
Eira masuk ke kontrakannya tepat pukul 2 siang. Merebahkan tubuhnya di kamar dengan keadaan perut kosong. Tadi dia menyempatkan diri untuk mengunjungi nenek jasmine di RS, kabar baik, nenek besok bisa pulang. Nenek meminta Eira untuk merahasiakan kepulangannya. Mendengar itu, Eira semakin tidak nyaman, karena hampir pasti dia akan tinggal di rumah Nata. Dan hal tersebut benar benar tidak nyaman. Eira harus menjaga sikap, tidak seperti di kontrakan sendiri, bisa melakukan apa saja semau dia.
Eira sengaja memasang alarm jam 5, agar bisa kembali ke rumah Nata tanpa harus kemalaman. Tidak ada acara di jemput Nata atau di jemput sopir karena memang Eira menolak tadi pagi. Dia memang sudah menginformasikan ke Nata dia ingin ke kontrakannya mengambil baju kerjanya.
Eira sampai di rumah Nata sebelum maghrib, rumah masih sepi, rumah sebesar itu dengan hanya ART, ditambah penghuni baru alias Eira, tentu saja sepi.
Eira disambut senyuman Rudi si security ketika turun dari taksi di depan gerbang. Dengan gercep langsung membuka gerbang ketika tahu Eira yang turun dari taksi.
"mari saya bantu 'Nya" kata Rudi sambil meminta koper yang dibawa Eira.
"lah saya bisa bawa sendiri"
"wah saya bisa dimarahi den Nata, tar dibilang makan gaji buta" seru Rudi lagi
"ya kamu kan jaga gerbang, nanti kalo kamu bantuin saya, Mas Nata nya pulang, malah kena marah lagi, tuh bantuan saya sudah datang"
susi, ponakan bik sumi terlihat mempercepat langkahnya menuju Eira, setelah mendekat spontan meminta koper Eira untuk dibawa.
"sini non" peemintaan susi dan eira menyerahkan kopernya.
"saya permisi " pamit eira pada Rudi
Rudi hanya tersenyum dan mengangguk. Takjub dengan keramahan nyonya barunya.
"apa kabarmu hari ini sus" tanya Eira membuka percakapan. Dia harus bisa mengakrabkan diri agar lebih mudah dan lebih cepat merasa nyaman di rumah ini, karena sejak pertama kesini, hanya susi yang terlihat jutek kepadanya. Susi adalah ponakan bik sumi, ART di rumah ini.
"baik non" jawab susi sekedarnya.
"ini langsung saya taruh kamar atau dimana?' lanjut tanya susi
" nanti saya bawa ke atas sendiri saja"
"Non, saya tu penasaran, non kan istrinya den Nata, kenapa minta kamar terpisah, tidak dikamar utama?" lanjut susi kemudian
"pletak" susi mendapat tabokan dikepalanya oleh bik sumi. "itu bukan urusan kamu, sudah sana, beberes di dapur" lanjut bik sumi
Eira tersenyum simpul melihat kelakuan bik sumi.
__ADS_1
"gak papa bik, biar sekalian saya jawab. Daripada susi penasaran'"
"kenapa kamar kami terpisah, saya dan mas Nata sama sama kerja, saya takut kalo pas saya kerja ganggu mas nata, makanya saya minta kamar terpisah" jelas Eira mencari alasan.
"owh... Begitu, makasih non" jawab susi terlihat kecewa tapi kemudian langsung pergi karena pelototan bik sumi.
Eira langsung naik ke lantai 2 dimana kamarnya berada diikuti bik sumi yang laporan terkait walk in closet Eira yang sudah penuh.
"beneran bik? Tau gitu saya gak mampir kos buat bawa baju. Tanya Eira tak percaya ketika bik sumi bercerita bahwa dia diminta langsung oleh nata lewat bryan untuk menata semua baju Eira.
"yang ini di tata sekalian non" tanya bik sumi menunjuk koper ketika sampai dikamar Eira
"gak usah, biar saya sendiri, em m bik sumi, hari ini masak apa buat makan malam?
"ada ikan goreng sama balado telur non"
"sayur nya gak ada?"
"den Nata gak suka sayur non"
"gak gitu suka, pedes yang wajar masih bisa,"
"ok terimakasih cobtekannya bik"
"saya permisi non"
***
Eira turun ke bawah setelah maghrib, sudah rapi dan wangi. Tersenyum simpul, mengingat baju bajunya di lemari.
Sampai ke dapur langsung mengambil apron di laci, melihat stok bahan di kulkas dan dengan cekatan mulai mengiris sayuran dan menyiapkan bumbu.
Bim sumi datang tergopoh gopoh karena mendengar suara kompor nyala.
"makanan sudah siap di meja non"
"bentar bik, saya mau nambahin sayuran" jawab Eira sambil mengedipkan satu matanya
__ADS_1
Bik sumi terkekeh melihat kelakuan Eira.
"Butuh bantuan saya?"
"ini hampir selesai kok, bik sumi siapin buah aja, dibuat jus. Ada buah apa di kulkas? Tadi belum sempet ngintip" tanya Eira tanpa menoleh, masih sibuk dengan penggorengannya
"Ada nanas kupas, apel, sama anggur non"
" nanas kupas aja, minta tolong bik sumi cuci trus di buat jus"
18.30 Eira hampir menyelesaikan semuanya ketika suara mobil memasuki garasi.
"biar saya yang bukain pintu bik"
Eira membuka pintu dan mendapati Nata yang masih tetep terlihat tampan meskipun bajunya sudah tidak rapi lagi.
Nata terlihat terkejut, tapi kemudian menyunggingkan senyumnya.
"salim" kata Eira mengulurkan tangannya.
Nata yang sedikit bingung menurut, ikut mengulurkan tangannya, kemudian kembali terkejut karena Eira menyambut uluran tangan tersebut lalu mencium punggung tangan Nata.
Ada desiran aneh yang mengaliri dada Nata hasil dari gerakan spontan tersebut. Eira kembali menutup pintu kemudian berjalan mendahului Nata yang masih berdiri tapi matanya tetap mengekori Eira.
"Mas Nata mo mandi dulu, atau langsung makan malam?" tanya Eira antusias. Karena belum mendengar jawaban Eira menghentikan langkahnya, dan menoleh ke Nata.
Nata kikuk, alhasil meringis sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"oh iya, kamu tunggu disitu dulu, jangan kemana mana" Nata langsung melesat pergi kembali keluar. Terdengar suara pintu mobil terbuka. Nata kembali secepat kilat, menyerahkan paper bag di tangannya kepada Eira.
"terimakasih makanannya Enak" kata Nata kemudian mengacak rambut kepala Eira, lalu setengah berlari menuju lantai dua
"saya mandi dulu, tungguin jangan makan dulu"
Giliran Eira yang tertegun atas ulah Nata barusan.
pipinya menghangat.
__ADS_1