Pilihan

Pilihan
Bertemu Nenek


__ADS_3

Hampir sebulan sejak kepulangan Nenek jasmine dari RS , dan Nata serta Eira belum sempet bertemu ataupun berkunjung ke Rumah utama. Kesibukan membuat mereka melakukannya. Hampir tiap hari nenek jasmine video call meminta mereka datang, baru akhir pekan mereka menjanjikan untuk bisa datang.


Pagi ini pagi yang sibuk buat Eira, bagaimana tidak, hanya ke rumah nenek dua malam saja, sudah seperti mau liburan keluar negeri seminggu. Apa pasal, Nata kumat manja, dimana gak mau packing sendiri.


"Ra, bajuku jadiin satu saja sama kopermu"


"saya gak bawa koper mas, bawa ransel aja"


"makanya, aku titipin bajuku biar kamu nya bawa koper"


"lah.... Okay, mana bajunya"


"masih di lemari, bawain kaos oblong aja"


"mas ini sudah siang, tar saya telat"


"kan tak antar, ayolah ra...bantuin"


Eira nurut, entah kenapa berasa bener bener ngerawat anak bayi. Eira yang terbiasa apa apa sendiri, harus ketemu dengan Nata, yang kalo manjanya kumat, ngalahin anak umur 3 tahun.


"kaos yang mana? Ini apa ini" tanya Eira ketika sudah di depan lemari Nata. Sementara Nata duduk manis di tepi ranjang


"bawa aja semua" Nata bergeming. Hp nya masih terlalu asyik di tangannya.


Eira menghela nafas kasar. Dua stel baju rumahan sudah tertata rapi di koper kuning miliknya.


"baju sudah, apalagi?"

__ADS_1


"daleman sama alat mandi, dalemannya di rak lemari, kalo alat mandinya ada di kamar mandi. Aku gak suka pake alat mandi orang lain"


"mas, kan bisa ambilin sebentar, biar langsung tak packing" Eira protes.


"Sayang.... Aku sedang bekerja, demi keutuhan rumah tangga kita" kata Nata menggoda Eira dengan mengedipkan satu matanya ke Eira, sementara tangan kanannya menunjukkan layar hp yang berisi kurva naik turun. Menunjukkan dia benar benar sibuk.


Eira kembali menghembuskan nafas kasar. Dan untuk kesekian kalinya dia nurut lagi. menarik rak lemari, mengambil daleman Nata dengan asal, memasukkan ke koper, kemudian berjalan ke kamar mandi. Mencari alat pribadi Nata, mulai dari sikat gigi, facial foam, sampai cukur kumis, semua dimasukkan dalam pouch yang sudah di siapkannya.


"Mas, parfum habis" teriak Eira dari kamar mandi yang hanya berjarak 3 meter dari tempat tidur.


Nata tak menoleh, masih sibuk dengan hpnya


"di laci bawah Nakas no 2"


Eira mendekat dan mencari laci yang dimaksud, menariknya dan tidak ada parfum di sana. Hanya sebuah figura yang dibalik. tidak ada maksud apapun, Eira spontan membalik figura tersebut, dan ada foto Nata mencium dan memeluk wanita cantik sekali, dan itu bukan silvia putri.


Eira menelan ludah. Dia tidak terkejut ataupun apa, tapi Entah, ada sudut hatinya yang terasa nyeri. Eira mengembalikan foto tersebut seperti posisi semula, menutup laci dan kembali membuka laci sebelahnya. Lusinan kotak parfum ada di sana. Eira asal comot saja satu. Memasukkannya dalam pouch dan merapikannya di koper.


" Sudah? Yuk berangkat" Kata Nata meletakkan hp di saku celananya. Menarik koper, mendahului Eira jalan. Eira mengekor di belakangnya.


"Ra nanti ke kantor dulu biar kamu dianter Bryan ke Sekolah ya, tar pulanya aja tak jemput di tempat biasa, trus langsung ke rumah nenek." kata Nata saat di jalan


"ok" jawab singkat Eira.


"tumben" kata Nata


"kenapa?" tanya balik Eira

__ADS_1


"jawabnya singkat banget" protes Nata


"lha mesti jawab gimana?" timpal Eira


"Ya apa gitu"


"Siap laksanakan bos" jawab Eira kemudian


"ya gak giti juga Ra"


"Ya habisnya gimana?"


Dering telpon menyudahi percakapan gak jelas mereka. Nata memencet tombol loudspeaker


"Pak, tim legal sudah disini, menunggu kedatangan anda, karena jam 9 sudah harus boarding ke singapura pak" sura bryan dari seberang.


"lah...pagi banget. Masih harus nganter Eira. Kamu maksudku yang tak suruh" jawab Nata.


"nanti bapak naik ke atas, nyampe sini saya jelasin sebentar, nanti saya turun langsung nganter non Eira, bagaimana kalau seperti itu Pak?"


"Ok" jawab Nata menutup telpon


"Ra... Pegangan, mau ngebut ini" kata Nata memberi aba aba. Dan benar saja, Nata langsung menginjakkan kakinya dipedal gas.


"Mas,,,,, saya naik kendaraan umum saja kaya biasanya" kata Eira yang mendengar percakaoan Nata dengan Bryan tadi. Dia sadar diri harus bagaimana.


"jangan nanti kamu telat tambah lama" protes Nata dengan pandangan fokus ke jalan.

__ADS_1


"tapi kan...." protes Eira


"ya gak usah kan kan an, tar kamu tunggu di lobi, tunggu 5 menit Bryan pasti dah turun" kata Nata kembali fokus ke setirnya.


__ADS_2