Pilihan

Pilihan
Sisi lain Nata


__ADS_3

Pagi ini Nata turun dari kamar lebih pagi, sudah rapi dan siap berangkat kerja. Ada semangat baru yang melingkupinya ditambah rasa penasaran tentang jawaban Eira dari pengajuan proposal yang dibuat Nata semalam.


Tujuan utama tetap meja makan. Penasaran menu apa lagi yang akan tersaji pagi ini.


"Eira mana bik?" tanya Nata ketika dia tak melihat sosok Eira


"loh kan nyonya sudah naik ke atas, mau mandi tadi katanya" serobot Susi menjawab pertanyaan Nata. Bik Sumi hanya melotot ke Susi karena lancang menjawab tanpa ditanya


"Owh" respon Nata yang langsung duduk di kursinya, memindai hidangan di meja. Ada ayam goreng, tempe tahu goreng sebuah mangkok sayur buah kupas dan semangkok sambel.


"Ini kopi den Nata" susi datang membawa secangkir kopi di depan Nata tanpa diminta.


"wah makasih sus, tapi hari ini saya gak minum kopi kayanya" jawab Nata jujur


"perutnya tadi udah keisi apa aja Mas, abis bangun tidur?" suara Eira di pintu dapur membuat Susi kembali membawa secangkir kopi spesialnya ke pantry


Nata menengok ke sumber suara, Eira datang dengan setelan rapi ala ala bu guru, rok pendek selutut, kemeja pendek warna senada, dan muka yang terlihat mengantuk tapi masih terlihat manis.


"kamu gak tidur?" spontan Nata berkomentar. Eira tak menjawab langsung ke pantri, minta air panas ke bik sumi, dan menyiapkan gelas untuk membuat dua jeruk peras hangat.

__ADS_1


"mbak susi, kopinya tadi tolong taruh tumbler , di kasih es ya, saya yang butuh kopi. Tapi dingin saja, nanti tak bawa kerja" perintah Eira pada Susi. Susi mengangguk dengan muka masam. Niatnya dapat pujian dari Nata buyar seketika, padahal Nata tak pernah menolak kopi buatannya selama ini.


"kamu beneran gak tidur?" Nata kembali bertanya dan akhirnya mengekor Eira karena tak mendapat jawaban.


Dapur ukuran 3x5m itu terasa sesak di isi 4 orang.


"dih mas Nata duduk saja, gak muat nih tempatnya" protes Eira ketika akhirnya Nata sampai di sampingnya.


"habisnya gak di jawab" jutek Nata bik Sumi mendorong Susi untuk pindah tempat, sadar diri dapur tersebut dalam penguasaan yang punya rumah.


"Bik sarapannya jangan lupa dibawa" Seru Eira ketika sadar bik sumi mau kabur. Yang jelas Eira juga merasa masih canggung jika harus berada di ruangan sempit bareng Nata. Oksigen berasa cepet habis.


"mas mau bantuin gak" todong Eira pada Nata yang belum beranjak dari sebelahnya.


"Mas suka gak menunya? Tadi bik sumi mau buatin roti aja buat sarapan trus saya bilang, gak biasa sarapan Roti, gak kenyang. Jadi dibuat menu dadakan kaya gini. Cobain gih, sayur sop, ayam lengkuas, sambel kecap sama tempe tahu goreng" cerocos Eira ketika sudah ikut duduk di meja makan. Nata baru saja meletakkan jeruk hangatnya. Jeruk hangat tawar, tapi ada semburat manis yang bukan gula.


"yang masak siapa?" tanya Nata sambil menyodorkan piringnya pada Eira


"bik sumi lah, saya cuma buat ayam lengkuas aja" jawab jujur Eira. "Sayur mau?" tanya Eira menawarkan

__ADS_1


"kalo ditaruh mangkok aja bisa? Gak suka sayur" jawab Nata


"oke" Eira mengambil mangkok sayur yang sengaja memang sudah disiapkan. Bik sumi tadi sudah mewanti wanti kalo Nata gak suka sayur, jadi Eira punya ide meletakkan mangkok sayur kecil di meja.


Eira segera meracik sarapannya ketika selesai mengambilkan sarapan untuk Nata. Nasi sayur dikasih sambel kecap. Setelah meratakan sayur kemudian menikmati suapannya sendiri. Rasa yang bener bener dirindukan Eira. sarapan ini adalah menu andalan dulu saat di panti asuhan.


"Enak kah?" Nata penasaran ketika melihat betapa lahapnya Eira menikmati sarapannya.


"Mau coba? Ini paduannya enak bangets, coba deh" Eira beriklan


"boleh" kata Nata beranjak dari tempat duduknya mendekat ke Eira dan langsung menyendok nasi racikan Eira. Eira mematung di tempat duduknya. Tak mengira tawaran mencoba adalah agar Nata meracik sarapannya sendiri, malah Nata mengambil sample dari piringnya.


"huwaaaa pedes....." respon Nata mengipas mulutnya ketika selesai menelan sesendok sarapan dari piring Eira


Eira spontan menyerahkan gelas jeruk hangatnya yang bahkan belum disentuhnya.


"tapi enak" seru Nata setelah kembali ke tempat duduknya. Kali ini gantian eira mengekor Nata.


"gini buatnya mas, mangkoknya di kasih sambel, tak kasih satu dulu. Mas kayae gak doyan pedes, sambelnya diratain, abis itu di kasih nasi, nah siapin ayam goreng sama tempe goreng di piring. Ambil sesendok nasi dan sayur trus gigit ayam ato tempenya" kata Eira sambil mempraktekkan racikannya. Bahkan sampai menyuapi Nata tanpa sadar.

__ADS_1


"enak?" Eira menunggu respon Nata, persis seperti seorang ibu yang menunggu respon anaknya ketika disuapi.


Nata mengangguk antusias. Gak pernah menyangka , sarapan sayur bisa semenyenangkan ini.


__ADS_2