Pilihan

Pilihan
Perih


__ADS_3

Nata benar benar membawa Eira kembali ke kamar. Mengajaknya ke balkon yang view nya langsung ke halaman belakang. Eira menganga. Tak pernah mengira halaman belakangnya akan seperti ini.


"wah.... Ini bagus banget" seru Eira setelah melihat taman bunga, dan sayuran di halaman belakang. Tak lupa ada kolam ikan yang menjadi pembatasnya.


"hobi nenek, udah punya kerja sampingan segini banyak, masih sempet ikutan ngajar di TK" ujar Nata.


"keren ya nenek" lanjut Eira masih sambil menikmati pemandangan di depannya.


"aku sempet merasa bersalah juga sama nenek, Sam juga sama. Kami cucunya belum ada yang bisa bahagiain nenek. Dulu kami kira dengan membawa nenek ke komunitas arisan sosialita akan membuatnya bahagia bisa bertemu dengan kawan kawannya, ternyata passion nenek bukan itu" terang Nata dengan mengeluarkan nafas berat. Seolah ada ganjalan berat di hatinya.


"trus yang bisa buat nenek bahagia apa?" tanya Eira random, tanpa mengalihkan pandangan dari warna sejuk di depannya.


"cucunya nikah trus punya cicit. Nenek suka sekali main dengan anak kecil. Makanya lebih milih ngajar di TK daripada ikut para sosialita." jawab Nata jujur sambil memandang lekat Eira tak berkedip. Menanti respon Eira.


"ya kan tinggal nikah trus buat cicit. " jawab Eira asal.


"yuk buat cicit" sambung Nata, yang masih memandang lekat Eira.


"heh" jawab Eira yang akhirnya fokusnya kembali.


"salah ngomong kayaknya" jawab Eira tertawa ringan, sambil menutup mulutnya. Nata terkesiap. Hasratnya kembali muncul. Senyum Eira benar benar candu. Entah apa yang menggerakkannya saat ini Nata sudah menyapu bibir Eira dengan lembut.


"boleh" Nata meminta ijin entah untuk apa, tapi ketika akhirnya Eira tidak menolak, tangan Nata mulai gerilya semntara bibirnya kembali menyapu tempat yang sama.

__ADS_1


Entah terhipnotis oleh suasana atau memang hatinya mengijinkan untuk disentuh, Eira hanya mengikuti permainan Nata. Nata membimbingnya ke dalam kamar dan adalah tujuan utama adalah tempat tidur.


Pagi itu, mereka benar benar berolahraga. Nata merebahkan dirinya di samping Eira, masih sambil memeluk Eira di balik selimut. Menciumi pucuk kepala Eira dan menciuminya berkali kali, sambil mengucapkan terimakasih.


Eira baru benar benar tersadar setelah apa yang mereka lakukan pagi itu. Dia menggigit bibir bawahnya. Semoga keputusannya untuk menyerahkan dirinya seutuhnya pada Nata bukanlah sebuah kesalahan. Tapi baru saja dia berpikir demikian, kenyataan menamparnya.


"terimakasih Ana" bisik Nata pelan yang masih terdengar jelas di telinga Eira. Setelah itu terdengar nafas teratur dari Nata. Nata tertidur.


Eira semakin menggigit bibir bawahnya. Ada perih yang tiba tiba menyerang. Tangannya meremas selimut yang menutupi tubuh polosnya. Hatinya riuh, dari semula terbang tinggi seolah menjadi ratu Nata, pada akhirnya dia hanya merasa menjadi pelarian.


Eira keluar dari pelukan Nata dan kembali memunguti bajunya yang berserakan, memilih kamar mandi untuk mencerna apa yang baru saja dia lakukan. berendam dalam bathtub dengan shower menyala di atas kepalanya. Menangis tanpa suara.


Hampir satu jam Eira berendam. Eira keluar kamar mandi terlihat lebih segar, sementara matanya terlihat sembab. Nata masih terlihat tertidur pulas. Setelah mengeringkan rambutnya di kamar mandi, Eira kembali ke balkon. Duduk di kursi yang memang sudah ada di sana, sambil melihat pemandangan hijau yang tadi melenakannya.


"hemmm wangi, kamu sudah mandi?" tanya Nata. Eira hanya mengangguk tanpa suara. Tanpa menoleh ke Nata.


"aku mandi dulu, habis itu jalan jalan nyari makan, laper. " lanjut Nata yang terlihat setengah berlari menuju kamar mandi. Eira akhirnya memberanikan diri melihat Nata yang berlari ke kamar mandi, hanya menggunakan boxer nya.


Eira beranjak dari tempat duduknya, dan sesorang memanggilnya dari pinggir kolam ikan. Nenek. Terlihat memintanya untuk turun. Eira mengangguk.


Eira menyempatkan diri menyapukan make up tipis di wajahnya. Memastikan sembabnya tidak terlihat jelas. Setelah melihat kamar, Eira baru sadar betapa bar bar nya olahraga pagi mereka, kamar terlihat sangat berantaka. Eira tak peduli dan langsung keluar kamar menuju taman belakang.


Eira berpapasan dengan Ana dan tabye Rianti di ruang keluarga, mereka terlihat asik berbincang.

__ADS_1


"Eira sini, ngobrol sebentar" panggil tante Rianti yang memintanya duduk.


"Maaf tante, mo nyusulin nenek ke taman belakang, tadi di panggil. " Eira langsung melesat pergi tanpa menunggu jawaban tante Rianti.


"lihat ,,, menantu pilihan Mama , gak punya sopan santun" Rianti terlihat ngomel. Ana tersenyum melihat omelan tantenya.


"Tan,,,, aku nyamperin Nata dulu ya ke kamar" kata Ana yang melihat Eira pergi dari kamar. Tante Rianti hanya mengangguk menyetujui.


Ana sudah teebiasa di rumah ini, dari dulu juga terbiasa keluar masuk kamar Nata seperti kamarnya sendiri. Dan orang rumah tidak pernah ada yang protes. kecuali Nenek. Bagi nenek itu hal yang tidak sopan.


Ana masuk kamar tanpa ketok pintu, membuka pelan dan mendapati Nata sedang membereskan kamar sambil senyum senyum dan bersenandung lirih. Ana langsung memeluk punggung belakang Nata. Nata terkesiap. Hampir saja dia menyebut memanggil sayang yang ditujukan untuk Eira, tapi urung setelah mendengar suara yang muncul.


"Aku kangen Ta, kangen banget" kata Ana yang semakin mempererat pelukannya.


"Ana lepasin, kita sudah selesai" kata Nata ketus.


"Gak sayang, aku kembali untuk kamu, untuk memulai cerita kita lagi. Sekarang aku siap sepenuhnya untukmu" jawab Ana


"Gak bisa Anna, aku sudah menikah, aku punya Eira" jawab Nata masih dengan nada ketus, kali ini dia berusaha melepas pelukan Ana. Benar tangan itu lepas, tapi ketika Nata berbalik, justru Ana mengambil kesempatan itu untuk memeluk Nata dari depan.


"Gak bisa Ta, aku masih sayang kamu, aku cinta kamu, kali ini aku siap menikah dengan mu. Aku tahu dari tante Rianti, kalian hanya di jodohkan" jawab Ana yang mulai terisak.


Nata melepas pelukan itu, dan memilih keluar kamar. Sementara Ana semakin terisak.

__ADS_1


__ADS_2