
Pagi ini Eira bangun dengan malas. Alarm hp nya sudah menyala dari 30 menit yang lalu tapi matanya masih terasa lengket. Setelah semalam berkutat dengan negosiasi yang cukup alot. Kesepakatan yang mengharuskan dirinya menguras lebih banyak tenaga lagi karena berlarut hingga tengah malam.
*flashback*
Nata meletakkan sebuah map di depan Eira, setelah sebelumnya Eira dipersilahkan duduk di kursi ruang baca yang luasnya sendiri seukuran kamar yang ditempati Eira.
Eira membacanya satu satu. Mulai dari pembukaan sampai isi kesepakatan sebagai berikut :
Pihak pertama dan kedua sepakat untuk
Merahasiakan perjanjian ini dari ibu jasmine
Perjanjian ini berlangsung maksimal 1 tahun atau selama bu jasmine dalam perawatan dan akan ada review ulang setiap 3 bulan
Pihak pertama (Nata) akan memberi gaji kepada pihak kedua sebesar 25 juta rupiah setiap bulannya di luar nafkah wajib yang tetap akan diterima oleh pihak kedua.
Pihak kedua akan berpartisipasi dalam setiap kegiatan kedinasan yang menyangkut perannya sebagai nyonya Anindhita dan akan mendapatkan gaji lembur.
No physical touch, but skin ship allowed
Eira mengernyit, kemudian menatap Nata, mengambil pulpen yang sejatinya disediakan untuknya tanda tangan. Terlihat mencoret dan menulis sesuatu. Kemudian menyerahkan kepada Nata.
"Saya sepakat untuk melanjutkan pernikahan ini bukan untuk di gaji, tapi karena saya memang tulus ingin ibu jasmine segera pulih kesehatannya.
Jika seperti perjanjian awal, itu artinya saya harus tunduk pada anda karena anda sudah menggaji saya. Tidak! Saya cukup mandiri untuk bisa menghidupi saya sendiri. Dan entah diijinkan atau tidak, saya akan tetap bekerja di TK. Itu passion saya." Eira menerangkan poin poin yang dirasanya tidak pas dengan apa yang dia mau.
Nata menghela nafas kasar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Cukup sulit bernegosiasi dengan perempuan di depannya. Se mandiri apa sebenarnya dia hingga menolak gaji 25 juta sebulan dan lebih memilih gaji 700 ribu perminggu?
"Begini Eira, tentang gaji, mohon pertimbangkan lagi. Aku juga tulus ngasih ke kamu, bukan apa, saat ini akulah yang benar benar butuh bantuanmu. Tolong ringankan rasa bersalahku karena telah melibatkan mu dalam urusan keluargaku. Well harusnya nenek yang meminta maaf, karena aku pun tak tahu rencananya akan seperti ini" terang Nata membela diri.
"Tapi..." Eira masih mengelak
"Eira please....." potong Nata dengan tatapan memohon.
__ADS_1
"oke ... Baiklah" Eira menyerah dengan tatapan memohon Nata.
"untuk poin no 5, what the difference between them?" Eira mempertanyakan
"gini...jangan salah paham. Kita ini pasangan di depan nenek. Masa iya, gak pegangan tangan minimal, jadi kalo cuma skinship kan gak berlebihan. Kalau too much, aku hargai pendapat kamu. Intinya untuk poin no 5, bisa kita diskusikan sambil jalan. Okay" Nata menerangkan dengan hati hati. Selama ini se pengalaman Nata, memahami wanita tak serumit ini. Tinggal kasih duit, dan kamu bakal dimanjain wanita tersebut. Lah ini... Perempuan satu di depannya ini perlu threatment lebih.
"okay... Baiklah. Bisa kita selesaikan sekarang, kepalaku sudah pusing, mataku sudah panas. Dan besok pagi pagi harus ngambil baju ganti buat ngajar. Baju yang dibawa bryan kemarin hanya baju santai dan baju yang gak bisa dipakai"
"okay, draf ini akan ku rapikan, kita bisa tanda tangan abis sarapan besok pagi" jawab Nata.
*Flashback end*
Eira bangun dengan malas menuju kamar mandi. Air dingin semoga mampu membuat matanya dapat terbuka lebih lebar.
30 menit berlalu dan Eira sudah siap turun ke bawah. Jumpsuit polos pendek selutut warna navy dengan aksen tali di pinggang, hasil karya, ah bukan hasil bawaan bryan dari butik mawar, saat ini terpaksa dia pakai. Ukuran yang pas sebenarnya, cuma Eira sedikit tidak nyaman. Pakaian ini terlalu girly untuk keseharian Eira. Eira lebih suka kaos oblong seperti yang dipakainya semalam. Lebih nyaman digunakan untuknya.
Eira turun membawa tasnya sekalian biar nanti tidak bolak balik. melewati tangga, Eira langsung menuju dapur. Bik Sumi masih berkutat di kompor.
"Pagi bik" Eira menyapa. Sambil meletakkan tas nya di meja makan
"bikin sarapan apa bik?" tanya Eira mendekat
"ini buat nasi goreng sama telur ceplok. Den Nata suka sarapan nasi goreng." terang bik sumi, sementara tangannya masih sibuk mengupas bawang.
"wah kebetulan, saya juga suka. Sini bik saya buatin, daripada saya nganggur gak ngapa ngapain"
"waduh non, jangan, nanti saya kena marah den Nata. Non Eira nunggu di ruang keluarga aja, sambil ngapain gitu, nonton tv ato main hp"
"wah tidak bisa bik, saya tiap pagi juga biasa masak sendiri... Emm gini aja, saya masak nasi goreng bik sumi siapin lalapannya aja"
"kok lalapan non, kan nasi goreng?"
"udah nurut aja" rayu Eira sambil ngedipin mata
" timun, kubis, bawang bombai atau bawang merah, kemangi, ada kan bik?" lanjut Eira
"ada non, kemanginya yang gak ada" terang bik sumi
__ADS_1
"okay, gak papa. Timun nya bik sumi kupas, potong dadu, kubisnya iris tipis memanjang, sementara bombay atau bamernya cincang kasar. Gak usah di bumbui apa apa, kalau sudah siap langsung taruh meja. " perintah Eira antusias.
Entah kenapa ide memasak ini membuat mata Eira bisa terbuka lebar. Adrenalinnya terpacu untuk menjadi chef dadakan pagi ini. Dengan cekatan Eira meracik bumbu nasi goreng, menguleg manual kemudian menumis nya di wajan.
30 menit berlalu, hidangan tersaji di meja di temani air putih dan teh jahe. Ide Eira juga menyajikan teh jahe, karena bik sumi membuat banyak jadi di sajikan sekalian.
Eira melepas apron nya dan ketika berbalik, Nata sudah berdiri di samping kursi meja makan di belakang Eira. berdiri dengan pandangan takjub.
"owh... Sudah siap, baguslah. Yuk sarapan, abis sarapan saya minta tolong dianterin ke kontrakan. buru waktu, takut telat ngajar." ceriwis Eira sambil meletakkan melipat apronnya dan menyerahkan ke bik sumi.
"Bik sumi sarapan sekalian, masih banyak di wajan, sekalian saya buat banyak, biar semua bisa masak"
Bik sumi mengangguk mengiyakan tawaran Eira.
Bau nasi gorengnya benar benar menggugah selera. Nata sudah duduk dan menyesap teh jahe nya. Rasa yang pas, dan aroma jahenya benar be ar membuat hangat suasana pagi ini. Pagi yang berbeda dari pagi sebelumnya, setidaknya untuk Nata.
"mau diambilkan atau ambil sendiri?" kata Eira menawarkan diri, setelah piring nasinya terisi se centong nasi goreng beserta lalapannya.
"boleh" kata Nata menyodorkan piringnya dengan kedua tangannya. Eira menyendokkan dua centong nasi goreng ke piring Nata.
"lagi?"
"okay, cukup"
"ini lalapan, biasanya temenku sarapan nasi goreng. Ada timun, kobis, bawang bombay sama ini bawang merah. Enak seger, cuma kalo ngambil bawang bombay sama bawang merah habis makan mesti gosok gigi hehe" Eira menerangkan satu satu sambil menggeser piring lalapan tadi di depan Nata.
Nata terlihat ragu, tapi akhirnya mengambil se sendok timun. Di cobanya, setelah mengunyah, dia terlihat tersenyum ke Eira yang justru sedang sibuk menikmati nasi di piringnya.
"Ini enak, lebih enak dari nasi goreng bik sumi biasanya" celutuk Nata sambil terus menyendok nasi gorengnya.
"Ini yang masak Non Eira Den, saya cuma buat telur ceplok sama ngupas lalapan" sautan bik sumi dari dapur yang cuma sebelahan dari meja makan tersebut.
"Masih gak, mau dong di bungkus buat makan siang" Kata Nata spontan
Eira menghentikan suapannya dan langsung merespon. "duh jangan nanti sakit perut keseringan makan nasi goreng, apalagi sudah gak hangat"
"gak papa, nanti minta OB panasin di pantry, bisa kan?, ini beneran enak soalnya. Bik bungkusin 2, buat Bryan sekalian" perintah Nata
__ADS_1