
Ikan goreng ,balado telur, capcay dan jus nanas, terhidang di meja. masih ada pisang, tempe tahu goreng dan air mineral dingin.
Nata sudah duduk di kursinya dan sedang memindai hidangan di meja. Matanya beralih antara meja dan dua orang perempuan yang masih mondar mandir, antara meja makan dan dapur.
"Mas Nata sudah turun, saya temani makan dulu bik. Ini semua dibawa kebelakang ya, bibik sekalian makan, nanti biar beberesnya bisa sekali jalan" kata Eira menunjuk hidangan yang sama, jatah makan malam pak maman sama bang rudi, sekalian susi dan bik sumi.
"iya non" kata bik sumi beranjak ke ruang belakang membawa nampan penuh.
"Ini yang masak kamu?" tanya Nata penasaran. Bener bener takjub dengan kemampuan memasak Eira. Gak nyangka saja, sosok seperti Eira bisa memasak.
"bukan, bik sumi. Saya cuma bantuin buat capcay, kata bik sumi mas Nata gak suka sayur, jadi penasaran aja, kalo saya yang masak, di makan apa enggak" kata Eira dengan kata tantangan.
"wah.....nantangin ini" Kata Nata yang langsung mengambil piringnya.
"Mau saya ambilin?" kata Eira menghentikan gerakan Nata
"eh... Boleh deh, biasanya juga ngambil sendiri, makan sendiri. Ya kali kalo diambilin tar rasanya beda" kata Nata menyerahkan piringnya pada Eira.
Eira hanya tersenyum sambil mengambil nasi dan lauk pauknya. Dan semua itu tak lepas dari pindai-an sepasang mata Nata. Senyum yang beberapa hari terakhir cukup menjadi candu untuk bisa dinikmati. Senyum yang membuat Nata, akhirnya bisa senyum senyum sendiri.
"jangan lupa berdoa sebelum makan, nanti kalau mau nambah, bilang aja, saya ambilin lagi" kata Eira membuyarkan pandangan Nata.
"iya bu guru"
"wah bu guru ya, kirain iya istriku haha" jawaban spontan Eira, yang kemudian disesalinya sendiri.dan jawaban yang membuat Nata harus mengambil gelas air mineral karena tersedak.
__ADS_1
"weh duh sory sory, i was joking okay" ralat Eira
"Mas tadi saya mampir RS, besok nenek sudah boleh pulang. Tapi kata beliau gak boleh kasih tahu mas Nata, mau buat kejutan gitu." lanjut Eira langsung mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"iya tadi Sam udah ngabarin" jawab Nata sambil menikmati makan malamnya.
"jadi... Saya mesti gimana?"
"ya gak gimana gimana, biarin aja asal beliau seneng"
"oke kalo gitu"
"Ra, tar abis makan ke ruang kerja gw ya, ada yang mau aku obrolin" Eira cukup terkejut dengan perkataan Nata. Ruang kerja Nata, berati di kamar Nata dong. Kok jadi serem ya. Pikiran aneh Eira mulai traveling.
"ruang kerja? Kamar kamu maksudnya?" Eira memperjelas pemahamannya.
***
Eira sedikit ragu membuka kamar Nata, padahal sang pemilik sudah mengijinkan sejak tadi.
Membuka pintu pelan, mengedarkan pandangan, kemudian tertuju pada sebuah pintu. Ruang kerja pribadi Nata. Pintu ruang kerja tersebut sudah terbuka, terlihat Nata mondar mandir, kemudian melongok sebentar
"masuk sini, gak usah takut, bukan kandang singa" Nata mencoba berkelakar. Eira hanya meringis sambil garuk kepalanya yang tak gatal.
Eira langsung dipersilahkan duduk di sofa ruangan tersebut. Ruangan kecil, seluas kontrakan Eira. Berisi meja kerja dan seperangkat nya, ditambah sebuah lcd ukuran 40 an, seperti tv, tapi ternyata bukan.
__ADS_1
"Jadi gini,,,," Nata memulai pembicaraannya
Eira memperhatikan dengan seksama.
"Kemarin kamu masak nasi goreng, nah aku bawa ke kantor, trus banyak yang suka. Jadi aku mau nawarin kerjasama untuk buka restoran bareng kamu. Ambil gampangnya, aku yang kasih modal, soal konsep aku sudah aku buat, ada di proposal depan kamu. Nah untuk menu, aku serahin ke kamu. Yang pasti, nasi gorengnya mesti ada, karena highlight nya bakalan kesana. Aku ga mau nasi goreng seenak itu ku nikmati sendiri. Dan yang pasti cuan nya bakalan keren" kata Nata menyudahi pidato panjang lebarnya.
Eira memandangi bendelan kertas yang ada di meja di depannya, entah sejak kapan ada disana.
Sedikit blank, mencerna penjelasan singkat yang diberikan Nata.
"sek sebentar,,,, tak coba pelajari dulu ya. Dateline kapan nih?" tanya Eira menyentuh proposal tersebut dengan tangan kanannya.
"Gak urgent, tapi secepatnya, kalo bisa dua bulan lagi sudah opening"
Eira memandang tajam Nata, protes tanpa kata
"bahkan kalau kamu deal sama proposal itu, bulan depan sudah bisa opening" kata Nata selanjutnya
"what!? Ini plan jangka panjang kan? Bukan yang ecek ecek?" Eira kembali protes
"tentu dong sayang..... Yuk ah.... tidur, sudah malam" kata Nata berlalu menuju kamar nya sambil mengacak rambut Eira gemas.
"tapi kan...." Eira menyusul Nata yang mendapati laki laki berstatus suaminya itu sudah melepas kaos oblongnya. Ganti baju
"apa?" jawab Nata menghentikan gerakan tangannya
__ADS_1
"gak nanti saja" Eira berlalu ke kamar sebelah sambil menutup mukanya dengan proposal tadi.sejatinya pemandangan di depannya terlalu indah untuk dilewatkan. Tapi muka Eira terlanjur bersemu merah