Pesona Sang Janda

Pesona Sang Janda
Kamu Pasti Bukan Thaliaku


__ADS_3

Keesokan harinya, Thalia dan Moohan telah bersiap untuk ke kantor pusat Thompson Group. Princess juga sudah didandani dengan cantik karena akan diajak serta. Maria yang akan ikut mendampingi untuk menjaga gadis kecil itu, sebelum sore nanti dia pulang bersama Asisten Zack.


Mereka tengah menikmati sarapan bersama sebelum berangkat ke kantor. Nyonya Brenda nampak memberikan nasehat kepada sang putra dan juga menantunya agar tidak terbawa emosi ketika bertemu dengan Alexander, yang kabarnya akan datang bersama istri dan mamanya. "Hadapi dengan kepala dingin apapun yang terjadi nanti," tuturnya.


Thalia menganggukkan kepala, mengerti. "Iya, Ma. Nasehat Mama akan aku ingat selalu."


Moohan tersenyum melihat betapa santun dan patuhnya sang istri terhadap sang mama. Pria bermata elang itu lalu menggenggam tangan sang istri dan mengecupnya lembut. "Aku tidak akan membiarkan siapapun merendahkan ratuku," ujarnya, membuat Thalia merasa tersanjung.


Usai menikmati sarapan pertama di kota kelahiran Thalia, Moohan dan Thalia kemudian segera beranjak. Mereka lalu segera menuju pintu utama bangunan mewah tersebut. Thalia berjalan sambil memeluk lengan sang suami yang menggendong sang putri. Diikuti oleh Asisten Zack yang menggandeng mesra sang kekasih.


Nyonya Brenda yang ikut keluar, melambaikan tangan melepas kepergian mereka semua. Wanita anggun itu lalu mengambil alih King dari gendongan sang baby sitter. "Biar King bersamaku, Sus. Kamu bisa kerjakan pekerjaan lain."


Mamanya Moohan itu lalu membawa sang cucu ke taman yang berada di dalam area penthouse. Ya, Moohan memilih tempat tinggal sementara seperti ini untuk kenyamanan orang-orang yang disayang. Selain karena tempatnya yang cukup dekat dengan kantor sehingga sang istri tidak akan kelelahan.


Sementara itu di dalam mobil mewah yang dikendarai Asisten Zack, Thalia yang duduk di belakang menyandarkan kepala di bahu sang suami. "Kuharap, kamu menjaga pandangan mata ketika bertemu dengan Sarah nanti, Dad," pintanya.


Moohan yang memangku Princess, menghela napas panjang. "Sejak hari itu, aku sudah mengakhiri petualanganku, Honey. Jika kamu tidak percaya, kamu bisa tanyakan pada Zack," ujarnya.


Thalia mendongak. "Aku percaya dengan cerita tentangmu kala itu, Hubby. Hanya saja, entah mengapa aku cemburu mengetahui kalau saat ini kamu akan bertemu dengan wanita kesayanganmu itu."


Moohan mengecup dalam kening Thalia. "Dia memang salah satu wanita kesayanganku, Honey, tapi di masa lalu. Masa di mana aku hanya mengedepankan kesenangan semata. Sekarang, wanita kesayanganku itu kamu, Honey, dan tidak akan tergantikan selamanya," janjinya.

__ADS_1


"Apa kamu pikir, aku tidak cemburu karena kamu juga akan bertemu dengan seseorang yang spesial di masa lalumu, Honey? Jujur, aku pun cemburu. Apalagi jika teringat saat pertama kali kita berhubungan di ruang pribadiku, nama dia yang selalu kamu sebut," lanjut Moohan dengan rahang mengeras, menyimpan kemarahan jika teringat di masa silam.


Thalia tersenyum lalu mencium pipi sang suami. "Itu dulu ketika aku belum tahu bahwa cintanya padaku tidak sedalam cintaku padanya. Aku memang bodoh, Hubby. Aku dibutakan oleh cinta pada orang yang tidak tepat."


Di belakang kemudi, Zack berdeham. "Apa kalian masih mau ngobrol di dalam sini sepanjang hari?" tanyanya sambil membuka kaca jendela mobil.


Rupanya, mereka telah tiba di kantor. Zack pun telah memarkirkan mobilnya di tempat khusus. Moohan yang ikut membuka kaca jendelanya, berdecak kesal.


"Kenapa enggak bilang dari tadi, Zack?" protes Moohan.


Zack terkekeh. "Kalian terlalu larut dalam nostalgia masa lalu yang tidak penting, sampai kalian tidak memperhatikan jalanan. Kita bahkan sudah sampai dari tadi, tapi karena Alexander dan istrinya berdiri di sana menunggu seseorang, aku biarkan saja kalian di sini terlebih dahulu."


"Ya, sudah. Kalian cepatlah masuk ke dalam. Biar Princess bersama kami dulu. Nanti jika acara inti sudah selesai, aku akan bawa Princess ke sana," saran Zack kemudian.


Melangkah pasti Thalia di samping sang suami. Tatapannya lurus ke depan dengan dagu diangkat, penuh rasa percaya diri karena sang suami yang selalu mendukungnya. Tidak seperti dulu kala menjadi istri Alexander, dia tidak pernah berjalan dengan menegakkan bahu dan mengangkat dagu karena sang mama mertua senantiasa mengintimidasinya.


Sepanjang melintasi lobi, Thalia terus menebar senyuman ramah pada setiap orang yang ditemui. Wajah cantik serta penampilan Thalia yang anggun, membuat semua karyawan di Thompson Group tidak ada yang mengenali. Apalagi dulu dia memang jarang sekali diajak Alexander ke kantornya, hanya sesekali dan itu pun dapat dihitung dengan jari.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya Hendrick," sapa salah satu petinggi perusahaan yang sudah mengenal baik Moohan dan beberapa waktu yang lalu banyak membantu suami Thalia ketika mengurus pembelian saham.


Moohan lalu menuntun sang istri memasuki ruangan yang sudah disiapkan untuk acara serah terima jabatan pimpinan baru, di perusahaan Thompson Group. Semua mata memandang takjub pada pasangan muda yang baru saja masuk ke ruang meeting tersebut. Kecuali dua pasang mata yang memperhatikan keduanya dengan tatapan yang berbeda, Alexander dan Sarah.

__ADS_1


'Tidak mungkin! Itu pasti bukan dia! Thalia tidak sepercaya diri itu. Dia pemalu dan kalau berjalan pasti menundukkan wajahnya. Thalia juga tidak pandai merias diri,' batin Alexander yang masih tidak berkedip menatap wanita cantik yang baru saja masuk bersama Moohan.


'Dia? Aku seperti familiar dengan wajahnya, tapi di mana aku pernah bertemu dengan wanita itu?' Sarah mengerutkan dahi memindai wanita yang nampak mesra di samping Moohan. Mantan teman kencan Moohan itu mencoba mengingat-ingat.


'Tidak-tidak! Hendrick pasti bercanda. Dia tidak tidak mungkin menikahi tukang bersih-bersih itu!' Setelah mengingat tentang Thalia, Sarah merasa geram sendiri.


'Jika benar Hendrick menikahinya, Hendrick benar-benar telah buta! Apa lebihnya, sih, dia? Tidakkah Hendrick dapat melihat kalau aku lebih segala-galanya dari si Thalia itu!' Sarah hanya dapat menyimpan kekesalan dalam hati.


Acara rapat terbuka dalam rangka serah terima jabatan itu pun segera dimulai. Semua orang nampak serius mendengarkan, tetapi tidak dengan Alexander dan sang istri. Keduanya sama-sama memikirkan tentang Thalia.


Sementara Nyonya Grace yang juga hadir di sana, nampak tidak peduli dengan wanita yang bersama Moohan. Mungkin karena dia sama sekali tidak mengenali Thalia yang memang cukup drastis perubahannya. Tentu saja Thalia berdandan ala wanita kalangan atas karena selain sang suami, sang mama mertua juga mendukung penuh dirinya.


"Kepada Tuan Alexander selaku pimpinan lama, kami mohon untuk berdiri," ujar pembawa acara.


Alexander yang sepertinya tidak mendengar apa yang dikatakan oleh pembawa acara, masih terdiam di tempatnya. Sang mama yang menyadari bahwa putranya tengah melamun, menyenggol lengan Alexander. "Ale, saatnya kamu tunjukkan bahwa kamu tidak dapat digantikan begitu saja," bisik Nyonya Grace.


Alexander tersadar dari lamunan lalu segera berdiri. Pria yang tadinya memiliki kekuasaan penuh di perusahaan tersebut sempat melontarkan protesnya atas keputusan dewan direksi yang dia nilai terlalu cepat mengambil keputusan, sebelum acara serah terima jabatan berlangsung. Mengganti posisi penting di perusahaan besar seperti Thompson Group haruslah melalui banyak pertimbangan, bukan semata-mata karena memiliki saham terbesar. Dia berbicara sambil melirik Moohan yang nampak mesra sama sang istri yang menurutnya mirip dengan Thalia.


Pembawa acara nampak memberikan isyarat agar Alexander menghentikan pidatonya yang tidak lagi penting karena keputusan dewan direksi telah bulat dan disepakati bersama. "Mohon maaf, Tuan Alexander. Ini bukan saat yang tepat untuk membahas hal itu." Pria berkacamata yang didaulat menjadi MC itu lalu tersenyum.


"Selanjutnya, untuk pimpinan baru Thompson Group yang sudah disepakati oleh dewan direksi kami mohon untuk berdiri. Kepada Nyonya Thalia Hendrick Moohan, kami persilahkan."

__ADS_1


Mendengar sang pembawa acara menyebutkan nama wanita cantik yang mirip mantan istrinya itu dengan nama Thalia, jantung Alexander seolah berhenti berdetak. Dia tatap kembali Thalia dari ujung rambut hingga ke ujung high heels wanita yang saat ini berdiri di hadapan. Dadanya tiba-tiba terasa sangat sesak. "Tidak mungkin, kamu pasti bukan Thaliaku," gumamnya.


☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.


__ADS_2