Pesona Sang Janda

Pesona Sang Janda
Sempat Berharap Banyak


__ADS_3

Hari berganti, Thalia mulai menjalani aktifitas sebagai pimpinan di perusahaan Thompson Group. Dia yang selalu didampingi oleh sang suami yang sekaligus sebagai asisten pribadinya, terlihat penuh percaya diri. Thalia belajar secara kilat dari sang suami dan dia sungguh-sungguh dalam belajar sehingga bisa membuktikan pada orang-orang di perusahaan bahwa dirinya mampu menjadi seorang pemimpin.


Alexander yang kini menjabat sebagai orang kedua di perusahaan, hanya bisa diam menunggu perintah. Dia tidak ingin protes dengan kebijakan-kebijakan baru yang diterapkan Thalia. Selain karena rasa bersalahnya pada mantan istrinya itu, saat ini pikiran dan perhatian Alexander juga terpecah pada masalah keluarga.


Sang mama yang hanya bisa duduk diam di kursi roda, seringkali marah-marah tidak jelas dan memaki Alexander atas bergesernya kekuasaan sang putra di perusahaan keluarga. Nyonya Grace juga sering memarahi sang putri dengan alasan yang tidak jelas hingga membuat Jean yang frustasi, semakin depresi. Kini, adik kandung Alexander itu harus dirawat di rumah sakit jiwa karena hampir saja mencelakai janin yang masih bersemayam dalam kandungannya


"Ada apa, Pak Ben?" tanya Alexander setelah mengangkat ponselnya. Dia baru saja keluar dari ruangan meeting karena Thalia tiba-tiba menginginkan ada pergantian beberapa manager yang diduga terlibat skandal korupsi bersama mantan asisten Alexander, Lucas.


"Maaf, Tuan Muda. Barusan, ada satu lagi pelayan yang mengundurkan diri karena tidak kuat mendengar caci maki Nyonya Grace," jelas Pak Ben dari seberang sana.


Alexander menghela napas kasar lalu memijat pangkal hidungnya. Kepalanya benar-benar terasa sangat pening. Turun jabatan saja, sudah membuat kepalanya pening dan kini permasalahan dalam hidupnya semakin komplek. Belum lagi sang istri, Sarah, yang juga berulah.


Beruntung, Pak Ben bersedia merawat sang mama yang merupakan kekasih sopir pribadi mamanya itu. Beban Alexander sedikit berkurang, pasalnya tidak ada satupun pelayan di mansion yang sanggup menghadapi Nyonya Grace yang semakin emosional semenjak sakit. Sementara Sarah, sama sekali tidak peduli dengan segala kesusahan suami yang akhirnya Alexander tanggung sendiri.


"Baik, Pak Ben. Nanti saya akan telepon yayasan untuk mengirim pelayan baru ke mansion," pungkas Alexander yang kemudian menutup panggilan teleponnya.


Pria berahang tegas itu segera melanjutkan langkah untuk menuju ke ruangannya. Namun, langkah Alexander terhenti ketika sekretaris Thalia memanggil namanya. "Maaf, Tuan Muda Thompson. Nyonya Thalia memanggil Anda agar ke ruangannya."


Alexander mengangguk lalu berbalik arah, berjalan menuju ke ruangan presdir yang dulu adalah ruangan kerjanya. Ameera mengekor langkahnya dengan tatapan penuh kekaguman. Ya, dari dulu sekretaris itu memang mengagumi Alexander dalam diam. Dia tidak berani mengutarakan karena Tuan Muda Thompson telah memiliki istri.


Mantan suami Thalia itu segera membuka pintu ruangan presdir lalu membukanya tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu dari orang yang berada di dalam. Dia segera melangkah masuk tanpa melihat ke dalam. Baru saja dia hendak menyapa Thalia, tatapan Alexander langsung tertuju pada pemandangan yang menyesakkan dada.


Di singgasana yang dulu dia tempati, Alexander melihat Thalia sedang duduk di atas pangkuan Moohan dan mereka nampak tengah asyik berciuman. Pria yang memiliki tatapan tajam itu segera berbalik, hendak keluar seraya mengumpat dalam hati. "Sh*it! Salahku juga kenapa tadi tidak mengetuk pintu terlebih dahulu!"

__ADS_1


"Tuan Alexander Thompson, Anda sudah datang?" Suara Thalia menghentikan langkah Alexander ketika pria itu mencapai ambang pintu.


Alexander lalu membalikkan badan. "Maaf, Nyonya Thalia. Saya lupa mengetuk pintu," sesalnya sambil menunduk, salah tingkah.


Moohan segera beranjak dari kursi kebesaran presdir, sambil membetulkan retsluiting celananya tepat di hadapan Alexander. Entah apa yang dilakukan oleh bos TMC tadi dengan istrinya ketika mantan suami Thalia belum datang. Suami Thalia itu lalu melangkah menuju sofa untuk memberikan kesempatan pada sang istri berbicara dengan Alexander.


"Silakan duduk, Tuan Muda Thompson." Thalia menunjuk kursi di depan meja kerjanya dengan anggun.


Alexander tidak langsung duduk, dia masih mematung. Panggilan Thalia kepada dirinya yang begitu formal, membuat hatinya terasa sakit. Wanita yang dulu begitu memuja dirinya, kini tidak dapat lagi dia sentuh.


'Aku lebih senang jika kamu memanggilku Ale, Thalia,' bisiknya dalam hati seraya mencuri pandang wanita cantik di hadapan dengan ekor matanya. Ya, dia rindu akan panggilan Ale, panggilan sayang dari wanita yang duduk dengan anggun di hadapannya.


Melihat sikap Alexander, Moohan berdeham. "Apakah kehadiran saya di sini mengganggu Anda, Tuan Thompson?" tanyanya kemudian seraya berdiri, siap untuk meninggalkan ruangan sang istri.


Alexander menggeleng lalu mengangguk, tidak jelas. Dia kemudian mendudukkan diri di hadapan Thalia. "Ada apa, Nyonya Thalia memanggil saya?" tanya Alexander, seraya menatap sang mantan istri dengan tatapan entah.


Bingung, kikuk, dan juga canggung. Semua itu menyatu di dalam diri Alexander. Dia lebih suka bertemu dengan Thalia di tempat umum, atau di ruang rapat bersama karyawan lain. Daripada bertatap muka seperti ini yang hanya akan membuat dirinya seperti diadili.


"Ini ada hubungannya dengan rencana penggantian beberapa manager yang tadi sudah kita bahas di ruang rapat, Tuan Muda Thompson. Yaitu tentang Lucas, mantan asisten pribadi Anda." Thalia menatap Alexander dengan tegas.


Alexander menghela napas panjang. Teringat dengan pembahasan rapat tadi yang mengemukakan temuan-temuan mengejutkan. Ternyata, asisten pribadi yang selama ini sangat dia percaya, telah menusuknya dari belakang.


Lucas melakukan korupsi besar-besaran di hampir setiap proyek yang dia percayakan pada mantan adik ipar sekaligus mantan asistennya itu. Lucas tidak bekerja sendirian, tetapi dia dibantu oleh beberapa manager yang berhubungan dengan proyek-proyek yang mereka kerjakan. Nilai kerugian yang dialami Alexander secara pribadi dan juga perusahaan, cukup fantastis.

__ADS_1


Semua itu dapat diungkap berkat kerja keras orang-orang kepercayaan Moohan yang beberapa waktu lalu sudah dimasukkan sebagai karyawan di perusahaan Thompson Group, oleh Paman Hilbert. Alexander benar-benar merasa kecolongan. Dia bahkan harus menanggung malu karena selaku pimpinan pasti dianggap ceroboh.


"Lantas, apa yang harus saya lakukan, Nyonya?" tanya Alexander yang saat ini benar-benar tidak dapat berpikir.


Pikiran Alexander buntu karena banyaknya masalah yang datang mendera. Untuk makan saja kadang dia lupa. Beruntung, dia tidak lupa bagaimana caranya bernapas.


"Kita akan menuntut Lucas, Tuan Thompson. Dia harus mengembalikan semua yang sudah dia ambil dari perusahaan, yang sebagian besar adalah milik Anda," terang Thalia.


"Maaf, Nyonya. Berdasarkan temuan tadi, yang diambil banyak oleh Lucas adalah apa yang seharusnya menjadi hak saya secara pribadi, bukan? Menurut saya, biarkan saja, Nyonya. Saya sudah malas berhubungan dengan dia," balas Alexander, tidak bersemangat.


Dia teringat dengan sang adik yang sudah disakiti sedemikian rupa oleh mantan asistennya itu. Mengingat semua, Alexander menjadi sangat muak dan malas untuk bertemu muka dengan Lucas. Dia bahkan bersumpah, tidak sudi lagi menyebut nama mantan asistennya tersebut.


"Tapi jumlahnya sangat besar, Tuan Thompson. Dengan uang tersebut, Anda bahkan bisa membeli beberapa saham perusahaan ini dan dengan demikian, saham yang Anda miliki akan jauh lebih besar dari yang kami miliki. Anda dapat menguasai kembali Thompson Group, Tuan Alexander Thompson." Thalia menatap tidak percaya pada Alexander yang tiba-tiba saja berubah menjadi orang yang pesimis.


Pria di hadapan, dulu dikenalnya sebagai orang yang optimistis dan penuh semangat. Alexander adalah sosok pekerja keras dan pantang menyerah. Thompson Group semakin berkibar setelah berada di tangannya.


Mendengar penjelasan panjang lebar dari sang mantan istri yang sepertinya masih peduli dengannya, Alexander menatap Thalia dengan dalam. "Kenapa kamu tidak membenciku dan membuat aku jatuh miskin saja, Thalia? Kenapa kamu masih peduli denganku?" tanyanya yang tidak lagi bersikap formal.


"Karena aku bukan orang yang pendendam, Ale! Dan aku tidak mau membuat putriku malu suatu saat nanti!"


'Jadi, kamu lakukan semua ini bukan karena kamu masih peduli denganku, Thalia?' bisik Alexander dalam hati yang sempat berharap banyak.


☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.

__ADS_1


__ADS_2