
Nata langsung menuju kamar mandi dan mengguyur badan nya dengan air dingin. Mengharap kesegaran air dingin dapat mengurangi penat yang saat ini di rasakannya. 20 menit berlalu, Nata keluar kamar mandi, menuju walk in closet dan memilih baju rumahan favoritnya. Kaos oblong dan cargo pants selutut. Terlihat berbeda dari tampilan sebelumnya.
Setelah rapi, kemudian mengambil hp nya di nakas. Sudah ada pemberitahuan dari sekretarisnya bahwa dia sudah tiba dan sedang menunggu di ruang tamu. Nata bergegas, banyak hal yang harus di bereskan olehnya
Nata menuruni tangga agak tergesa, dan tertegun ketika melewati ruang keluarga. Eira tertidur dengan kaki tertekuk di bawah, sedangkan bandan mungil itu sudah rebah di sofa.
Nata mendekat bersamaan dengan bik sumi yang mendekat.
"Den kamar non Eira sudah dirapikan"
"iya, tunggu dia bangun dulu bik. Kasihan, capek banget kelihatannya." kata Nata yang kemudian mendekat ke Eira dan mengangkat kakinya agar lurus dan nyaman. Sudah berusaha pelan, tapi akhirnya Eira justru terbangun. masih dengan mata merah, langsung spontan duduk. Nata masih jongkok di depannya, yang membuat Eira tertegun, membeku, antara kaget dan kesadaran yang belum pulih.
"Maaf, saya ketiduran" kata spontan yang keluar dari bibir tipisnya. Pandangannya beradu dengan Nata yang saat ini tepat ada di depannya. Dengan tampilan seger, wangi, dan maskulin. Berbeda dengan tampilan Nata tadi pagi yang memiliki kesan berwibawa.
Nata berdehem untuk mengurai kecanggungannya. Kemudian berdiri dari jongkoknya.
"mandi dan ganti baju lah dulu. Baju gantinya biar diantar bik sumi. aku tunggu di meja makan" kata Nata berlalu sambil mengusap tengkuk lehernya. Ada desiran aneh yang menguar ketika melihat Eira bangun tidur tadi.
Nata langsung menuju ruang tamu, Bryan sedang memainkan hp dengan 3 paper bag berjajar di sebelahnya.
"Mana pesananku" todong nya pada Bryan. Bryan langsung berdiri dan menyerahkan 3 paper bag pada Nata, Nata tidak menerimanya, tapi langsung menyuruh Bryan untuk menyerahkan pada bik sumi.
Eira memasuki kamar seluas kontrakan nya. Bik sumi mengajak tour sebentar, kemudian undur diri. setelah bik sumi pergi, Eira lalu duduk di tepi tempat tidur, kemudian rebahan sebentar sambil memandangi plafon kamar. Pikiran nya mengambang kemana mana, bahkan setelah bangun tidur pun cerita hidupnya masih seperti mimpi.
__ADS_1
5 menit berlalu ada suara ketukan pintu, Eira bergegas menuju pintu dan mendapati bik sumi berdiri di depan pintu menenteng 3 paper bag.
"Ini baju ganti buat Non"
"Terimakasih bik" jawab Eira yang menerima paper bag tersebut kemudian menutup pintu. Meletakkan nya diatas tempat tidur lalu berlalu ke kamar mandi.
Eira menenggelamkan diri di bawah shower. Mencari kesegaran yang dia harapkan bisa membuat dia bangun dari mimpi gak jelas yang saat ini terasa penuh di pikirannya.
20 menit berlalu, Eira keluar kamar mandi menggunakan jubah handuk yang sudah tersedia di kamar mandi tersebut. Menuju tempat tidur, dan membuka 3 paper bag di depannya. Satu paper bag berisi pakaian dalam, setelah dilihat ternyata sesuai ukurannya. Paper bag kedua berisi 3 pakaian dengan ukuran berbeda, jumsuit polos selutut, dress pendek selutut, dan setelah pendek berupa kaos oblong dan bawahan kulot lebar di bawah lutut. Eira memilih pakaian ketiga. Sementara di paper bag ketiga berisi 3 setel baju tidur, setelan rayon atas bawah, kimono dan satu lagi yang membuat Eira bergidik, lingeri warna merah yang mencolok. Muka Eira bersemu merah ketika mengetahui baju haram tersebut.
Eira memutuskan memakai setelah kaos dan celana kulot, lebih terasa nyaman. Kemudian menyapukan bedak tipis yang ada di dalam tas nya, tak lupa mengaplikasikan lipstik peach di bibir tipisnya. Tampilan yang terkesan natural jika di padu padankan dengan kulitnya yang bersih.
Eira turun dari kamar dan langsung menuju ruang makan. Benar benar rumah besar yang sepi. Jika tinggal disini kemungkinan Eira tidak betah, hanya sunyi yang terasa. Bahkan langkah kakinya terdengar nyaring di telinganya sendiri.
Eira tersenyum ketika mendekat ke meja makan karena Nata yang semula terlihat serius berbicara dengan seseorang menghentikan pembicaraannya dan mengalihkan pandangannya pada Eira.
Nata berdehem ketika Eira selesai dibaca. Ada mimik muka yang tidak dipahami Eira.
"Eira, ini Bryan. Sekretarisku" kata Nata memperkenalkan Bryan pada Eira. Eira hanya mengangguk sambil tersenyum. Tangannya tak sampai jika harus diulurkan untuk salaman.
"Saya Eira" kata Eira memperkenalkan diri.
"Bryan Nyonya" jawab Bryan ikut memperkenalkan diri.
__ADS_1
"em sebaiknya jangan panggil saya nyonya. Usia kita sepertinya tidak terlalu jauh. panggil nama saja lebih nyaman seperti itu" kata Eira kemudian.
Bryan menoleh ke Nata meminta persetujuan.
"Terserah kalian, tapi yang jelas Bryan seusia denganku, bukan seusia dengan mu" jawab Nata tegas. Dia tidak terima jika bryan dikata seusia Eira. Gak lucu, apa iya di terlihat lebih tua dari Bryan?
"Ups maaf" kata Eira kemudian sambil menutup mulutnya.
"Ck. Ayo makan, ada yang mau aku bahas setelah makan" kata Nata terdengar seperti perintah.
"Bryan, siapa yang pilihin baju ganti buat Eira" tanya Nata di sela menyendok makanannya.
"Saya minta bantuan butik langganan non silvia Pak,"
Eira yang semula menikmati makannya ikut berhenti mengunyah. Penasaran karena isinya aneh menurut Eira.
"Semuanya yang milihin butik?" tanya Eira penasaran.
"Iya, saya minta masing masing 3 setel pakaian, saya minta ukuran yang sama dengan non silvia karena saya lihat mirip ukurannya." Jawab Bryan jujur
"boutique Mawar ya, yang sebelah mana?" tanya Eira
"kamu tahu boutique mawar?" tanya Nata kemudian
__ADS_1
"iya tahu , dari paper bag nya" jawab spontan Eira.
Nata mendengus kesal.