
Eira terkesiap mendengar kalimat Nata. Darimana dia tau kalau dia sebatang kara di dunia ini.
"Kau mau kan? jika perlu mari kita buat perjanjian hitam putih agar semua terasa adil untukmu" bujuk Nata lagi. Eira terduduk dan menangkupkan kepalanya di lutut. Nata semakin bingung bagaiman bersikap. perempuan perempuan yang pernah bersamanya pernah merajuk. Tapi tidak seperti ini. Entah kenapa Eira membuatnya bingung bagaimana harus bersikap. Nata ikut jongkok di sebelah Eira, nyaris saja dia menyetujui permintaan Eira terkait pembatalan pernikahan, tapi perkataan Eira membuatnya bernafas lega.
"ok, mari kita lanjutkan pernikahan ini, dan mari kita buat perjanjian pernikahan" kata Eira mendongakkan kepalanya dan melihat Nata tepat ada di depannya. Nata tersenyum dan mengusap pucuk kepala Eira. Gemas sekaligus bersyukur. Eira spontan mengusir tangan Nata.
"aku bukan anak kecil" protesnya.
Nata hanya tersenyum menjawab protes Eira.
"ayo kembali ke kamar nenek. Aku harus pulang, hari ini tenagaku nyaris habis" kata Nata berjalan lebih dulu. Eira mau tak mau mengikuti langkah Nata.
-*-*-*-*-*-*-*-
Rumah mewah yang kosong. Itu yang terlintas dalam pikiran Eira ketika memasuki rumah Nata. Rumah dua lantai yang cukup besar. namun hanya berisi perabotan.
nenek jasmine meminta nata membawa pulang eira agar eira bisa istirahat dan bukan hanya permintaan tapi lebih ke perintah. Karena eira tidak diijinkan untuk berkata tidak.
Seorang perempuan 50 tahunan tergopoh menyambut Nata yang memasuki rumah.
"Ini bik sumi, kalo butuh apa apa minta bantuan beliau saja" seseorang yang diperkenalkan sebagai bik Sumi terlihat kebingungan dari raut muka nya tapi dia tetap tersenyum kepada Eira.
__ADS_1
Eira menyodorkan tangannya untuk berkenalan. Bi Sumi menyambutnya dengan kedua tangan.
"Ini Eira, istri saya" kata Nata kemudian. "Nyes" itu yang dirasakan Eira. Ada perasaan aneh yang nyaman dan menyenangkan ketika ada seseorang yang mengakuinya sebagai keluarga. Sebagai istri.
Bik Sumi mematung sebentar dan genggaman tangannya mengeras.
"Beneran Den, alhamdulillah, Ibu mami pasti seneng banget Aden akhirnya mau menikah" sambutnya dengan mata berkaca kaca.
"Boleh peluk ibu nyonya?" kata bik Sumi yang tanpa persetujuan Eira langsung memeluk Eira. Eira sedikit terkejut dan mencoba bertanya ke Nata lewat pandangan matanya. Nata hanya tersenyum membalas Eira. Senyum yang manis senyum pertama yang Eira lihat dari seorang Nata.
"bibik seneng banget, rumah pasti rame lagi, ibu mami juga pasti seneng banget dan gak sakit sakitan lagi karena sudah ada temennya."
"iya Den, monggo ibu nyonya silahkan duduk dulu, saya siapin minuman hangat sama cemilan" tergopoh bik sumi mengantar Eira duduk di ruang keluarga.
"panggil saja saya Eira bik"
"yo ndak bisa, jenengan istri den Nata, kan ibu nyonya di rumah ini"
" saya mohon, saya terbiasa dipanggil Eira saja"
"turutin lah bik, buat Eira nyaman. Tar kalo Eira gak betah disini, bibik kena sidang nenek" bantuan datang dari Nata
__ADS_1
"hehe siap Den, saya panggil Non saja ya, gak enek juga kalo panggil nama langsung"
Eira hanya tersenyum. Mengartikan persetujuannya.
"saya kebelakang dulu" pamit bik Sumi.
Eira menjatuhkan badannya di sofa ruang keluarga tersebut dengan hembusan nafas berat. Mencoba meletakkan kepalanya di sandaran sofa dan memejamkan matanya sekejap. Merasa ada yang memperhatikan, Eira membuka matanya, kemudian menegakkan badannya dan duduk lebih rapi. Nata ternyata duduk di sofa sebelahnya, sedang memperhatikannya.
"maaf" ucap Eira spontan.
"gpp aku tahu kamu lelah. Aku juga." Nata membenahi posisi duduknya.
"Cuma mo ngasih tahu, di rumah ini ada Bik Sumi, Susi, keponakan bik sumi yang bantuin bik sumi, Pak Maman suami bik sumi yang biasanya ngerawat pekarangan. Dan Rudi satpam depan tadi."
"Kamarku dilantai dua, ada dua kamar disana, kamarku pintu sebelah kanan Nah nanti kamu bisa istirahat di kamar sebelah kiri. meski kita sudah menikah, aku tidak akan menuntut apapun padamu sebagai istri, cuma satu tolong jangan minta pernikahan ini dibatalkan sampai nenekku stabil. Untuk kesepakatan yang lain, kita bahas nanti setelah makan malam. Dan untuk baju ganti mu, aku sudah minta Bryan untuk membawakan baju ganti, semoga ukurannya pas."
Eira menerima informasi dari Nata setengah setengah, mungkin karena sudah terlalu lelah dan fokusnya sudah mulai angin anginan. Dia hanya mengiyakan apa yang dikatakan Nata.
"Istirahat disini dulu, aku mau ke kamar ganti baju" Eira hanya tersenyum menanggapi Nata yang sudah beranjak dari sofa yang langsung menuju tangga ke lantai dua.
Lima menit berlalu dan Eira sudah terlelap meringkuk di sofa.
__ADS_1