Pesona Sang Janda

Pesona Sang Janda
Syurga Dunia


__ADS_3

Di kamar hotel mewah tempat Moohan dan Thalia memadu kasih, pasangan suami-istri yang baru saja menikah itu terlelap dengan saling memeluk setelah lelah bercinta. Tubuh keduanya yang masih sama-sama polos, tertutup selimut tebal. Mereka berdua terlihat sangat damai dalam tidurnya.


Thalia terbangun ketika merasa ada beban berat yang menindih perutnya. Rupanya, tangan kekar Moohan kini sudah berada di atas perut dan melingkar dengan sempurna di sana. Perlahan, Thalia menyingkirkan tangan tersebut.


Pergerakan kecil itu membuat Moohan terbangun. Bukan, bukan hanya dia yang terbangun karena gesekan kulit di bawah sana juga membangunkan juniornya. Ya, milik Moohan sangat sensitif dengan gesekan dari Thalia, wanita yang kini menjadi pawangnya.


"Jam berapa, Honey?" tanya Moohan yang kembali memeluk tubuh sang istri dan menempelkan miliknya di tubuh bagian bawah Thalia.


"Hampir jam empat sore, Hubby. Ayo, kita bangun!" ajak Thalia.


"Dia sudah bangun, Honey, tinggal menunggumu siap untuk kembali bertempur," balas Moohan seraya tersenyum.


Pria itu kembali mencumbui sang istri. "Memangnya, Hubby tidak lelah? Kita sudah melakukannya berkali-kali, Hubby," rajuk Thalia, menolak.


"Ayolah, Honey. Sekali lagi. Mau, ya," pinta Moohan yang kemudian melanjutkan penelusurannya ke tempat-tempat favorit.


"Ah ...." Thalia menjerit manja ketika sang suami tiba-tiba telah menghisap benda favorit milik King. "Jangan dihabiskan, Hubby. Kasihan putra kita." Thalia menolak, tetapi tangannya meremas kepala sang suami dan menekannya agar Moohan tenggelam lebih dalam di bukit kenyal miliknya.


"Tidak akan habis, Honey. Buktinya, tadi aku sudah menghisapnya sampai habis dan sekarang isinya kembali banyak." Moohan tertawa sambil meremas dengan gemas benda favoritnya itu, setelah puas menghisap.


Thalia yang mulai bangkit gairahnya karena ulah sang suami lalu mengambil alih permainan. "Woman on top, Hubby, karena aku tidak mau selamanya ditindas," pinta Thalia seraya terkekeh.


"Istri pintar. Ayo, lakukanlah sesukamu, Honey. Aku pasrah apapun yang akan kamu lakukan," ujar Moohan yang ikut terkekeh.


Thalia segera merangkak naik dan memimpin permainan. Kini, kamar yang tadinya sunyi senyap mulai terdengar berisik oleh suara-suara syahdu yang keluar dari bibir mereka berdua. Dengan energik, Thalia memimpin permainan hingga peluh bercucuran. Keduanya lalu sama-sama mengerang kenikmatan.


Setelah beristirahat sebentar, keduanya segera beranjak untuk membersihkan diri karena harus segera pulang ke mansion. Mereka mandi bersama. Mandi yang sebenar-benarnya mandi karena pria tampan itu tidak mau membuat sang istri kelelahan.


Cukup untuk hari pertama yang membuat Moohan sangat bahagia seperti sekarang. Servis yang diberikan sang istri sungguh sangat luar biasa. Moohan bahkan lebih puas tadi dari pada kala itu, di mana mereka melakukannya di bawah kendali obat perangsang dan minuman beralkohol.

__ADS_1


Tidak berapa lama, mereka berdua keluar dari kamar mandi dan kemudian segera berganti pakaian dengan pakaian yang telah disiapkan oleh Asisten Zack, atas perintah Nyonya Brenda. Dua orang yang sangat menyayangi Moohan dan selalu ada untuk suami Thalia itu. Moohan lalu membantu sang istri mengeringkan rambutnya.


"Mau langsung pulang atau makan di luar dulu, Honey?" tawar Moohan ketika mereka berdua hendak meninggalkan kamar mewah tersebut.


Thalia yang ternyata sedang melamun, tidak menjawab. Moohan lalu mengibaskan tangan di depan wajah sang istri yang senyum-senyum sendiri sambil melihat ke arah ranjang pengantin yang kini telah berantakan. "Hai, melamunkan apa, sih?" tanya Moohan setelah sang istri tersadar.


"Tidak, Hubby," kilah Thalia seraya menggelengkan kepala. Dia merasa malu jika sang suami sampai tahu apa yang dia lamunkan.


"Pasti melamunkan keperkasaanku, kan? Pengin mengulangnnya lagi? Ayo!" goda Moohan seraya tersenyum nakal.


"Enggak, ah. Mau pulang." Wajah Thalia yang sudah memerah langsung disembunyikan dengan menoleh ke arah lain.


Moohan terkekeh lalu memeluk istrinya yang selalu menggemaskan di matanya. Dia ciumi puncak kepala sang istri bertubi-tubi. "Aku ingin selalu berduaan dengan kamu, Honey. Aku tidak mau sedetik pun berpisah denganmu," bisik Moohan, membuat Thalia tersenyum bahagia.


Dia merasa dicintai, disayangi dan dibutuhkan oleh sang suami. Thalia lalu membalas pelukan sang suami dengan erat. "Aku juga tidak mau berpisah denganmu, Hubby," ujarnya seraya mendongak, menatap sang suami yang tinggi.


Moohan lalu mengecup bibir sang istri dengan lembut. Ciuman yang hangat dan penuh kasih, tanpa menuntut lebih. Thalia pun membalasnya dengan segenap perasaan.


Moohan terkekeh lalu segera menuntun sang istri untuk keluar dari kamar pengantin mereka berdua. Sepanjang berjalan keluar, Moohan senantiasa memeluk mesra pinggang istrinya. Dia nampak sangat posesif pada sang istri.


Di mansion mewah milik Moohan. Nyonya Brenda nampak sibuk memberi perintah pada para asisten untuk memindahkan barang-barang milik Thalia ke kamar Moohan. Termasuk boks bayi milik King karena Thalia tidak mau tidur berpisah dengan sang putra meskipun sudah ada baby sitter yang siap menjaga King hingga dua puluh empat jam.


Alasannya, tentu karena King masih menyusu. Berbeda dengan Princess yang sudah tidak minum asi lagi. Princess diijinkan Thalia tidur dengan ditemani baby sitter-nya.


Semua sudah rapi ketika hari menjelang sore. Tertata seperti keinginan Thalia seperti yang Maria ketahui karena baik Maria maupun Thalia sama-sama terbuka. Kekasih Zack itu juga ikut andil dalam penataan ulang kamar Moohan.


Kedatangan Moohan dan Thalia disambut hangat oleh Princess dan King yang digendong Nyonya Brenda dan baby sitter-nya. Moohan langsung mendekati Princess lalu mengambilnya dari gendongan sang pengasuh. Pria itu lalu menciumi Princess dengan gemas.


Sementara Thalia langsung menggendong King karena sudah kangen untuk menyusui sang putra. Sehari, tapi rasanya sudah sangat lama karena Thalia terbiasa bersama putra-putrinya. Mereka berdua lalu membawa anak-anak masuk ke dalam.

__ADS_1


"Mommy mau kemana?" tanya Moohan ketika Thalia terus melangkah ke belakang.


"Ke kamar, Dad. Kemana lagi? Aku mau menyusui King," balas Thalia.


"Kamar kita di sini, Mommy," tunjuk Moohan ke arah kamarnya.


Thalia terdiam. Dia masih mematung di tempatnya.


"Hai, Honey. Kenapa bengong? Kita sudah menikah. Kamarku sekarang menjadi kamar kita," ujar Moohan, menyadarkan Thalia akan statusnya saat ini.


Thalia menepuk jidatnya sendiri lalu tersenyum. Tingkah wanita muda itu membuat Nyonya Brenda geleng-geleng kepala. Thalia lalu melangkah kembali mendekati sang suami.


"Maaf, Dad. Aku benar-benar lupa," ujar Thalia seraya terkekeh kecil.


Moohan mengacak puncak kepala sang istri. "Lantas, apa Mommy juga sudah lupa apa yang kita lakukan tadi di kamar hotel?"


Thalia langsung menggeleng. "Kalau itu enggak akan pernah lupa, Dad. Bahkan sensasinya masih bisa aku rasakan sampai sekarang," jawab Thalia berbisik karena malu jika sampai sang mama mertua mendengar.


Moohan kembali tergelak. "Aku janji, aku akan membuatmu merasakan sensasi yang berbeda setiap hari," janji Moohan tanpa memelankan suara.


"Sensasi apa, Bos?" sahut Zack yang baru saja muncul, bertanya.


"Tentu saja sensasi bercinta, Zack. Apalagi?" balas Moohan blak-blakan, membuat wajah Thalia merona karena malu.


"Ish, Daddy. Malu-maluin saja," protes Thalia sambil berlalu masuk ke dalam kamar.


Zack mencebik.


"Makanya, buruan menikah, Zack, dan kamu akan segera merasakan syurga dunia."

__ADS_1


☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.


__ADS_2