
Eira tersenyum manis banget ketika hampir sampai di depan Nata. Dan senyum itu yang akhirnya menurunkan tangan Nata dari dada.
"maaf nunggu lama" kata Eira ketika sampai di depan Nata
"Iya yang ditunggu masih kencan ternyata" sewot Nata.
"gak gitu, kendaraan umum gak pada lewat, puter jalur. Ada kecelakaan katanya. Masih Evakuasi" jelas Eira jujur.
"dapet grab darimana, sampai bukain pintu segala" Nada bicara Nata masih setengah sewot.
"wali murid mas, kebetulan teman SMA juga" jawab Eira.
"Galih Pranatacara" sambung Eira
"kok kenal mas?" kali ini Eira kepo
"salah satu manager di kantor" jawab Nata
"wah mas kalo ketemu jangan bilang aku istri mas ya, "
"lha emang kenapa, kenyataan kamu istriku kan, kamu ngaku single sama dia" suara Nata kembali naik satu oktaf
"ya enggak, gak enak aja. Tar kalo ketemu canggung. Nih aku tunjukin" kata Eira menunjukkan cincin ditangan kanannya.
Nata spontan mengambil tangan itu dan menggandengnya. Eira sempat bingung, akhirnya paham. Nata menariknya menuju mobil yang baru sampai. Ada brian dibelakang kemudi.
Nata menyuruh Brian pindah kursi belakang , sementara Eira sudah duduk disamping kemudi. Nata mengambil alih kemudi. Sampai di pangkalan ojol terdekat, Nata meminta brian turun.
"kenapa diturunin di sini mas, kan kasihan" kata Eira ketika brian sudah turun dan Nata sudah melajukan mobilnya.
"trus turunin kemana, dia masih harus balik kantor, tadi cuma tak suruh isi bensin" jawab Nata enteng.
"Ra, pinjem tangan mu"
"hah..." Eira spontan menoleh
"iya sini pinjem tanganmu" kata Nata lagi dengan pandangan masih fokus ke jalan.
__ADS_1
Eira mengulurkan tangan kanannya ke tangan kiri Nata yang sudah menunggu sejak tadi. Nata meraihnya kemudian menariknya mendekat, dan mencium punggung tangan Eira. Eira spontan menarik tangan yang di genggam Nata tersebut tapi gagal. Genggaman Nata terlalu kuat.
"Mas....."
" ini latihan Ra, buat ketemu Nenek, eh tapi kenapa tanganmu bau asem banget" kata Nata menggoda Eira
"iyakah" Eira kembali menarik tangannya dan kali ini berhasil. Genggaman Nata tak sekencang tadi, karena tangannya kembali ke kemudi.
"enggak ah, gak asem. Masih wangi kok" kata Eira membela diri. Nata meminggirkan mobilnya dan memarkir di depan 90 mart. Toko semirip indo***t. Yang aslinya salah satu perluasan bisnis Nata. Eira belum tahu ini.
"Mana coba" Nata kembali meminta tangan Eira.
Eira mengulurkan tangannya, dan disambut tangan Nata. Nata kembali mencium tangan Eira. Dan Eira menurut saja, untuk memastikan tangannya memang gak bau asem.
"oh iya, wangi, wangi banget. Wanginya Eira" kata Nata menciumi punggung tangan Eira berkali kali sambil nyengir. Eira baru sadar kalo digodain, langsung menarik tangannya dan spontan mengepak tangan Nata
"dih godain ternyata, awas ya" Eira bersungut sungut. Bahkan dia gak sadar kalo mobil sudah berhenti dari tadi.
"yuk ah, cari minum. Haus" kata Nata yang langsung keluar dari mobil. Eira mengekor Nata.
"Selamat datang, selamat berbelanja" kata pramuniaganya
Nata spontan berhenti dan menengok ke belakang. Mengikuti gerakan Eira lewat sorot matanya.
"Heru.....lama gak ketemu, sekarang kerja disini?"
"Iya mbak, habis lulus sekolah, langsung kerja aja. Gak enak dibantu mbak terus"
"ih apaan, kita kan saudara, emang harus saling bantu" kata Eira.
Nata berdehem , memastikan sosoknya masih terdeteksi Eira ditengah suka cita Eira ketemu kenalannya.
"eh...mas, cari minum dulu gih, masih pengen ngobrol" kata Eira
"pacar ya mbak" kata Heru spontan
"suami" kata Nata posesif, langsung menarik tangan Eira.
__ADS_1
"dia kerja ra, mau dia dipecat gara gara ngobrol lama sama costumer" kata Nata sambil jalan.
"habisnya masih kangen mas"
"siapa?" kata Nata lebih ke bertanya siapa orang tadi.
"adik di panti, biasa kan anak panti tu kayak saudara sendiri. Karena kita gak punya siapa siapa"
"oh" Nata ber oh lega. Entah kenapa sejak melihat Eira bersama galih tadi, hatinya gak rela kalo Eira bisa ngobrol akrab dengan laki laki lain, selain dirinya. Ngobrol dengan dirinya saja kadang ada canggung, padahal hampir sebulan mereka bersama. ini baru ketemu langsung cas cis cus.
"kamu tak bawain bodyguard ya kalo keluar rumah" kata Nata kemudian.
"hah....buat apa, bukan orang penting pun" kata Eira sambil memilih minumannya.
"tiap ketemu orang baru langsung akrab banget, kalo di culik gimana" kata Nata yang memang khawatir tentang itu.
"kalo di culik ya mas lapor polisi lah, trus cariin" kata Eira sambil ngakak. Ada aja pikiran aneh Nata. Bisa bisanya dia yang bukan siapa siapa di culik. Eira tak tahu saja, jika identitasnya sebagai istri sah Nata terungkap, hal tersebut bisa saja terjadi. Bahkan Nyawanya bisa dipertaruhkan.
"aku gak bercanda Ra, aku serius"
Setelah memenuhi keranjang belanja dengan minuman dan snack, mereka berjalan ke kasir.
"mbak, aku pengen banget traktir mbak, tapi jajannya segini banyak, aku belum mampu" kata Heru sambil me-scan belanja Eira
"gak usah lah Her. Kamu juga kerja, kerja aja yang bener, nanti kalo ketemu lagi traktir mbak es teh" kata Eira menghibur
"Mbak kapan nikah, kok gak kabar kabar"
"belum, nanti lah kalo ada acara makan makan pasti aku ke panti ngundang kalian semua"
"mbak ketemu dimana, suaminya galak bener" kata heru kemudian sambil bisik bisik, ketika Eira selesai membayar semua belanjaan.
Eira tertawa ngakak. "yuk duluan Her"
"iya mbak hati hati"
Nata masih memasang muka ketusnya sampai ke mobil.
__ADS_1
"kenapa ngakak?"
"kata Heru, mas galak"