Pesona Sang Janda

Pesona Sang Janda
Menyatu Hingga ke Puncak Nirwana


__ADS_3

Sementara di penthouse tempat keluarga kecil Moohan tinggal saat ini, kebahagiaan tengah menyelimuti hati pria yang memiliki mata kehijauan tersebut. Bagaimana tidak? Semenjak pulang dari kantor pusat perusahaan Thompson Group tadi, sang istri terus memanjakannya.


Thalia melakukan semua karena cintanya kepada sang suami yang mulai tumbuh subur. Selain itu juga sebagai wujud rasa terima kasihnya karena Moohan dengan tulus menyayangi sang putri. Moohan tidak membedakan antara Princess dan King.


Rasa cinta Thalia kepada sang suami yang merupakan mantan bosnya itu semakin besar, setelah tadi menyaksikan sendiri bagaimana Moohan bersikap pada Alexander. Pria yang saat ini sudah mengisi penuh hatinya telah berjanji, tidak akan menanamkan kebencian di hati sang putri terhadap ayah kandungnya. Satu nilai plus yang dilihat Thalia pada diri sang suami tercinta.


Bos yang dulu dikiranya sangat arogan, tapi nyatanya dapat bersikap bijaksana. "Love you so much, Hubby. Kamu yang terbaik," ujar Thalia ketika mereka baru saja melakukan hubungan suami-istri.


"Love you more, Honey. Apapun untuk kamu dan untuk anak-anak kita, akan aku lakukan. Aku hanya ingin melihat kalian bahagia," balas Moohan yang kembali melabuhkan kecupan di bibir manis istrinya.


Moohan bukan hanya mengecup bibir yang telah menjadi candu baginya itu sekilas. Namun, dia menciumnya dengan begitu dalam. Dia absen satu per satu deretan gigi putih dan rapi milik sang istri dengan lidahnya lalu menyesap lidah Thalia, menuntut balas.


Thalia yang mengerti keinginan sang suami, membalasnya dengan tidak kalah panas. Bukan hanya lidahnya yang aktif membelit, tangan Thalia pun ikut aktif membangunkan kembali milik sang suami yang sudah mulai terbangun sejak Moohan menyatukan bibir barusan. Keduanya kembali bergumul, membuat udara dingin di ruangan tersebut terasa panas dan membakar seluruh tubuh hingga menghasilkan keringat yang bercucuran.


Suara-suara seksi yang keluar dari bibir mereka berdua, menggema memenuhi ruangan yang kedap suara. Suara ******* itu menambah semangat keduanya, dalam menggapai puncak kenikmatan bersama. Kenikmatan hakiki yang mereka gapai bersama-sama dalam indahnya mahligai rumah tangga.


"Terima kasih, Honey. Kamu selalu bisa membuatku tersenyum bahagia," bisik Moohan setelah tubuhnya ambruk di sisi sang istri. Pria berhidung mancung itu tersenyum lalu mengecup dengan dalam kening istrinya.


Thalia yang tadinya memejamkan mata, masih menikmati sisa-sisa percintaan keduanya, ikut tersenyum. "Terima kasih juga, Hubby, atas penghargaan yang selalu kamu berikan."


Ya, di setiap hubungan yang mereka berdua lakukan, Moohan senantiasa mendahulukan kebahagiaan sang istri dan menghormati apapun keinginan istrinya. Baik gaya, cara memperlakukan Thalia atau apapun yang berhubungan dengan penyatuan, Moohan selalu meminta pendapat istrinya. Dia tidak mau memaksakan kehendak sesuai keinginan dan mendapatkan kesenangan sendiri.


Keduanya bercengkrama ringan, sebelum kemudian sama-sama terlelap dengan saling mendekap erat. Mencoba mencari dan memberikan kenyamanan untuk pasangan. Mereka tidur di bawah selimut yang sama dan tanpa penghalang.


Sementara di ruang keluarga, nampak Nyonya Brenda sedang berbincang bersama Zack dan Maria. Perbincangan tersebut terdengar sangat serius. Rupanya, Nyonya Brenda menanyakan pada sang anak angkat kapan Zack akan menikahi Maria, mengingat hubungan keduanya sudah sangat intim.

__ADS_1


"Rencana minggu depan, Ma. Zack harap, Mama, Hendrick dan juga Thalia dapat menghadiri pernikahan kami," terang Zack sembari memohon.


Nyonya Brenda menganggukkan kepala. "Tentu, Zack. Mama pasti akan hadir. Hendrick dan istrinya, pasti juga akan datang."


Nyonya Brenda lalu menggenggam tangan Maria. "Terima kasih sudah menjadi teman Thalia, Nak Maria. Terima kasih sudah mencintai putra mama." Nyonya Brenda lalu menatap Zack yang duduk di hadapannya dengan tatapan hangat.


Zack segera beringsut dan pindah tempat duduk di samping wanita anggun yang telah menjadi mama angkatnya. Pria itu lalu memeluk bahu Nyonya Brenda. "Terima kasih sudah menyayangi Zack, Ma."


Tangan halus Nyonya Brenda mengusap penuh kasih pipi Zack. "Sejak hari itu, kamu adalah putra mama, Zack. Putra sulung mama. Mama sangat bahagia memiliki kalian berdua."


Mendengar perkataan sang mama angkat, Zack mengeratkan pelukan. "Sejak pertama kali Hendrick mengajak Zack ke mansion, Zack bersumpah akan mengabdikan diri pada keluarga Moohan. Zack akan menjaga Hendrick, menjaga Mama dan menjaga semua keturunan Moohan."


Sejenak keharuan menyelimuti ruang keluarga yang cukup luas tersebut.


"Ya, dan sebentar lagi, cucu mama juga akan bertambah, bukan hanya dua," timpal Zack sembari terkekeh, membuat Maria tersipu malu.


"Iya-ya, mama tahu kalian sudah sering membuatnya. Makanya tadi mama tanya, kapan kalian akan segera menikah? " Nyonya Brenda lalu geleng-geleng kepala. "Kamu sama Hendrick, sama saja!" lanjutnya penuh penekanan.


"Tapi, Zack 'kan melakukannya hanya dengan kekasih Zack, Ma. Tidak seperti Hendrick yang bisa melakukan begituan dengan banyak wanita," protes Zack, membela diri.


"Kamu benar, Zack. Tapi mama yakin, setelah menemukan pawangnya, Hendrick pasti akan setia," timpal Nyonya Brenda, penuh keyakinan dan Zack menganggukkan kepala setuju.


Tentu saja Zack sangat setuju dengan perkataan Nyonya Brenda karena asisten pribadi Moohan itu belum pernah melihat sang bos depresi gara-gara wanita. Hanya Thalia yang mampu membuat seorang Moohan benar-benar merasa kehilangan ketika wanita cantik itu pergi begitu saja meninggalkan dirinya. Thalia juga yang sanggup merubah Moohan menjadi pria yang mau mengalah pada wanita dan menuruti semua keinginan Thalia.


Dulu, jangankan mengalah pada wanita yang menjadi teman kencannya, Moohan bahkan sering menindas mereka dan minta dilayani tanpa peduli apakah mereka terpuaskan atau tidak. Bagi Moohan, kepuasan teman kencannya dapat diganti dengan uang. Dia hanya menjadikan wanita-wanita itu sebagai budak nafsu semata.

__ADS_1


Keheningan kembali menyapa, masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri-sendiri.


"Kalian istirahatlah. Nanti sore jadi kembali ke mansion, kan?" Suara Nyonya Brenda, mengurai keheningan.


"Iya, Ma," balas Zack.


"Mama juga mau istirahat, mumpung cucu-cucu masih tidur," lanjutnya seraya beranjak.


Zack beringsut, mendekat ke arah sang kekasih lalu memeluk mesra pinggang kekasihnya. "Love, ayo kita istirahat!"


Maria menoleh. "Aku mau istirahat di kamar Princess saja, Zack."


"Kenapa, Love? Bukankah kita bisa istirahat bareng di kamar atas?" Zack mengerutkan dahi.


Maria menggelengkan kepala. "Kalau kita satu kamar, yang ada kita engga jadi is ...."


Suara Maria tiba-tiba menghilang karena Zack membungkam mulut Maria dengan bibirnya. Zack lalu melu*mat bibir tipis yang menjadi candunya itu. Maria awalnya menolak, tetapi lambat laun Maria membalas dengan segenap perasaan.


Suara-suara merdu dari penyatuan kedua bibir itu mulai terdengar memenuhi ruang keluarga. Bukan hanya lidah Zack yang bergerak lincah membelit, tangannya pun ikut aktif menelusuri lekuk tubuh sang kekasih. Maria semakin bergairah, mendapatkan sentuhan nakal dari tangan kekasihnya.


"Jangan melakukannya di sini, Sayang!" tolak Maria ketika Zack hendak melepaskan pakaiannya.


"Kamu benar, Love. Mari kita ke kamar atas dan kita akan menyatu hingga ke puncak nirwana." Zack menyudahi aktifitasnya dan segera membopong tubuh sang kekasih menuju lantai atas.


☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.

__ADS_1


__ADS_2