
Eira turun di depan gerbang tepat 5 menit sebelum jam menunjukkan pukul 9. Bu Maya yang sedang menunggui anak anak main, ikut berdiri ketika Eira turun dari mobil yang dikemudikan bryan. Setelah mengucapkan terimakasih pada Bryan, Eira segera masuk ke TK.
"Siapa bu, pacarnya?" tanya bu maya kepo
"bukan, kenalan" jawab Eira sambil lalu menuju kantor, meletakkan tasnya dan menyiapkan bekal pembelajaran hari ini.
Pukul 10.15 kelas selesai, Eira dan bu Maya kembali berpamitan ke anak anak. Eira dan bu Maya kembali bersiap untuk menyerahkan anak anak kepada wali murid. Semua murid sudah di jemput oleh orang tuanya. Sampai jam 10.45 tersisa satu anak. Moana. Anak perempuan TK B yang saat ini masih duduk di teras TK ditemani bu Eira dan Bu Maya.
"Mamanya belum jemput ditunggu dulu ya" kata Bu Maya membesarkan hati Moana
"kalau sampai jam 11 belum jemput juga, nanti bu guru telpon" Kata Bu Maya kembali.
"Hari ini yang jemput Ayah, Bu guru"
Sebuah mobil hitam terlihat merapat ke pintu gerbang TK , seorang laki laki dengan perawakan tegap dan baju rapi, tergesa keluar dari pintu kemudi. setengah berlari langsung menuju teras dimana Eira Bu Maya dan Moana sedang duduk.
Tersengal, laki laki tersebut berjongkok di depan Moana dan meminta maaf.
"Maafkan Ayah Moana, ayah telat jemput Moana" serunya dengan suara terbata.
"Galih?" Seru Eira tiba tiba.
Laki laki tersebut menoleh ke sumber suara.
"Eira" seru laki laki tersebut tak kalah terkejut.
"kamu pindah kesini" lanjut laki laki ayah Moana
"Begitulah, Saya salah satu guru Moana" kata Eira selanjutnya.
"Tadi pagi saya hanya ketemu bu Maya"
"Iya tadi pagi masih ada urusan, baru tahu anak kamu sekolah disini" kata Eira kemudian
"ceritanya panjang kali lebar" jawab Galih dengan senyum simpul.
Bu Maya hanya terdiam melihat interaksi Eira dan ayah Moana.
__ADS_1
"Saya balik dulu, keburu princess makin keki nanti.
Mari Bu Maya, mari Bu Eira" kata Ayah Moana, sambil mengantar Moana untuk salim ke guru gurunya.
Setelah mobil jemputan Moana berlalu, Eira dan Bu Maya kembali ke kantor.
"Bu Eira kok bisa kenal sama ayahnya moana?" tanya bu Maya kepo.
"owh... Beliau temen SMA saya. makanya kenal" jawab Eira setengah jujur
"Bu Eira tahu, kalau orang tua Moana sudah bercerai?" pertanyaan Bu Maya sukses membuat Eira menghentikan aktifitasnya.
"Apakah ibunya Moana bernama Dyah Ayu?" tanya Eira, kali ini gantian penasaran.
"Bagaimana ibu bisa tahu, ? Bener sih namanya itu, tapi saya juga baru pertama kali ketemu saat Moana pendaftaran dulu." terang bu Maya yang memang wali murid Moana.
"owh.... Ibunya Moana dulu juga teman SMA saya" kata Eira kemudian.
"Mari bu, saya duluan" pamit Eira yang memang sudah selesai berkemas.
Eira menyusuri trotoar sambil menunggu angkot atau bis umum, untuk mengantarnya ke pertigaan jalan nasional, dimana Nata biasanya sudah stanby buat jemput.
"Ayo Ra, bareng"
"saya naik kendaraan umum saja" jawab Eira, mendekat ke pintu mobil Galih.
" Kendaraan umum bakal lama, ada truk box terguling di jalan, jadi gak bisa lewat. Masih evakuasi. ini aku juga putar arah, lewat jalan lain" kata galih menjelaskan.
"udah Ayo, daripada jalan kan" galih keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Eira.
Eira akhirnya masuk, terlihat Moana sudah tertidur di seatcar nya, di kursi belakang
"tidur Moana?"
"iya, tadi langsung ngajak makan siang, eh abis makan di ajak jalan bentar sudah merem aja" terang galih sambil melajukan kendaraannya.
"kamu tak anter sampai rumah ya, btw sekarang tinggal dimana?" tanya galih memulai percakapan.
__ADS_1
"owh....sampai pertigaan aja, sudah ada langganan jemput, " tolak Eira
"O...kamu pesen grab bulanan. Eh masih tinggal di panti gak sih?" Galih tahu banget, Eira anak panti. Dulu dia sering berkunjung ke sana bersama ibunya.
"ya enggaklah, udah tua gini" Eira tersenyum tipis.
"ibu apa kabar?" tanya Eira kemudian
"baik, beliau nyariin kamu terus. Katanya calon mantunya yang hilang" jawab galih jujur.
"widih.... Gak enak tahu kalo di denger ibunya Moana. Ada ada saja tante Ayu ini" jawab Eira sambil menatap lurus ke jalan. Ada nyeri di ujung hatinya.
"emang bener kali Ra, nikah tanpa restu orang tua tu jadinya gak berkah" hening sesaat. Eira tak bertanya. Hingga Galih melanjutkan kalimatnya.
"aku sama ibunya Moana sudah pisah. Perbedaan prinsip. Tapi kami masih berhubungaan baik. Dulu ibu yang paling nentang hubungan kami, tapi gimana lagi, terlanjur ada Moana. Moana gak salah." penjelasan galih yang sama sekali gak diminta Eira.
"eh kamu gimana, daritadi yang cerita aku aja"
"baik"
"bukan kabarmu Ra, aku tahu kamu baik. Sudah menikah?"
"sudah" Eira menunjukkan cincinnya. Karena hari ini mau berkunjung ke rumah nenek, Eira memakau cincinnya. Biasanya hanya diletakkan di salah satu kantong tasnya.
"ah.... Bagus lah, berati reunian tahun ini bisa hadir dong, kan kamu absen mulu"
"ye... Gak hadir bukan karena gada pasangan, tapi emang bener lagi sibuk dengan dunia nyata" elak Eira. Sesungguhnya alasan utama karena memang dia tidak ingin ketemu galih dan istrinya Dyah.
"eh saya turun halte depan ya" lanjut Eira mengubah topik.
"lho sekalian, kan jalanku lurus ke kiri, bareng aja"
"saya mesti nyebrang Pak, jadi arahnya beda sama arah kerumah bapak"
"oh kirain, okok" galih memarkirkan mobilnya di depan halte.
"terimakasih ya, tumpangannya" kalimat tulus Eira.
__ADS_1
"saya nitip Moana ya kalo di sekolah" balas Galih.
Selepas mobil galih pergi, Eira segera menyeberang, karena di halte seberang Nata sudah duduk dengan setelah rapi, menjadi pusat perhatian para penunggu halte. Duduk dengam menyilangkan tangan di dada. Sementara pendangan matanya tak lepas dari gerak gerik Eira.