
Acara pemberkatan pernikahan di gereja itupun usai. Moohan segera mengajak sang istri ke salah satu hotel miliknya karena tidak ingin ada yang mengganggu. Awalnya Thalia menolak karena merasa berat jika harus berpisah dengan King yang masih menyusu.
Nyonya Brenda berhasil meyakinkan sang menantu bahwa stok asi untuk King masih cukup sampai malam. Thalia pun akhirnya bersedia. Moohan melajukan sendiri mobilnya dengan kecepatan penuh menuju hotel.
Pria itu nampak tidak sabar ingin segera menikmati hari pertamanya sebagai seorang suami. Dia memang sudah pernah berhubungan dengan Thalia sebelumnya, tetapi kejadian itu di luar kendalinya. Moohan ingin merasakan jika mereka berdua melakukan atas dasar kerelaan dan rasa sayang.
"Hubby, jangan ngebut!" Thalia nampak khawatir. Wanita itu memeluk lengan sang suami dengan erat.
Moohan mulai memelankan laju kendaraan. Pria itu kemudian tersenyum pada sang istri. "Aku sudah tidak sabar ingin berduaan bersamamu, Honey," ujarnya.
Thalia tersenyum, tersipu. Wanita cantik itu lalu menjatuhkan kepalanya di bahu kokoh sang suami. Moohan menggenggam erat tangan sang istri lalu mengecup tangan lembut istrinya.
Tidak berapa lama, mobil mewah Moohan memasuki area parkir hotel. Pemilik hotel megah tersebut menghentikan mobilnya di lobi lalu menuntun sang istri untuk turun. Dia segera mengajak istrinya untuk masuk ke dalam hotel dan membiarkan begitu saja mobilnya di sana karena security yang bertugas telah bersiap untuk memarkirkan mobil sang bos.
Petugas resepsionis yang melihat kehadiran Moohan segera beranjak dan kemudian mengantarkan pria tampan serta wanita cantik yang bersama sang bos, menuju kamar super mewah milik Moohan yang sudah didesain menjadi kamar pengantin atas perintah Asisten Zack. Setelah sampai di lantai tertinggi dan membukakan pintu kamar tersebut dengan kartu akses khusus, petugas itu lalu mempersilakan tuannya yang masin mengenakan tuxedo untuk masuk ke dalam. Pegawai Moohan itu segera menutupkan kembali pintu kamar tersebut setelah menyimpan kartu akses di tempatnya, di samping pintu bagian dalam.
"Hubby. Kapan kamu memesan kamar hotel ini?" tanya Thalia yang sedari tadi menyimpan tanya dalam hati. Kehadiran mereka berdua yang disambut baik dan langsung dilayani tanpa memesan terlebih dahulu ke bagian resepsionis seperti yang selama ini dia ketahui, membuat Thalia penasaran. Apalagi kamar itu sudah didekorasi sedemikian rupa, layaknya kamar pengantin.
"Aku tidak perlu memesannya, Honey, karena hotel ini milik kita," balas Moohan.
Pria tampan yang sedari tadi menggandeng mesra tangan istrinya itu, segera mengajak Thalia ke balkon samping. Balkon yang menyatu dengan taman dan kolam renang pribadi. Moohan kemudian mendudukkan sang istri di bangku couple yang empuk.
"Kita bisa ke sini kapanpun kita mau. Ini rumah kedua kita, Sayang. Aku juga sudah menyiapkan rumah ketiga untuk kita," lanjut Moohan setelah mereka berdua duduk di bangku tersebut. Tangan Moohan lalu melingkar di pinggang istrinya yang masih berbalut gaun pengantin.
"Di mana?" tanya Thalia seraya menoleh ke arah sang suami.
"Di kota tempat asalmu. Beberapa hari lagi, kita harus segera pindah ke sana untuk menjalankan rencana kita," balas Moohan dan Thalia mengangguk lalu tersenyum.
__ADS_1
"Terima kasih, Hubby. Kamu sudah melakukan banyak hal untukku," ujar Thalia seraya menangkup kedua rahang sang suami.
Rahang kokoh yang ditumbuhi bulu-bulu kasar itu nampak sangat menggoda. Thalia lalu merabanya, penuh perasaan. Wanita dua anak tersebut kemudian menyembunyikan wajah di dada sang suami.
Moohan tersenyum. "Apa kamu menginginkannya sekarang, Honey?" tanya Moohan berbisik di telinga sang istri dan kemudian meniup pelan telinga istrinya, membuat Thalia meremang.
Thalia mendongak lalu menatap dalam netra suaminya. "Jika Hubby menginginkan, maka dengan senang hati aku akan melayanimu, Hubby," ujarnya, membuat hati Moohan membuncah bahagia.
"Ayo, kita melakukannya sambil berenang!" ajak Moohan dan Thalia langsung menggeleng.
"No, Hubby!" tolak Thalia, cemberut dan dengan dahi berkerut. Tidak mengerti dengan permintaan sang suami yang aneh-aneh.
"Hahaha ...." Moohan tertawa melihat ekspresi sang istri. "Aku bercanda, Honey. Masak iya panas-panas gini kita renang. Sudah gitu, kostum kita seperti ini," lanjutnya, membuat Thalia lalu ikut tertawa, setelah menyadari mereka berdua masih mengenakan pakaian pengantin.
Moohan merasa sangat senang. Baru kali ini dia melihat tawa lepas istrinya. Dia berjanji dalam hati, akan membuat sang istri senantiasa tertawa dan bahagia.
"Aku sangat bahagia bisa menikah denganmu, Honey. Aku juga berharap, kamu bahagia menjadi istriku," ujar Moohan seraya menatap lekat netra indah sang istri.
Moohan membelai lembut rambut sang istri dan kemudian mengecup puncak kepala Thalia. Pria itu mulai melepaskan satu per satu aksesoris yang menempel di kepala sang istri. Moohan kemudian membuka retsluiting belakang gaun istrinya.
Dalam sekali tarik, gaun itu melorot hingga sebatas pinggang dan nampaklah dada sang istri yang selama ini menggodanya. Perlahan, Moohan meraba dada besar tersebut dan kemudian meremasnya lembut, membuat Thalia mendesah manja. "Kita ke kamar, ya," ajak Moohan dan Thalia mengangguk, pasrah.
Sementara itu di kota asal Thalia, tepatnya di mansion milik keluarga Thompson. Alexander uring-uringan terus beberapa hari ini. Semua orang yang berada di mansion menjadi pelampiasan kemarahannya, tidak terkecuali Sarah, istrinya.
"Ale, jika memang di kantor ada masalah, sebaiknya bicarakan dengan kami agar kami tahu masalahnya apa, dan bukan uring-uringan terus seperti ini!" protes sang mama ketika siang ini Alexander kembali berulah.
"Kalian semua tidak akan mengerti! Yang kalian tahu hanya menghambur-hamburkan uang dengan berbelanja barang yang tidak perlu! Kalian semua memang tidak berguna!" ujar Alexander dengan geram. Wajah pria itu memerah, menahan kekesalan. Tangannya mengepal sempurna hingga buku-buku tangannya memutih.
__ADS_1
Sarah mendekat. "Sayang. Cerita padaku, ada apa?"
Alexander menghela napas berat. "Dewan direksi memutuskan untuk mencopot jabatanku karena sudah ada penggantinya," balasnya, lesu.
"Apa? Tidak mungkin! Bagaimana itu bisa terjadi, Ale? Bukankah keluarga kita pemilik saham terbesar?" cecar sang mama.
Alexander menggeleng. "Tidak lagi, Ma. Moohan, pengusaha dari kota sebelah telah membeli beberapa saham milik rekan-rekan bisnis kita dan sekarang sahamnya jauh lebih besar dari saham kita."
Mendengar nama Moohan, Sarah menggeleng. 'Moohan? Apa itu kamu, Hendrick?' batin Sarah, mengingat nama seseorang di masa lalunya. Wanita seksi itu lalu tersenyum. 'Apa kamu ke sini karena mengejarku, Hendrick? Jika iya, aku rela melepaskan Ale untuk kembali denganmu meskipun hanya menjadi teman kencan,' lanjutnya, bermonolog dalam diam.
"Kalau dia pengusaha di kotanya sana, kenapa harus dia yang memimpin perusahaan Thompson Group, Ale? Dia 'kan bisa duduk manis dan tinggal menikmati hasilnya?" Suara Nyonya Grace yang menggelegar, mengurai lamunan Sarah.
"Bukan Moohan sendiri yang akan memimpin perusahaan, Ma, tapi istrinya. Kabarnya, perusahaan ini diberikan sebagai mahar untuk wanita beruntung itu," terang Alexander, membuat Sarah menjadi geram sendiri.
Wanita seksi itu langsung meninggalkan ruang keluarga. Semua orang dibuat terkejut dengan sikap istri Alexander tersebut. Tidak terkecuali dengan Alexander yang dibuat bingung dengan perubahan sikap istrinya.
"Moohan menikah? Tidak! Ini tidak mungkin! Dulu dia selalu menolak setiap ajakanku untuk menikah! Dia selalu mengatakan kalau dia tidak akan menikah! Dia hanya butuh partner untuk bercinta, bukan istri! Ini pasti ada yang salah!" Sarah menendang kaki ranjang dengan kuat hingga membuat kakinya sakit sendiri.
"Aw ... sakit!" rintihnya sambil berjongkok dan memegangi kakinya sendiri.
"Ada apa, Sarah? Apa kamu mengenal dia?" tanya Alexander yang ternyata mengikuti langkah istrinya masuk ke kamar. Tatapan pria itu begitu tajam dan menelisik sang istri.
"Ti-tidak. Tidak ada apa-apa, Sayang. Aku, aku tersandung karena buru-buru tadi," kilah Sarah, tergagap.
"Aku mendengar sedikit kamu menggerutu tadi. Partner bercinta. Apa dulu kamu teman kencannya?"
☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.
__ADS_1
Mode ngebut, moga gak benjut 🤭
Ailee libur dulu, yah... gantian 😊🙏