
Eira tak sadar jika menjadi pusat perhatian Nata. Kemudian dia teringat dengan telpon silvia tadi pagi.
"Maaf pak, ijin Nanya?"
Nata mengangguk "Mau nanya apa?"
"apakah anda ini benar Nata pacarnya silvia, artis dan model yang sedang terkenal saat ini"
Nata meletakkan sendoknya. Kekagumannya runtuh seketika ketika mendengar ke kepo an perempuan di depannya. Menatap perempuan yang menunggu jawabannya tersebut. Antara ingin menjawab jujur atau menuruti hatinya, menggodanya demi untuk melihat respon perempuan di depannya itu.
"Duh maaf kalau saya lancang. Soalnya saya penasaran banget" lanjut Eira
"menurutmu?" jawab nata tersenyum simpul kemudian melanjutkan menyendok buburnya.
"kan saya tanya anda," jawab Eira semakin penasaran.
"Bukan, dia bukan pacar saya" kata Nata jujur
"tapi tadi dia manggil anda di telpon dengan sayang" jawab Eira
"oh tadi kamu angkat, bagus deh" jawab Nata menggantung
"kok bagus pak?" tanya eira penasaran.
"tadi dia bilang apa di telpon" tanya Nata yang saat ini fokus memperhatikan Eira bercerita. Buburnya sudah tandas. Anehnya di belum ingin beranjak dari tempat tersebut.
__ADS_1
"Nata sayang..... Aku..." Eira menirukan suara silvia dengan nada dibuat semirip Silvia
"iya sayang...." Nata langsung menyambar kalimat Eira. Dia paham betul bagaimana logat dan kata kata Silvia jika minta perhatian atau ingin perhatian darinya.
"Deg" Eira menghentikan makannya. Dan terpaku. Aneh. Dadanya berdegup kencang.
"pak anda baik-baik saja" kata Eira memastikan jawaban tersebut memang dari Nata, karena fokusnya terbagi dari cerita dan menyendok bubur di depannya.
"Seharusnya kamu jawab kaya gitu, biar Silvia senang"
"lah... Kan suara saya suara perempuan pak" kata Eira sambil mengibaskan tangannya di mukanya.
"kenapa? Panas atau kepedesan?" tanya Nata.yang kembali tersenyum simpul karena melihat muka Eira merona. Dan itu menggemaskan sekali bagi Nata yang sejak tadi belum mengalihkan pandangannya dari manusia ceriwis yang tadi sangat tidak disukai ke ceriwis annya.
"Pedes pak"
Hening sesaat, yang akhirnya membuat Eira mendongak menatap Nata. Tadinya dia masih konsen menikmati buburnya yang belum habis.
"lho anda sudah selesai pak" tanya Eira yang baru ngeh kalau Nata sudah menghabiskan buburnya.
"e..hem..." Nata mengangguk dan berdehem pelan. Diam sebentar seolah ingin menata kata menyampaikan sesuatu.
"pagi ini dunia saya kaya es campur, semakin siang semakin gak jelas. Dan kamu semakin membuat hari saya semakin semrawut tapi anehnya saya justru terhibur." jawab Nata jujur sambil tersenyum semakin lebar. tak biasanya dia bisa begitu terbuka pada seseorang yang baru saja dia temui, tapi dengan perempuan di depannya, kata kata keluar dari mulutnya tanpa dia sadari.
"maksud bapak?" tanya Eira keheranan karena tak paham. Tapi senyum Nata membuatnya tertegun. Senyuman termanis yang bisa Eira lihat dari dekat. Membuat Nata semakin terlihat tidak terjangkau.
__ADS_1
"Saya tidak punya hubungan apa apa dengan silvia, sebatas hubungan kerja dan siang ini, sebelum kesini tadi saya dipusingkan dengan telpon dari manajer silvia kalau dia sedang marah dan mogok bekerja. Kamu mau tahu alasannya?" jelas Nata yang justru memberi pertanyaan pada Eira. Eira hanya menggeleng.
"dia cemburu sama kamu karena mengangkat telpon ku"
"saya pak? Lah...kok gitu" jawab Eira yang dibuat semakin kebingungan. Loading nya benar benar lambat.
"iya,,, dia marah karena ada balasan suara perempuan. Aneh kan... Sementara aku bukan siapa siapa dia"
"perempuan kalo di baper i biasanya gitu pak, makanya jadi cowok itu mending tegas sama perlakuannya. Jangan sampai bikin perempuan salah paham. Kalo suka ya suka kalo enggak ya jangan di kasih perhatian lebih" jawab Eira sekenanya.
Nata spontan menyentil dahi Eira pelan
"aduh...." Eira mengaduh sambil memegang dahinya. Gak sakit. Hanya reflek.
"kalau Silvia marah marah terus, kamu bakal saya cariin buat tanggung jawab"
"lah saya salah apa pak?" jawab Eira masih memegang dahinya
"Karena sudah membuat silvia salah paham"
"lah saya mesti tanggung jawab bagaimana? Jelasin ke Silvia? Kan saya gak bakal ketemu bapak lagi abis ini"
"jadi pacar pura pura saya, biar silvia menjauh dari saya" jawaban yang justru mengagetkan Nata sendiri. Heran, darimana dia dapat ide seperti itu.
Ide yang cukup brilian. Sekali tepok semua beres. Bisa nge jauhin silvia, sekaligus menggagalkan pernikahan absurd keinginan neneknya.
__ADS_1
" gak bisa pak. Saya sudah nikah. Gak bisa main pura pura an sama bapak"