
Nata benar benar bingung bagaimana harus menghadapi kemarahan Eira. Sejak jawaban Eira di mobil tadi, Eira benar benar membisu. Bahkan ketika ditawari mampir untuk jalan jalan pun Eira menolak, diajak makan juga menolak. Akhirnya Nata memilih kembali ke rumah.
Eira langsung masuk ke kamarnya dan menguncinya, ambruk di kasur dan memilih untuk tidur. Kepalanya pusing. sampai jam 7 malam Eira belum juga keluar kamar. karena khawatir, Nata masuk kamar Eira lewat pintu samping yang juga terhubung dengan kamar Nata. Nata punya kuncinya.
Eira masih meringkuk di kasur dengan pakaian tadi siang. dengan wajah damai dan nafas teratur. Nata membelai wajah itu pelan. Benar benar penyesalan yang terlihat di wajah Nata.
"Maaf ya sayang" lirih Nata. Nata kemudian mengangkat tubuh Eira dan membawanya ke kamarnya. Merebahkan tubuh nyenyak Eira dan menyelimutinya. Makan malam sudah tersaji di meja makan, tapi Nata belum berani membangunkan Eira. Dia benar benar menjaga agar mood Eira tidak rusak lagi.
Jam 10 malam, Eira membuka matanya pelan. Mengingat kembali apa yang terjadi dan bagaimana dia bisa berada di bawah selimut dan di kamar yang asing. Eira mengedarkan pandangannya dan mendapati Nata tertidur dengan duduk menyandar di tepi tempat tidur di sebelah kanannya. Ada sebuah buku yang terlihat di pangkuannya, sementara matanya terpejam.
Eira masih mencoba mengingat apa yang terjadi, bahkan sempat mengintip dibalik selimut dan bernafas lega mendapati bajunya utuh. Entah,,, ada Nata disampingnya membuat pikirannya traveling.
setelah ganti baju dan ritual di kamar mandi, Eira keluar kamar turun ke bawah, perutnya terasa lapar. Agak nyesel juga tawaran makan siang Nata di abaikannya. Benar ternyata marah itu merugikan dirinya sendiri. Eira langsung menuju dapur, meja makan sudah bersih tinggal kaleng kerupuk dan beberapa sisir pisang emas di tempat buah yang masih ada di meja. Eira Langsung menuju kulkas mencari sesuatu yang bisa dimakan.
Nihil. Eira hanya mendapati anggur dan apel, susu dingin, beberapa bahan sayuran untuk masak esok dan beberapa botol minuman dingin. Masih asik memindai isi lemari, sepasang tangan kekar merengkuhnya dari belakang, dan langsung meletakkan kepalanya di ceruk leher Eira. Jantungnya sempet terhenti sesaat karena kaget, tapi kemudian sadar kalau aroma yang mendekat adalah aroma Nata.
"lapar ya" kata Nata meninggalkan kecupan di leher Eira. Gelenyar aneh merasuki tubuh Eira gara gara kecupan tadi.
Eira mengangguk mengiyakan.
"makan yuk," ajakan Nata terdengar sangat menggiurkan.
"indo**e mau?" tanya Eira menawarkan.
"jangan, keluar aja yuk, di gang depan ada nasi uduk enak" kata Nata
"oke, aku ganti baju dulu" kata Eira melepaskan diri dari pelukan Nata, kemudian menutup pintu kulkas.
"ga usah" Nata terlihat memindai Eira dari atas ke bawah. Kaos oblong celana selutut di padu dengan rambut yang di jepit ke belakang. Simple tomboy tetep cantik dan gemesin
__ADS_1
"masih cantik. Aman kok" lanjut Nata.
"okay" kata Eira bejalan keluar tak lupa nyomot pisang beberapa sisir pisang, memakannya sambil jalan. Perutnya benar benar keroncongan. Nata menyusul Eira dan langsung meraih tangan Eira dan menggenggamnya. Senyumnya terukir di wajah. Eira berhenti mendadak dan melepaskan tangan Nata.
"tar,,, makan dulu" Eira langsung membuka pisang dan memakannya sekali hap, sampai mulutnya penuh.
"mau....." kata Nata dan Eira menunjuk meja. Nata langsung meraih wajah Eira dan membekap mulut penuh Eira dengan bibirnya, dan dengan lihainya mengambil pisang yang belum sempat dikunyah Eira kemudian memakannya.
"manis Ra, kek kamu" kata Nata sambil ngunyah
"Mas..... " Eira protes, karena pisang tersebut memang buat ganjal perutnya yang sejak tadi keroncongan.
Nata hanya meringis membalas protes Eira, sampai di garasi Nata memilih mengeluarkan motor tanpa helm. Dan mengajak Eira naik.
"Malem pak" kata Rudi yang membukakan gerbang untuk Nata.
"Nasi uduk mau?" tanya Nata pada Rudi
"oke sabar ya, mau jalan jalan dulu sama bos" kata Nata menunjuk Eira yang duduk di belakangnya. Rudi hanya cengar cengir menatap bosnya yang melaju melewati jalanan gang yang telah sepi.
Sebuah warung tenda sederhana dengan tulisan nasi uduk lumayan di banner depan. Nata mengajak Eira masuk. Dan langsung di sapa sama penjualnya.
"wah....lama gak kesini mas" sapa sang penjual bernama cak sapto.
"iya cak lagi sibuk"
"sibuk sama gandengan baru ya"
"bos baru ini cak, mau makan apa Yang?" tanya Nata pada Eira
__ADS_1
"Ayam aja, minumnya jeruk anget" kata Eira yang langsung menyesuaikan tempat. Lesehan minimalis yang cozy dan ramai pengunjung meskipun sudah malam. Bisa jadi makanan nya enak. Batin Eira mengamati sekitar.
Gak lama hidangan datang. Eira langsung menyantap makanannya karena perutnya memang sudah dangdutan.
15 makanan tandas, Eira cuci tangan dan kembali duduk di samping Nata. Nata sudah lebih dulu menyelesaikan makanannya.
"gak nambah?" tawar Nata.
Eira menepuk perutnya menyampaikan kalau dia kenyang.
"Sering kesini?" tanya Eira kepo. Karena sang penjual terlihat akrab dengan Nata.
"dulu sama Ana, tapi diagak pernah mau makan. Dietnya berantakan katanya" jawab Nata enteng. Kilasan kenangan muncul sekelebat di kepala Nata.
"kamu gak marah kan, aku cerita soal Ana"
"ya enggak lah , Ana itu ada dalam sejarah perjalanan hidupmu, mau di tolak kaya apa, cerita mas lalu kamu pasti penuh dengan Ana. Aku realistis kok, karena hati emang gak bisa dipaksa. Mau kamu bilang udah melupakan de el el, aku gak tahu juga hati kamu milik siapa, kamu bohong atau enggak hanya kamu sendiri yang tahu" jawab Eira pelan tertata dan juga tegas.
"Ra.... Aku jujur sama kamu" kata Nata meraih tangan Eira, menggenggamnya lembut.
"iya aku percaya kok, meski kenyataanya beda." jawab Eira.
"maksud kamu?" Nata ga paham maksud Eira.
"mungkin kamu lupa, tapi aku ingat jelas tadi pagi, dan aku benar benar dalam kondisi sadar. "terimakasih Anna" dan kata tersebut benar benar menyakitiku" Eira jujur, kalimatnya terdengar sedikit bergetar.
Nata terlihat terhenyak, dan mempererat pegangan tangannya. "oh...****" runtuk nya dalam hati. Dia baru mengingatnya. Nata meraih badan Eira dan memeluknya, gak peduli di lihat orang, yang pasti dia benar benar merasa bersalah pada Eira.
"maaf sayang, please jangan nyerah sama aku. Aku tahu permintaan maaf ini gak sebanding sama sakit hati kamu."
__ADS_1
Eira mencoba melepas pelukan Nata, karena risih diliat orang. "mas dilihatin orang ni" Nata tak peduli.