yang tidak tertutup rapat, Nyonya Brenda tersenyum mendengar perkataan wanita muda yang telah berhasil mencuri hatinya sejak pertama kali bertemu. Wanita anggun itu mengurungkan niat untuk masuk ke kamar Thalia. Tadinya Nyonya Brenda hendak mengambil King dan mengajak sang cucu jalan-jalan sore di seputar komplek bersama Princess yang sudah berada di gendongannya.
"Sayang, kita jalan-jalannya besok saja, ya. Sekarang, kita ke kamar daddy untuk memberi kabar bahagia," bisik Nyonya Brenda pada gadis kecil yang belum genap berusia satu tahun.
Wanita paruh baya tersebut lalu berjingkat meninggalkan tempat itu untuk menuju kamar sang putra. Senyuman kebahagiaan senantiasa menghiasi wajah cantik Nyonya Brenda. Hal itu menimbulkan tanya bagi para asisten yang sedang melintas dan memergoki sang nyonya besar senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Nyonya Brenda melintasi ruangan demi ruangan untuk menuju kamar sang putra. Mamanya Moohan itu tidak mengetuk pintu terlebih dahulu dan langsung masuk ke dalam kamar mewah putranya. Moohan yang baru saja membuka mata, mengerutkan dahi melihat senyum di wajah sang mama yang tidak seperti biasa.
"Ada apa, Ma? Kelihatannya, Mama sangat bahagia," tanya Moohan dan Nyonya Brenda mengangguk, membenarkan.
"Bersiaplah, Nak. Sebentar lagi, kamu juga akan tahu apa yang membuat mama bahagia," balas Nyonya Brenda yang tidak ingin mendahului Thalia.
Biarlah Thalia sendiri yang menyampaikan pada putranya, kabar yang membahagiakan tersebut. Nyonya Brenda ingin agar sang putra dan wanita pujaan Moohan, memiliki kenangan indah kebersamaan di momen kali ini. Sebagai orang tua, wanita anggun itu akan memberikan dukungan semampu yang dia bisa.
Setelah mendudukkan Princess di samping daddynya, Nyonya Brenda mulai sibuk menyiapkan baju untuk sang putra. Hal itu membuat Moohan semakin bingung, apa yang sebenarnya terjadi. "Ma. Ada apa, sih?" tanya Moohan ketika sang mama menyimpan baju ganti yang dia pilihkan untuk sang putra, di atas nakas.
"Sudah, jangan banyak tanya! Buruan bersihkan tubuhmu dengan air hangat lalu pakai baju itu!" titah sang mama, seperti pada anak kecil.
Moohan yang memang selalu nurut dengan perintah sang mama, segera beranjak lalu berjalan perlahan menuju kamar mandi. Tubuhnya memang masih lemah, kepalanya juga masih terasa berat, tetapi ini sudah lebih baik setelah meminum obat dari dokter dan tidur selama beberapa jam sedari dia pulang tadi siang. Pria itu lalu membersihkan diri dengan cepat karena rasa pusing masih mengikat.
"Lumayan, Ma. Kepala rasanya masih agak berat," balas Moohan sambil memijat tengkuknya sendiri.
"Buruan pakai baju! Biar enggak tambah parah sakitnya!" Nyonya Brenda nampak khawatir. Wanita anggun itu juga merasa bersalah karena memaksa sang putra untuk membersihkan badan, di saat kondisi Moohan sedang tidak fit.
Moohan lalu menyemprotkan parfum beraroma maskulin ke seluruh tubuhnya. Tepat di saat yang sama, pintu kamarnya diketuk. Nyonya Brenda tersenyum lalu segera beranjak sambil mengangkat tubuh kecil Princess.
"Biar mama saja yang buka. Sekalian, mama mau mengajak Princess dan King bermain di taman samping." Tanpa melihat respon sang putra, Nyonya Brenda bergegas menuju pintu.
Tepat dugaannya bahwa yang datang adalah Thalia. Senyuman Nyonya Brenda semakin lebar. "Silakan masuk, Thalia," suruhnya dengan membuka pintu lebar-lebar.
__ADS_1
"Ma," sapa Thalia, malu-malu. "Mama mau kemana?" tanyanya kemudian.
"Mama mau ngajak cucu-cucu main di taman, Thalia. Kalian bisa ngobrol berdua dengan tenang dan nyaman di dalam," balas Nyonya Brenda yang kemudian menutupkan pintu kamar sang putra.
Thalia masih berdiri di tempatnya semula dengan tatapan mengarah ke pintu yang sudah tertutup rapat. Sementara Moohan tersenyum melihat kedatangan Thalia. 'Jadi ini maksud mama,' batinnya, senang.
"Sayang. Sampai kapan kamu akan berdiri di situ?" Suara maskulin Moohan, membuat Thalia menoleh.
Thalia mematung melihat Moohan yang bertelanjang dada. Bulu-bulu halus di dada pria tampan itu terlihat begitu menggoda. Perutnya yang kotak-kotak seperti roti sobek, semakin menambah kesan seksi pria bertubuh tinggi tegap tersebut. Thalia berdesir menatapnya.
"Ayo, duduk!" ajak Moohan yang tahu-tahu sudah berada di samping Thalia lalu menuntun tangan sang wanita menuju sofa.
Thalia seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Dia patuh dan menurut saja ketika di dudukkan di sofa empuk. Moohan lalu duduk disamping sang kekasih hati.
Mencium aroma wangi maskulin yang menguar dari tubuh Moohan, membuat Thalia tersadar bahwa pria yang ingin dia temui kini telah berada di sampingnya. Thalia menjadi kikuk sendiri dan salah tingkah. Dia lalu membetulkan duduknya, menghadap Moohan.
"Dad. Ada yang mau aku sampaikan," ujar Thalia kemudian setelah merasa sedikit tenang.
Netra keduanya bertaut dalam. Moohan lalu menempelkan jari telunjuk ke bibir Thalia sebagai isyarat agar sang kekasih hati tidak mengatakan apapun untuk saat ini. Moohan ingin menikmati sejenak kebersamaan dengan Thalia dengan posisi yang sangat intim.
Moohan mendekatkan wajah seraya memejamkan mata. Menikmati hangat hembusan napas Thalia dan aroma lembut parfum wanita pujaan. Dekat dan semakin dekat. Thalia pun ikut terhanyut karenanya.
☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.
__ADS_1