
"prang...." sebuah hp terlempar di meja rias sebuah ruangan rias dari Studio 1, salah satu TV nasional.
"kamu kenapa lagi sayang" tanya Mery. Sambil menyerahkan sebotol air mineral yang sudah dibuka tutupnya pada artisnya. Silvia putri. Lelaki kemayu yang aslinya bernama Maryanto tersebut adalah asisten sekaligus manager Silvia.
"Dia tidak menjawab chat ku lagi. Hanya membacanya."
"siapa? Nata?" tanya Mery
"siapa lagi?"
"aku sudah pernah bilang, dia hanya memanfaatkan dirimu saja"
"aku tahu, karena aku juga memanfaatkan dirinya. Kamu lihat kan, selama aku ada rumor dengannya, popularitasku juga meningkat."
Mery mengangguk mengiyakan. Memang benar selama artisnya terlibat rumor dengan pembisnis muda tersebut, tawaran dan kontrak kerja berdatangan seperti air. Selain meningkatkan popularitas dan tentu saja cuan juga bertambah.
"aku menyukainya Mery" kata Silvia
"lalu bagaimana dengan Beno subeno, model yang tiap malam kau undang untuk bermalam?" kata Mery frontal. Dia tentu saja tahu sepak terjang artisnya.
"ayolah Mery, dia hanya seseorang yang aku minta menghangatkan malam ku"
__ADS_1
"aku tidak mau ada image negatif padamu. Kontrak kerjamu masih banyak. Ingat itu" kata mery lebih tegas. Tidak kemayu lagi jika mengingat kontrak kerja.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan Mery" kata Silvia yang telah selesai dengan make up nya. segera berlalu setelah tim produksi memintanya masuk studio. Mery meraih lengannya
"kau sudah membaca rundown sesi tanya jawab." kata Mery khawatir
"kenapa?" karena Silvia memang baru membaca sebagian.
"ada sesi telpon, yang nantinya kamu diminta menelpon Nata , mau melihat seberapa dekat kalian"
"gampang, Nata tidak pernah menolak telpon ku meskipun chat ku hanya dibacanya, tak pernah dibalas" kata Silvia mengedipkan matanya.
"Aku akan menelpon Bryan, mengkonfirmasi kesediaan Nata" jawab Mery. Silvia hanya mengangguk.
"pagi ini silvia ada undangan di talk show "pagi pagi bubar", apakah pak Nata bisa mengadakan sesi telpon nanti saat talk show?"
"baik pak" kata Mery setelah mendapat jawaban Bryan.
Mampos, pak Nata ada meeting. Mery segera masuk ke studio dan meminta white board tim produksi dan segera menginfokan jika pak Nata sedang meeting. Silvia yang saat ini sedang live, hanya tersenyum. Menandakan dia paham info dari Mery.
Tapi memang dasar Silvia, dia akan melakukan apa saja demi popularitas, apalagi jika menyangkut Nata, dia akan sangat antusias.
__ADS_1
Silvia meminta hp nya dari Mery. Mery sudah mencegah karena tadi sudah disampaikan oleh Bryan bahwa pak Naya sedang meeting.
Panggilan pertama nada sibuk
Panggilan kedua pun sama
Baru ketika panggilan ketiga, panggilan tersambung.
"Halo Nata sayang,,,, aku sedang live di pagi pagi bubar ini" kata Silvia langsing nerocos berakting romantis. Dia berpikir jika seperti ini saat live, Nata takkan bisa menolak lagi.
"Selamat pagi saat ini Nata sedang meeting, Silahkan menghubungi lagi nanti" jawab seorang perempuan dari seberang yang langsung mematikan panggilan telpon.
Karena respon tidak sesuai dengan yang diinginkan, pihak acara tv langsung memindah ke iklan karena melihat raut muka Silvia yang berubah tegang.
"Maaf ya, padahal Mery sudah bilang Nata sedang meeting. Tapi aku mengiyakan untuk telpon langsung. Sepertinya dia benar benar sibuk" kata silvia beralasan.
Pihak acara TV mengiyakan dan melanjutkan acara dengan topik bahasan yang lain.
Sesampai di kamar ganti, Silvia mengamuk. Bukan apa, saat telon Nata belum pernah sekalipun yang mengangkat seorang perempuan. Dan Silvia tahu, sekretaris ataupun asisten Nata cuma Bryan. Bagaimana ada seorang perempuan mengangkat telpon Nata.
"kamu sing tenang. Bryan sudah berpesan bahwa pak Nata benar benar sibuk pagi ini" kata Mery menenangkan.
__ADS_1
"