
"anda... Kenapa disini?" pertanyaan spontan Eira. ibu jasmine turut heran dengan respon spontan Eira.
"kalian sudah saling kenal?" tanya nenek jasmine.
"beliau siapa nek?" tanya Eira pada nenek jasmine. Nata hanya diam, memandangi interaksi dua orang perempuan beda usia di depannya.
"cucuku, atau suamimu" jawab ibu jasmine
"heh...." tubuh Eira lemas lunglai di depan kamar mandi. Pandangan mata nya kabur. Nata buru buru mendekat untuk menolong Eira. tubuh eira di papah nya untuk bisa duduk di sofa.
Nata tidak berkomentar apapun. Raut wajahnya datar tak menunjukkan emosi. Sedang hati dan otaknya sedang bergulat. cerita apalagi yang akan dia jalani. Bersama es campur warna warni.
Nata mengambil air mineral botol dari kulkas membuka tutupnya kemudian menyerahkan ke Eira. Eira langsung menenggaknya nyaris habis. Kesadarannya mulai pulih. Pandangan matanya menatap satu satu dua orang di depan dan di sebelah kanannya. Nata duduk di sofa depannya. Dan nenek duduk di bed di sebelah kanannya.
"Pak saya yakin anda juga beranggapan sama bahwa pernikahan tadi pagi hanyalah lelucon kan? Mari kita batalkan saja" kata Eira to the point. Nata langsung menoleh ke sumber suara. Tatapannya sulit diartikan.
Sedangkan nenek jasmine mulai membaca suasana. Dia harus kembali berakting kesakitan agar Eira kembali luluh.
__ADS_1
"Tidak boleh, kita akan tetap melanjutkan pernikahan ini" kata Nata tegas. Masih tanpa ekspresi. Nenek jasmine tersenyum menang. Bahagia dengan keputusan cucunya.
"iya, tidak boleh. Pernikahan kalian sudah sah dan resmi di catatan negara" sambung nenek jasmine.
"Nenek, aku keluar sebentar mau ngomong sama es campur warna warni" kata nata beranjak dari sofa
"tunggu, siapa namamu tadi?" tanya Nata menghentikan langkahnya., kembali mendekat ke tempat duduk Eira.
"Eira" jawab Eira datar.
"gw Nata, panggil aja Nata, jangan pake Pak. Gw belum tua tua banget" kata Nata sambil mengulurkan tangan ke arah Eira. Eira menyambut tangan tersebut, berkenalan, maksud Eira, tapi Nata justru memegang erat tangan Eira dan menariknya dari tempat duduk. "ikut saya" kata Nata kemudian, menarik paksa tangan Eira untuk keluar kamar.
Nata melepaskan tangan Eira ketika sampai di ujung koridor lantai 5 tersebut.
"mari kita lanjutkan pernikahan ini, jika perlu aku akan menggajimu, diluar nafkah bulanan yang harus aku berikan" kata Nata langsung pada topik bahasan. Dia punya alasan kuat untuk melakukan itu, kesehatan neneknya. Juga alasan lain yang menyertainya.
"tidak, saya tidak butuh uang, saya cukup mandiri untuk bisa bertahan hidup di kaki saya sendiri" kata Eira tak kalah tegas.
__ADS_1
"aku tahu" jawab Nata kemudian.
"kalau anda tahu, sebaiknya sudahi saja pernikahan ini" Eira keukeuh
"tidak bisa!" jawab nata tegas.
"kesehatan nenekku, kau tahu kan. Beliau alasanku satu satunya tetap ingin melanjutkannya. Beliau keluargaku satu satunya. Dan aku ingin membuatnya bahagia di usianya yang tidak muda lagi" lanjut Nata
"sampai kapan?"
"entah" jawab Nata pelan.
"Kalian egois" kata Eira kemudian
"kalian sibuk dengan tujuan kalian tapi tidak memposisikan sebagai diriku. Orang lain yang kalian seret ke dalam masalah kalian" kata Eira menatap lurus Nata. Ada luka di tatapan tersebut. Dan Nata melihatnya. Air yang mengambang di pelupuk mata.
"Dengar..." suara Nata melunak lebih lembut. Dia benar benar bingung jika dihadapkan pada perempuan yang menangis.
__ADS_1
"aku tidak tahu hubunganmu dengan nenekku seperti apa, dan alasan kenapa nenek memilihmu. Tapi satu alasan yang aku tahu pasti, nenek sepertinya ingin melindungimu."
"aku tahu kamu tidak punya keluarga, sepertinya alasan itu yang membuat nenek melakukan ini"