Pesona Sang Janda

Pesona Sang Janda
Jangan, Ale!


__ADS_3

Hari berganti. Alexander benar-benar merealisasikan apa yang telah dia putuskan, yaitu menceraikan sang istri. Dia tidak mau lagi ada orang-orang yang tidak baik ada di sekitarnya, termasuk sang mama. Alexander tidak mau sang mama terlalu turut campur urusan pribadinya.


Meskipun pria itu menyayangi Nyonya Grace, tapi Alexander harus tetap bersikap tegas. Dia memberikan pilihan pada sang mama tiri, mau tetap tinggal bersamanya dengan syarat wanita paruh baya itu harus diam dan tidak boleh ikut campur lagi dengan kehidupan pribadi Alexander atau memilih ikut Sarah, tentu dengan modal yang akan dia berikan untuk menjamin masa tua sang mama. Nyonya Grace nampak bimbang dan menimbang.


"Haruskah mama memilih, Ale?" tanya Nyonya Grace dengan netra berkaca-kaca.


Tentu wanita itu merasa sangat berat untuk menentukan sebuah pilihan. Di satu sisi, Sarah adalah anak kandung yang belum lama dapat berkumpul dengan dirinya. Pastinya, Nyonya Grace menginginkan agar dapat bersama dengan sang putri kandung di sisa usianya. Di sisi lain, meskipun Alexander anak tiri, tetapi Nyonya Grace menyayangi pria itu.


Mengenai materi, wanita paruh baya tersebut tidak mempermasalahkan. Dia mengetahui karakter Alexander yang tidak tega melihat orang lain kesusahan. Tentu putranya itu juga tidak akan membiarkan dirinya menjadi gelandangan jika keluar dari mansion Alexander dan memilih bersama Sarah.


"Iya, Ma. Maaf, Ale tidak dapat mengabulkan permintaan Mama untuk tidak menceraikan Sarah," tegas Alexander, seraya menatap wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya.


Sarah nampak geram. Wanita yang mengenakan gaun seksi tersebut mengepalkan kedua tangan. Dia sangat marah pada Alexander dan bersumpah akan membalas dendam.


"Aku tidak sudi jika dia ikut denganku! Wanita lumpuh itu pasti hanya akan menjadi beban saja, nantinya!" Sarah menatap tidak suka ke arah wanita yang mengaku sebagai mama kandungnya.


Air mata Nyonya Grace langsung meluncur bebas tanpa dapat terbendung lagi. Anak yang sudah dia perjuangkan agar mendapatkan kehidupan yang enak dan mewah, sampai Nyonya Grace rela menyingkirkan wanita kesayangan Alexander, nyatanya malah menyia-nyiakan dirinya. Terluka hatinya begitu dalam, begitulah yang wanita paruh baya itu rasakan.


Nyonya Grace menyesal telah membuang Thalia, wanita sederhana dan bersahaja yang tidak pernah menentangnya. Dia ingin meminta maaf, tetapi tidak memiliki keberanian dan bingung harus memulai dari mana? Nyonya Grace hanya bisa berharap, semoga saja kehidupan Alexander bisa lebih baik ke depannya.


Melihat sang mama menangis, Alexander lalu mendekat. Dia peluk mama tirinya dengan penuh kasih. "Jangan sedih, Ma. Masih ada Ale yang akan merawat Mama," bisiknya, lembut.

__ADS_1


Mendengar bisikan dari anak yang secara tidak sengaja telah dia sakiti demi ambisinya, tangis Nyonya Grace semakin pecah. "Maafkan mama, Ale. Maaf," sesalnya, di sela isak tangis.


Alexander melepaskan pelukan, setelah sang mama cukup tenang. Dia kemudian memanggil Pak Ben dan menyuruh laki-laki itu untuk membawa sang mama kembali ke kamar. Alexander tidak mau melihat sang mama mendengar perdebatan dirinya dan Sarah karena sepertinya, wanita itu sudah siap meledakkan amarahnya.


"Ma. Sebaiknya, Mama istirahat di kamar ya, Ma. Biar Ale yang selesaikan sendiri urusan ini," pinta Alexander ketika melihat sang mama menolak ajakan Pak Ben.


Wanita paruh baya itu akhirnya hanya bisa pasrah dan diam saja ketika kursi rodanya mulai didorong oleh laki-laki yang merupakan kekasihnya. Kini di ruangan yang luas tersebut tersisa Alexander dan Sarah. Wanita seusia Alexander itu berkacak pinggang dan menatap tajam pria di hadapan.


"Aku menuntut separuh saham milikmu, Ale, tapi kenapa kamu hanya memberiku apartemen dan butik! Kamu pikir, aku ini wanita dari kelas menengah! Kamu lupa, Ale, kalau aku adalah model terkenal!" Sarah mulai meluapkan emosinya yang sudah terpendam sejak kemarin.


"Model katamu? Mungkin itu benar, Sarah, tapi di kotamu dan pada masa itu. Apa kamu lupa, ketika kita menikah pamormu sebagai seorang model telah luntur?" Alexander memicingkan mata.


Sarah mendengkus kesal. Wanita itu nampak masih ingin berbicara, tetapi Alexander mengibaskan tangan sebagai isyarat bahwa dirinya tidak ingin mendengar apa pun dari Sarah. Wanita yang masih menyandang status sebagai istri Alexander tersebut semakin terlihat kesal.


Melihat kesungguhan Alexander, Sarah menciut nyalinya. Sejenak, wanita itu berpikir. 'Sial! Kenapa jadi begini? Tapi kalau aku tidak tanda tangani surat cerai dan surat kepemilikan apartemen serta ruko, maka aku akan keluar dari mansion ini dalam keadaan miskin!' Sarah menghela napas kasar kemudian.


Tanpa berkata sepatah kata pun, Sarah lalu mendekat ke arah meja. Tangan wanita muda itu terlihat bergetar menahan amarah, ketika membubuhkan tanda tangan di atas kertas bermaterai. Alexander menyaksikan semuanya dengan senyuman tipis yang terbit di wajahnya.


"Satu benalu kembali lepas dari mansion ini dan aku berharap, tidak ada lagi benalu-benalu lain di sekitarku," gumam Alexander seraya mengambil kertas yang sudah ditandatangani Sarah.


Sarah yang masih dapat mendengar gumaman Alexander, kembali tersulut emosinya. "Aku bukan benalu, Alexander!"

__ADS_1


Pria berahang tegas itu tertawa. Tawa yang terdengar lepas karena kini dia sudah terbebas dari orang-orang yang sakit jiwanya. Puas tertawa, Alexander kembali menatap Sarah yang masih mematung dengan menekuk wajahnya.


"Segera kemasi barangmu, Sarah! Apartemen yang aku belikan untukmu, sudah siap ditempati. Adapun untuk butiknya, tinggal nunggu instruksi darimu bagaimana penataannya," ujar Alexander yang tetap memberikan perhatian dan tidak ingin membuat Sarah hidup sengsara di luar sana.


Lunglai, Sarah menyeret langkah kakinya menuju kamar utama. Kamar yang selama ini dia tempati bersama Alexander. Setelah tubuh Sarah menghilang di balik pintu kamar, Alexander segera menghubungi seseorang.


"Halo, Hendrick. Apa tidak mengganggu jika sore ini aku berkunjung ke tempatmu?" pinta Alexander yang terdengar penuh harap, pada orang di seberang sana.


"Silakan saja, Alexander. Kami tidak merasa terganggu kecuali jika kamu berkunjung malam hari," balas suara di seberang sana yang kembali mengingatkan, seraya terkekeh pelan.


"I know, Hendrick. Aku tidak akan menggangu waktu intim kalian," balas Alexander yang ikut tertawa.


Pria itu sudah mulai dapat menerima kenyataan bahwa Thalia bukan lagi istrinya. Wanita cantik itu sudah menjadi istri orang lain yang lebih segalanya dari Alexander. Mantan suami Thalia itu pun turut berbahagia dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh mommynya Aletha.


"Aku ke sana mau membicarakan tentang pengalihan kepemilikan semua sahamku, Hendrick. Aku akan memberikannya pada Aletha, seperti yang kalian lakukan," lanjut Alexander.


"Jangan, Ale!" Suara Thalia menyahut dari seberang sana, membuat Alexander mengerutkan dahinya.


"Kenapa, Tha?"


"Karena kamu kepala keluarga dan kamu juga memiliki kehidupan sendiri," balas Thalia, bijak.

__ADS_1


☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.


__ADS_2