
Thalia ikut memejamkan mata. Dia pasrah saja sekarang dengan apa yang akan dilakukan oleh Moohan terhadapnya. Dadanya berdebar semakin kencang, menanti apa yang akan terjadi.
Thalia membuka mata ketika sebuah kecupan hangat dan terasa sedikit panas, mendarat di keningnya. Wanita cantik itu lalu tersenyum. Dia merasa malu sendiri karena sudah berpikir terlalu jauh tadi.
"Kamu bilang, kamu mau bicara. Katakanlah, Sayang," ujar Moohan setelah melepaskan ciumannya di kening Thalia. Moohan yang merasa sedikit kedinginan beringsut dan semakin menempel pada Thalia.
"Dad, sebaiknya Daddy pakai baju dulu. Sepertinya Daddy kedinginan," pinta Thalia ketika melihat wajah Moohan sedikit pucat.
"Daddy tadi mandi? Bukankah Daddy lagi sakit?" lanjutnya bertanya, setelah menyadari tubuh Moohan hanya berbalut handuk sebatas pinggang. Penuh perhatian, Thalia menempelkan punggung tangan di dahi Moohan.
"Daddy masih demam, kenapa mandi? Enggak buru-buru pakai baju lagi, nanti kalau Daddy tambah sakit gimana?" Thalia ngomel seperti seorang istri yang mengomeli suaminya jika sang suami bandel dan tidak nurut.
Moohan tersenyum lalu mengambil tangan Thalia. Dia kecup punggung tangan sang kekasih, penuh perasaan. "Kalau aku sakit, aku pasti akan cepat sembuh karena aku sudah memiliki dokter pribadi sekarang," balas Moohan kemudian masih dengan senyumnya.
"Daddy enggak lucu, ah!" Thalia cemberut lalu segera beranjak.
"Mau kemana, Honey?" tanya Moohan.
"Ambilkan baju buat Daddy," balas Thalia sambil berjalan menuju ruang ganti.
"Ambilkan baju yang itu aja, Mom, yang di atas nakas," pinta Moohan seraya menunjuk tempat yang dimaksud.
Thalia bergegas mengambilkan pakaian yang tadi disiapkan oleh Nyonya Brenda untuk Moohan. "Yang ini, kah, Dad?" Thalia menyodorkan pakaian tersebut, memastikan.
"Iya, Sayang. Terima kasih," balas Moohan sambil menerima pakaian miliknya lalu segera mengenakan pakaian tersebut. Stelan kaos santai yang dipadukan dengan celana pendek.
__ADS_1
Moohan mengenakan pakaian tersebut di hadapan Thalia, tanpa rasa malu. Dia justru mengalihkan pandangan ke arah lain karena merasa risih dan belum terbiasa meskipun Thalia sudah pernah melihat dan merasakan semua yang ada pada diri Moohan. Namun, yang terjadi saat itu adalah di luar kuasanya.
Thalia segera mengambil handuk yang tergeletak dengan asal di sofa lalu menyimpan di tempat penyimpanan handuk, di depan lorong kamar mandi yang tidak seberapa luas. Thalia yang sudah kembali segera duduk di tempatnya semula.
"Mau bicara apa, Sayang?" tagih Moohan seraya memeluk pinggang sang kekasih.
Debaran di dada Thalia yang tadi belum hilang sepenuhnya, kini kembali hadir. Setiap kali berdekatan dengan Moohan, jantungnya memang selalu berdetak lebih cepat. Thalia menghela napas panjang untuk mengurai kegugupan.
"Hai, Honey. Kenapa diam?" tanya Moohan kembali setelah beberapa saat menanti, tetapi Thalia belum juga membuka suara.
"Iya, Dad. Aku ... aku mau bilang kalau, kalau aku sudah siap untuk menikah denganmu," jawab Thalia, gugup. Tangannya bahkan sampai berkeringat dingin.
Moohan membulatkan mata, mendengar perkataan Thalia. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. "Benarkah, Love?" tanya Moohan memastikan, seraya menangkup kedua sisi pipi Thalia dan wanita cantik itu menganggukkan kepala.
"Iya, Hubby. Aku bersedia menjadi istrimu," tegas Thalia, menatap netra kehijauan Moohan dengan dalam.
Hati Moohan ikut tersayat mendengar permintaan calon istrinya itu. Dia tahu, Thalia terluka begitu dalam. Moohan juga ikut andil menambah luka di hati Thalia.
Moohan lalu memeluk tubuh sang kekasih, penuh rasa sayang. Apa yang diminta Thalia adalah bukti bahwa dibalik ketegaran wanita yang saat ini ada dalam dekapannya, ada jiwa yang rapuh. Moohan berjanji dalam hati, tidak akan pernah lagi melukai dan menyakiti Thalia.
"I love you so much, Honey. Aku akan berusaha semampuku untuk menjadi suami yang baik. Aku juga akan berusaha untuk menjadi ayah yang bijak untuk anak-anak kita. Ingatkan aku jika aku melakukan kesalahan, Sayang. Tegur aku jika aku mulai lalai dengan tugas dan tanggung jawabku untuk membahagiakan kamu dan anak-anak." Moohan menciumi puncak kepala Thalia, penuh perasaan.
Tidak dapat digambarkan bagaimana rasa di hati Moohan saat ini. Demam dan rasa pening di kepala langsung menghilang, menguap entah kemana begitu mendengar kesediaan Thalia untuk menikah dengannya. Moohan tidak ingin membuang waktu lebih lama, dia harus segera meresmikan hubungan dan mengikat janji suci bersama Thalia untuk sehidup dan semati berdua selamanya.
Begitu pula dengan Thalia. Setelah menyampaikan maksud hati, dia pun merasa sangat lega. Apalagi Moohan membalas permintaannya, dengan permintaan yang membuat dia merasa dinomorsatukan, diutamakan. Thalia melambung karenanya.
__ADS_1
"Love you too, Hubby." Thalia lalu menghadiahi Moohan dengan kecupan di pipi, membuat pria tampan itu tersenyum senang.
"Hanya di sini?" goda Moohan seraya menunjuk pipi kanannya yang baru saja dicium Thalia. "Yang ini, kenapa enggak?" tagihnya, menunjuk bibir.
"Nanti ketika di hadapan pendeta," balas Thalia, mengingatkan apa yang pernah dikatakan Moohan kala mereka resmi jadian beberapa waktu yang lalu.
Moohan terkekeh senang. Dia lalu mengusap lembut puncak kepala Thalia. "Kamu tidak keberatan, kan, jika kita menikah besok pagi?" tanya Moohan, memastikan.
"Harus secepat itu?" tanya Thalia, sedikit terkejut karena tidak pernah berpikir bahwa Moohan akan langsung memutuskan untuk menikah besok.
"Aku ingin segera mengajak kamu pindah ke kotamu, Sayang. Semua urusan di sana sudah beres dan mulai minggu depan kamu sudah resmi menjadi pimpinan yang baru di Thompson Group," balas Moohan, mambuat Thalia semakin terkejut.
"Kenapa Daddy tidak cerita kalau sudah melangkah sejauh ini? Aku pikir yang Daddy lakukan baru sebatas mengurus pembelian saham," protes Thalia.
"Beberapa hari ini, aku sengaja kerja lembur hingga tidak memiliki waktu untuk bersamamu dan anak-anak karena aku ingin semuanya cepat selesai. Memang agak alot tapi semua bisa diatasi," terang Moohan.
"Tapi Daddy sampai sakit karena terlalu diforsir tenaga dan pikirannya. Jangan diulang lagi, ya. Aku enggak mau Daddy kenapa-napa." Thalia menatap sang calon suami, penuh rasa khawatir.
Moohan merasa terharu mendapatkan perhatian sebesar itu dari seorang wanita. Perhatian yang belum pernah dia dapatkan, kecuali dari sang mama. Selama ini, wanita-wanita yang dekat dengan Moohan hanya mencari kesenangan semata. Mereka hanya mau kehangatan dan hartanya saja.
Moohan kembali memeluk sang kekasih hati, calon istri yang selama berbulan-bulan dia cari-cari. Kini Thalia sudah berada dalam rengkuhan dan dia tidak akan melepaskannya lagi. Dia ciumi puncak kepala Thalia seolah tiada bosannya.
"Aku janji, aku akan jaga kesehatan untuk kalian, Mommy. Aku sayang sama kalian dan apa yang aku lakukan kemarin adalah untuk kalian, untuk kita semua." Moohan masih memeluk Thalia seeratnya.
"Jadi, kapan kalian akan menikah? Besok atau nanti malam?" Suara sang mama yang nyelonong masuk, mengurai kemesraan mereka berdua.
__ADS_1
"Ih, mama! Ganggu orang lagi pacaran saja!" protes Moohan yang kemudian segera melepaskan pelukannya. Pria tampan itu tersenyum kemudian, menatap sang mama.
☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.