
Setelah percakapan di ruang kerjanya, Moohan nekat mendatangi kamar Thalia. Kali ini, pria tampan itu yakin jika kedatangannya tidak akan ditolak oleh Thalia. Moohan lalu mengetuk pintu kamar tersebut, perlahan.
Terdengar suara pintu dibuka dari dalam dan muncullah sosok cantik yang sering datang dalam mimpi Moohan. Wanita itu mengerutkan dahi melihat kedatangannya. Moohan tersenyum seraya menatap Thalia.
"Apa kita bisa bicara berdua saja?" tanya Moohan dan Thalia menganggukkan kepala, tanda setuju.
Moohan bersorak dalam hati. Benar dugaannya, Thalia sudah mulai membuka diri meskipun belum membuka hati untuknya. Tidak mengapa, dia akan bersabar dan terus berjuang untuk bisa mendapatkan hati sang wanita pujaan.
"Mau bicara apa?" tanya Thalia seraya menyandarkan punggung pada dinding di samping pintu, setelah menutup kembali pintu kamarnya.
"Maaf, Thalia. Apa kita bisa bicara sambil duduk saja? Di kamar kamu atau di ruang kerjaku, misalnya," pinta Moohan.
Sejenak Thalia terdiam. Ibu dua anak itu nampaknya masih waspada menghadapi Moohan. Bukan apa-apa, pengalaman buruk kala itu masih membekas di benaknya dan dia masih trauma.
Jika mereka ngobrol di ruang kerja Moohan, Thalia tidak pernah tahu seperti apa ruangan tersebut dan dia tidak mau ambil resiko. Jika di dalam kamarnya, setidaknya ada King yang sedang tidur dan Moohan pasti tidak akan berbuat macam-macam karena ada sang putra. Lamunan Thalia buyar, kala pria tampan di hadapan mengibaskan tangan di depan wajahnya.
"Bagaimana?" desak pria tampan itu.
"Baiklah. Kita bicara di kamarku saja," ajak Thalia seraya membuka pintu kamar dengan perlahan. Thalia lalu masuk ke dalam kamarnya, diikuti oleh Moohan yang langsung tersenyum.
Senyum di wajah tampan Moohan bertambah lebar kala melihat tubuh mungil sang putra di atas ranjang besar. Bayi kecil itu nampak pulas. Sama sekali tidak merasa terganggu dengan hadirnya orang lain di sana.
"Thalia. Apa aku boleh mencium putraku?" pinta Moohan, sambil mendekat ke ranjang.
"Tapi, Hen, dia baru saja tidur," tolak Thalia yang khawatir sang putra akan terganggu tidurnya.
"Sebentar saja, Mommy. Aku janji, aku tidak akan membuatnya terbangun. Kalaupun King terbangun, aku yang akan memenangkan dan menidurkannya kembali," harap Moohan, merajuk dan Thalia akhirnya mengangguk memperbolehkan.
"Terima kasih, Mommy," ujar Moohan yang entah keberanian dari mana, kini mulai memanggil mommy pada Thalia. Pria tampan itu lalu membungkukkan badan dan mencium putra kandungnya dengan penuh perasaan.
__ADS_1
"Hai, Boy. Do'akan daddy, ya, agar misi daddy berhasil dan kita akan bisa secepatnya bersama menjadi sebuah keluarga yang utuh. Ada daddy, mommy, kakak kamu dan juga kamu," bisik Moohan di telinga sang putra, seolah putra kecilnya itu mengerti apa yang dia katakan.
King menggeliat, seperti melakukan peregangan hingga kulit putih memerah. Bayi mungil itu seperti memberikan isyarat bahwa dia pasti akan mendo'akan yang terbaik untuk sang daddy. Moohan kembali mencium pipi gembul sang putra yang kembali anteng dalam tidurnya.
"Hendrick. Apa yang akan kamu bicarakan?" Suara Thalia dari arah sofa, menyudahi kemesraan ayah dan anak laki-lakinya tersebut.
Moohan lalu melangkah mendekati Thalia. Baru saja pria tampan itu hendak menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa, sang putra terbangun dan mulai merengek. Sigap, Moohan menghampiri dan kemudian mengangkat tubuh mungil King.
Thalia tersenyum melihat cara Moohan menggendong buah hatinya. Pria tampan itu nampak sangat luwes. Meninabobokan dengan cara menggoyang-goyang badannya sendiri ke kiri ke kanan, sambil tangannya menepuk pelan pantat sang putra.
Awalnya, King memang langsung terdiam dan mau memejamkan mata kembali. Namun, ketika sang daddy hendak menidurkannya di tempat semula, bayi mungil itu kembali terbangun dan langsung menangis. Thalia yang tidak tega melihat Moohan kerepotan lalu meminta sang Putra dari tangan ayah kandung putranya.
"Biar aku saja, Hen. Barangkali dia haus lagi," ujar Thalia.
"Di mana susunya? Biar aku yang membuatkan susu untuk King," tanya Moohan seraya mengedarkan pandangan. Pria tampan itu lalu menuju ke sudut kamar, di mana ada dispenser dan kaleng serta botol susu di atas meja.
"Itu milik Princess, Hen. King tidak minum susu itu. Dia masih minum Asi ekslusif," terang Thalia ketika melihat Moohan memegang botol susu.
"Minimal enam bulan. Jika mau dilanjut sampai dua tahun, itu lebih bagus," balas Thalia.
"Lalu, kenapa Princess sudah dikasih susu formula? Mereka 'kan bisa bergantian." Moohan menatap dada besar Thalia, sembari menelan saliva. Dia pun ingin bisa menikmati dada itu bergantian dengan putranya.
"Princess langsung aku sapih ketika aku baru mengetahui bahwa ternyata aku hamil dan dia tidak mau lagi menyusu. Mungkin karena rasa Asinya sudah tidak enak," balas Thalia dan wajah Moohan langsung berubah.
"Maafkan aku, Thalia. Saat itu aku benar-benar tidak tahu jika kamu memiliki bayi. Andai aku tahu lebih awal ...."
"Cukup, Hendrick. Jangan ingatkan aku lagi dengan kejadian itu! Aku tahu kamu sudah menyesalinya dan aku pun ingin berdamai dengan masa lalu," sergah Thalia.
"Apa kamu ingin di sini terus?" tanya Thalia kemudian seraya mengayun-ayun pelan sang putra dalam dekapan tangannya.
__ADS_1
"Tentu saja, Mommy. Bukankah aku belum sempat berbicara?" balas Moohan, bertanya.
"Tapi aku harus menyusui King dulu, Hen. Dia sepertinya benar-benar haus. Jika tidak haus, King akan langsung tidur kembali hanya dengan diayun seperti ini," balas Thalia.
"Kita bicara sambil kamu menyusui, bukan?" paksa Moohan.
Thalia berdecak. "Aku tidak yakin kamu bisa fokus bicara jika kamu melihatku menyusui King, Hendrick!"
Moohan terkekeh kecil ketika menyadari bahwa Thalia menangkap tatapan matanya yang penuh harap, ke arah dada besar wanita cantik di hadapan. "Justru aku akan lebih fokus dan serius, Mommy," paksa Moohan.
Akhirnya, mau tidak mau Thalia menyusui sang putra di hadapan Moohan karena ayah kandung King tidak juga mau keluar dan kekeuh pengin tetap berada di sana. Sementara King semakin rewel karena haus dan masih mengantuk. Moohan menyipitkan mata ketika melihat Thalia membuka kancing baju bagian atas.
Pria tampan itu terus saja menelan saliva ketika melihat betapa rakusnya sang putra menghisap pucuk dada sang mommy. Ingin rasanya Moohan merebut mainan yang membuat dia pernah mabuk kepayang. Moohan lalu mengusap kasar wajah, mencoba menepis bayangan yang membuat dia mengerang kenikmatan.
"Mommy. Ada yang mau aku sampaikan tentang rencana untuk memberi pelajaran pada keluarga mantan suami kamu," ujar Moohan, mulai menyampaikan maksudnya menemui Thalia, setelah beberapa saat dia harus tersiksa karena melihat sang putra menyusu pada mommynya.
Moohan lalu menyampaikan rencananya secara detail. Juga tentang rencana kepindahan mereka untuk sementara waktu di kota asal Thalia. Mereka harus pindah agar rencananya berjalan dengan mulus.
"Mama juga akan ikut dengan kita, Mommy. Kamu tidak perlu khawatir," lanjut Moohan ketika melihat wajah Thalia nampak bimbang.
"Iya, Hen, bukan hanya itu yang aku pikirkan. Apa yang kamu lakukan itu berlebihan, Hendrick. Kamu pasti keluar banyak uang untuk itu," balas Thalia dengan tidak enak hati. Wanita cantik itu lalu menutup bajunya yang bagian atas karena King sudah terlelap.
"Untukmu, Mommy. Apapun akan aku lakukan," ujar Moohan, membuat Thalia merasa tersanjung.
Wanita cantik itu tersenyum, tetapi hanya dalam hati karena masih gengsi jika pria di hadapan menyadari perubahan sikapnya pada Moohan. "Lagian, kalau aku harus masuk ke sana sebagai pemegang saham tertinggi dan harus mengambil alih tugas dan tanggung jawab dia, aku 'kan tidak tahu apa-apa tentang perusahaan," lanjutnya.
"Aku akan terus mendampingimu, Mommy. Aku yang akan menjadi asisten pribadimu. Kamu bosnya dan sebagai bos, kamu hanya tinggal perintah dan biarkan aku yang berpikir dan menjalankan semua rencana kita," terang Moohan.
Thalia tersenyum lalu mengangguk. "Jadi, aku memiliki asisten tampan sekarang?"
__ADS_1
☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.