
Di tempatnya berdiri, Sarah yang melihat kejadian itu nampak tidak peduli. Wanita seksi tersebut kemudian segera berlalu, masuk ke dalam kamar. Meninggalkan drama keluarga yang mungkin saja akan segera terjadi padanya dan dia harus menyiapkan diri untuk menghadapi semuanya.
Sementara di depan ruang kerja Alexander, Jean yang berhasil melepaskan diri dari sang kakak kembali memeluk kaki Lucas ketika pria itu hendak berlalu. Hal itu membuat sang mama yang masih berdiri cukup jauh dari mereka bertiga, semakin geram pada Jean yang mempertahankan Lucas. "Jean! Lepaskan dia dan biarkan dia pergi dari sini!"
Akan tetapi, Jean tidak mengindahkan teriakan sang mama. Dia tetap memeluk kaki pria yang dicinta. "Tidak, Ma! Jean tidak akan membiarkan
Lucas pergi!" sahutnya.
"Lucas, kumohon. Jangan tinggalkan kami, Lucas. Jangan biarkan anak kita lahir tanpa hadirnya kamu di sisiku," rajuk Jean dengan air mata berderai.
Mendengar perkataan Jean, dada Alexander terasa sesak. Dia tiba-tiba teringat bahwa Thalia saat itu dalam keadaan hamil besar ketika mamanya mengusir dari mansion. Pria bermata elang itu lalu memejamkan mata.
'Dulu kamu pasti juga sangat bersedih karena melahirkan Aletha tanpa hadirku di sisimu, Thalia.' Tanpa terasa, bulir bening jatuh dari sudut netra Alexander.
Jean masih berusaha untuk membujuk Lucas. Dia bahkan rela mencium kaki pria berwajah dingin itu agar tidak pergi meninggalkan dirinya. Sementara Lucas tetap tidak peduli dan kekeuh dengan pendiriannya untuk mengakhiri hubungan dengan Jean, juga dengan keluarga besar Thompson.
"Lucas, anak kita butuh kamu, Lucas," rintih Jean hampir tidak terdengar karena sudah lelah menangis dan membujuk pria yang berdiri mematung, seolah tidak memiliki nyawa juga hati.
"Dia bukan anakku, Jean! Aku tahu pasti itu!" ujar Lucas yang langsung menyingkirkan Jean dengan kasar dari kakinya. Dia kemudian segera melangkah dengan cepat untuk meninggalkan mansion.
Jean yang berusaha untuk mengejar, tubuhnya langsung disambar oleh Alexander dan dipeluk erat. Jean meronta, tetapi Alexander semakin erat mendekap sang adik. Tenaga sang kakak yang begitu kuat, membuat Jean tidak berhasil melepaskan diri.
"Lepaskan aku, Kak! Lepaskan! Ini anaknya, dia harus bertanggungjawab!" teriak Jean, berharap Lucas yang telah menjauh mendengar teriakannya lalu kembali kepadanya. Namun, semua itu sia-sia belaka meskipun Jean terus berteriak dan mengatakan kebenaran.
__ADS_1
"Ini anak dia, Kak. Aku tidak pernah berselingkuh," isak Jean di dada sang kakak.
Air mata Alexander ikut mengucur dengan deras. Bukan karena tangisan Jean yang menyayat hati, tapi karena teringat dengan penolakannya pada Aletha, buah hatinya sendiri. Dia bahkan dengan tega menuduh Thalia sebagai ja*lang yang suka mencari kesenangan dengan pria lain.
Memang, ketika bertemu kembali dengan Thalia, wanita yang pernah dinikahinya itu dalam keadaan mengandung. Namun, tidak seharusnya Alexander langsung menuduh tanpa menanyakan terlebih dahulu kenapa Thalia bisa secepat itu mengandung. Kini hanya penyesalan yang tersisa, tetapi dia bertekad akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Thalia kala itu.
Tadi, sewaktu di ruang meeting, Alexander juga tidak sempat menanyakan perihal Sarah pada Moohan. Hal itu dikarenakan keterkejutan Alexander akan hadirnya sosok Thalia yang ternyata adalah istri Hendrick Moohan. Fokusnya kemudian tertuju pada wanita yang semakin cantik di matanya, juga pada gadis kecil nan cantik jelita yang dulu pernah tidak dia akui sebagai anak.
'Aletha, aku daddymu, Sayang,' bisik Alexander dalam hati.
Nyonya Grace yang sedari tadi terdiam menyaksikan semuanya, tiba-tiba memegangi dada sebelah kiri. Bertha, pelayan mansion kepercayaan Jean yang sedari tadi ikut menonton drama keluarga dari kejauhan, segera mendekat. Pelayan itu berteriak ketika tiba-tiba tubuh sang nyonya ambruk sebelum dirinya sampai di sana.
"Tuan Muda, Nyonya Besar, Tuan!"
Alexander yang tengah fokus memikirkan Thalia dan Aletha, tidak mendengar suara seperti benda berat yang jatuh ke lantai. Barulah ketika Bertha berteriak, dia menoleh ke arah sumber suara. Alexander segera melepaskan pelukannya pada sang adik dan berlari mendekati sang mama yang sudah tergeletak di lantai yang dingin.
Jean yang kemudian ikut mendekat dan berlutut di samping tubuh sang mama, menggoyang-goyangkan tubuh mamanya. "Ma, bangun, Ma. Jangan tinggalkan Jean," isaknya dengan air mata yang kembali mengalir deras.
Wanita muda itu sangat ketakutan jika sang mama pun pergi meninggalkan dirinya. Sama seperti Lucas yang telah tega meninggalkan Jean. Dia tidak bisa membayangkan jika mengandung tanpa adanya orang-orang yang selama ini menyayangi Jean.
"Ma, Jean mohon, Ma. Mama harus bangun! Jean tidak sanggup jika harus melahirkan dan merawat anak ini sendiri, Ma!" Tangis sang adik terdengar pilu, membuat ingatan Alexander kembali pada sang mantan istri.
'Dia juga melahirkan dan merawat Aletha seorang diri, tanpa kehadiranku.' Dengan air mata berlinang, Alexander mengangkat tubuh sang mama untuk dibawa ke rumah sakit.
__ADS_1
"Bertha. Suruh sopir untuk menyiapkan mobilnya, cepat!" suruh Alexander pada pelayan muda itu.
Bertha segera berlari keluar. Alexander mengekor sambil menggendong sang mama. Sementara Jean terduduk dengan lemas di lantai.
"Bertha, kamu temani Jean dan pastikan dia tidak berbuat yang aneh-aneh!" perintah Alexander setelah menidurkan sang mama di bangku belakang.
"Siap, Tuan Muda," jawab Bertha yang hendak segera berlalu, tetapi dia urungkan langkahnya. "Maaf, Tuan Muda. Apa saya harus memberitahu Nyonya Sarah agar nyonya menyusul ke rumah sakit?" tanyanya kemudian.
"Tidak perlu, Bertha! Kamu urus saja Jean!" Alexander kemudian segera masuk ke dalam mobil.
Perang dingin yang terjadi antara dirinya dengan Sarah, membuat Alexander tidak mempedulikan istrinya itu. Dia tidak peduli, apakah Sarah tadi langsung pulang atau nongkrong dulu bersama teman-temannya seperti kebiasaan Sarah selama ini. Kebiasaan yang membuat Sarah sering pulang dalam keadaan mabuk berat.
"Jalan, Pak!" titah Alexander setelah duduk di samping pengemudi.
Mobil yang dikemudikan sopir pribadi Nyonya Grace segera melaju, meninggalkan halaman mansion yang luas. Sopir berusia paruh baya tersebut nampak sangat khawatir melihat kondisi sang nyonya. Dia menambah kecepatan agar bisa segera sampai di rumah sakit terdekat.
Sementara di samping pak sopir, Alexander duduk dengan termenung. Dia memikirkan apa yang baru saja terjadi pada sang adik, seolah mengingatkan akan kejadian yang dialami oleh Thalia. Hamil tanpa hadirnya suami dan harus melahirkan seorang diri. Sudah begitu, suami tidak mau mengakui anaknya.
Alexander menghela napas panjang. Mencoba mengurai rasa sesak yang menghimpit di dada. 'Maafkan aku Thalia, maaf.' Alexander terus saja meminta maaf dalam hatinya meskipun dia yakin bahwa berjuta kata maaf yang dia ucapkan, tidak akan mampu mengembalikan keadaan.
Thalia kini telah menjadi milik orang. Pun seandainya Moohan melepaskan Thalia, wanita cantik itu juga pasti tidak akan mau kembali menerimanya. Luka yang dia dan keluarganya torehkan begitu dalam, tidak akan mungkin dapat dilupakan seumur hidup oleh Thalia.
"Ben, bawa aku pergi bersenang-senang, Ben." Suara Nyonya Grace yang mengigau, membuat Alexander menoleh ke belakang dengan dahi yang berkerut dalam.
__ADS_1
Sementara sopir pribadi Nyonya Grace yang selalu berpenampilan rapi dan wangi, wajahnya tiba-tiba nampak pucat pasi. Apalagi ketika Alexander menatapnya dengan menuntut jawab. "Ada hubungan apa antara Pak Ben dengan mama?"
☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.