
Hari berganti, waktu pun terus berlalu. Moohan telah mengalihkan semua saham yang semula atas nama Thalia, pada sang putri. Dia harus bertindak cepat karena Moohan ingin segera mengajak kembali sang istri ke kotanya. Dia tidak mau membiarkan Zack menunda bulan madu terlalu lama, meskipun dirinya dan Thalia pun belum pernah berbulan madu berdua.
Selain itu, kinerja Alexander saat ini pun sudah kembali membaik. Orang sakit jiwa di sekeliling pria itu sudah kembali ke asalnya masing-masing. Termasuk Nyonya Grace yang memilih menepi bersama Jean yang dikeluarkan dari rumah sakit jiwa. Ibu dan anak itu didampingi oleh Pak Ben dan seorang pelayan yang dipekerjakan oleh Alexander.
Nyonya Grace keluar dari mansion atas kemauannya sendiri. Sebenarnya, Alexander sudah mencegah dan ingin menemani sang mama di hari tua, tetapi wanita yang hanya bisa duduk di kursi roda itu memaksa. Mantan suami Thalia itu hanya bisa membiarkan sang mama menentukan keinginannya sendiri. Tentu dengan segala fasilitas yang diberikan oleh Alexander karena dia tidak mau sang mama yang meskipun telah berbuat jahat, hidup kesusahan di luar sana.
"Hendrick, seperti saran kalian, aku sudah mengalihkan sebagian sahamku atas nama Princess," ujar Alexander kala mereka sedang berada di ruangan Thalia.
"Bagus, Ale. Seperti kata istriku waktu itu, kamu juga akan memiliki keluarga nantinya. Aku harap, istrimu kelak bisa menerima putri kita."
Alexander mengangguk-anggukkan kepala. Sementara di tempat duduknya, Thalia tersenyum dikulum. Wanita cantik itu sangat senang, kala dua pria yang duduk berhadapan di sofa, menyebut sang putri sebagai putri kita.
"Untuk masalah berumah tangga, aku belum mau memikirkannya dulu, Hendrick. Biarlah untuk saat ini, aku fokus dulu untuk lebih memajukan perusahaan," ujar Alexander.
"Apa kamu yakin, Ale? Kamu belum memikirkan tentang Ameera? Sayang sekali, ya, padahal aku mau mengundang kalian berdua untuk makan malam di kediaman kami." Thalia tersenyum menggoda ke arah sang mantan suami.
"Istriku benar, Alexander. Kamu tidak menolak, kan?" timpal Moohan yang juga ikut bersemangat menjodohkan Alexander dengan Ameera, sekretaris senior di perusahaan Thompson Group.
Alexander tersenyum tipis. Pria itu pura-pura memijat pelipisnya. "Aku harus kembali ke ruanganku. Ada pekerjaan yang belum aku check sebelum aku serahkan pada Thalia," pamitnya segera beranjak.
"Jangan lupa nanti malam, Ale," goda Thalia sekali lagi.
Alexander mengedikkan bahu. Tepat di saat dia membuka pintu, Ameera sudah berada di balik pintu tersebut. Sekretaris seksi itu tersenyum manis pada Alexander.
"Selamat siang, Tuan Muda," sapa Ameera, ramah.
"Siang," balas Alexander singkat. Pria itu bergegas menuju ke ruangannya.
Meninggalkan Ameera yang masih berdiri mematung di depan pintu Thalia. Wanita itu semakin penasaran pada Alexander. 'Apa Tuan Ale belum bisa move on dari Nyonya Thalia?'
__ADS_1
"Ameera. Apa kamu mau tetap berdiri di situ?" tegur Thalia ketika melihat sang sekretaris mematung di depan pintu.
"Tentu tidak, Nyonya," balas Ameera seraya tersenyum, tersipu malu. Sekretaris itu kemudian masuk ke dalam ruangan Thalia untuk menyampaikan berkas seperti maksudnya semula.
"Ini undangan yang Anda minta, Nyonya. Bisa di cek dahulu sebelum saya berikan pada Tuan Christ untuk disampaikan kepada segenap dewan direksi." Ameera menyimpan map di hadapan Thalia.
Moohan segera beranjak lalu mendekat ke arah sang istri. Pria tampan itu ikut membaca undangan yang telah dibuat oleh Ameera. Moohan lalu mengangguk seraya menepuk lembut punggung istrinya.
Thalia segera menandatangani undangan tersebut. Kemudian mengembalikan pada Ameera. "Kamu juga harus pastikan, besok semuanya berjalan dengan lancar, Ameera," pinta Thalia dan sekretaris itu menganggukkan kepala.
"Oh ya, Ameera. Aku tadi sudah pesan banyak makanan. Kamu bawa ini, untuk kamu dan Ale." Thalia yang sudah beranjak, menyerahkan dua boks makanan pada Ameera.
Wanita seksi yang ramah itu mengerutkan dahi. "Kalau Tuan Muda menolak bagaimana, Nyonya?"
"Dia tidak akan menolak," balas Thalia, memberikan semangat.
"Saya memang mencintainya, Tuan. Tapi, pantang bagi saya jika harus mengejar Tuan Muda Thompson seperti kebanyakan wanita murahan," tegasnya, membuat Thalia mengangguk, setuju.
"Aku suka dengan prinsip kamu, Ameera. Karena itulah, aku sangat yakin jika kamu memang yang terbaik untuk Ale." Thalia menepuk pelan pundak Ameera.
"Terima kasih atas dukungannya, Nyonya. Kalau begitu, saya permisi," pamit Ameera.
Setelah kepergian Ameera, Moohan bergerak cepat menuju pintu lalu segera mengunci pintu ruangan kerja Thalia. Hal itu langsung membuat Thalia melancarkan protesnya. "Dad, tadi Daddy udah janji, kan, akan membiarkan aku istirahat sebentar."
Moohan tersenyum lebar. "Kita akan istirahat bersama, Sayang. Nanti aku pijat, janji."
"Modus!"
Moohan terkekeh lalu memeluk pinggang ramping sang istri dan menghujani Thalia dengan ciuman di tengkuknya. "Ini hukuman buat kamu, Sayang, karena kamu lupa menggerai rambut di hadapan Alexander. Aku tidak suka dia melihat leher jenjangmu dengan bebas."
__ADS_1
"Dad, dia tiba-tiba masuk. Aku 'kan enggak sempat untuk mengucir rambutku," bantah Thalia dengan suara parau karena Moohan semakin liar menjilati tengkuknya.
Perlahan, Moohan menuntun sang istri menuju sofa tanpa melepaskan pelukan dan ciumannya di bagian belakang leher Thalia. Wanita dua anak itu hanya bisa pasrah dan mulai menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya. Sepasang suami istri itu pun kemudian menghabiskan jam makan siang dengan bergumul di atas sofa.
Sementara di ruangan Alexander, Ameera yang baru saja masuk ke ruangan duda tampan itu, nampak kikuk. Sekretaris itu berjalan sambil menunduk. "Maaf, Tuan Muda Thompson. Saya ke sini untuk mengantarkan makan siang dari Nyonya Thalia," ujar Ameera, malu-malu.
"Kenapa ada dua?"
"Kata Nyonya Thalia, yang satu untuk saya, Tuan."
"Ya sudah, simpan yang untukku di meja," pinta Alexander tanpa menoleh ke arah Ameera. Pria itu masih menyibukkan diri dengan setumpuk pekerjaannya.
Ameera masih mematung. Dia tidak langsung menuruti perintah Alexander. Hal itu membuat Alexander bertanya-tanya. "Kenapa masih di sini?"
"Tadi Nyonya Thalia memerintah saya agar menemani Tuan Muda untuk makan siang," balas Ameera, jujur.
Alexander menghela napas panjang. "Ada-ada saja, Thalia," gumamnya.
Mau tidak mau, Alexander mengikuti kemauan Thalia. Mereka berdua lalu menikmati makan siang dalam diam. Keduanya sama-sama canggung.
"Maaf, jika kehadiran saya di ruangan Tuan Muda, membuat Tuan Muda Thompson tidak nyaman. Tetapi, saya tidak dapat menolak perintah Nyonya Thalia, Tuan," ujar Ameera, di sela-sela makan.
"Tidak masalah, Ameera. Lanjutkan makanmu. Jangan banyak bicara, nanti kamu bisa tersedak." Baru saja Alexander selesai bicara, Ameera benar-benar tersedak makanan.
Sigap, Alexander menepuk pelan punggung Ameera lalu mengambilkan minuman. "Minum dulu pelan-pelan."
Perhatian kecil Alexander, membuat hati Ameera berbunga.
☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.
__ADS_1