Pilihan

Pilihan
sisi lain Eira


__ADS_3

Nata mengantar Eira sampai di halte bis pertigaan arah ke kampung durian runtuh. Sama seperti hari sebelumnya, dia belum ingin berkunjung ke kampung durian runtuh. Apalagi perlu waktu yang lumayan lama jika harus mengantar Sampai TK Eira. Dan beruntungnya Eira tak mempermasalahkan hal tersebut. Sikap itu pula yang membuat Nata semakin mengapresiasi Eira. Cewek mandiri yang tidak perlu basa basi. Beda dengan perempuan perempuan sebelumnya yang dikenal Nata. lebih manja.


"Bisa nyetir?" tanya Nata suatu waktu, memastikan bahwa Eira bisa bawa mobil untuk memudahkan Eira bekerja.


"bisa mas, cuma gak pengen aja. Mau pake kendaraan umum aja" jawab Eira jujur


"Kenapa? Lebih enak to buat kemana mana, lagian saya gak tiap hari bisa nganter kamu" terang Nata soal alasannya bertanya.


"ya gak papa, nanti kalo mas Nata gak bisa ngantar, saya naik kendaraan umum saja" eyel Eira


Nata geram sendiri , Eira tidak tahu saja, Nata mengkhawatirkannya. Bukan apa, Nata sama sekali belum pernah naik kendaraan umum sekalipun. Kalau gak dianter sopir ya pake kendaraan pribadi. Bertemu banyak orang belum lagi tingkat kejahatan yang meningkat di kendaraan umum membuatnya bergidik ngeri.


"saya takut darah" aku Eira yang membuat Nata terkejut. Nata memilih diam, mendengarkan cerita Eira.


"Sejak kecil saya punya kecemasan lebih pada darah, darah dalam bentuk cairan, bukan yang kalo jatuh trus beret dikit ada darahnya, bukan yang seperti itu, tapi darah dalam jumlah banyak. Kalo ke trigger bisa pingsan mendadak. Nah alasan saya gak bawa kendaraan pribadi ya itu, kalo pake kendaraan umum, kalo saya pingsan ada yang nolongin. Kalo pake kendaraan pribadi, saya pingsan malah bikin celaka orang" terang Eira


Nata paham betul apa yang dirasakan Eira, karena dia mengalami hal yang sama, bedanya bukan darah, hanya trauma untuk kembali ke kampung durian runtuh.


"sudah mendapat pengobatan?" tanya Nata


"Sudah, sekarang lebih baik. Sebelum mendapat pengobatan, tiap dapat tamu bulanan mesti pingsan, sampai ibu panti akhirnya turun tangan nganter periksa"


"sorry sebelumnya, saya sebatang kara, dan tinggal di panti, jadi keluarga saya ya keluarga panti" lanjut Eira


"aku tahu kok" jelas Nata

__ADS_1


"dikasih tahu nenek?" kepo Eira


"Bukan, waktu hp kita ketuker, sempet liat galery isinya background yayasan. Penasaran kan, akhirnya kepo. Ternyata pernah tinggal di panti asuhan naungan yayasan" jelas Nata jujur.


"lah waktu itu katanya gak liat" Eira protes


"mana .....aku gak pernah bilang gitu, lagian salah sendiri, punya hp gak pernah dikunci, mana narsis banget pasang foto sendiri segede gaban" cerca Nata


"ya gak papa, kan hp hp sendiri, beda klo misal hp mas Nata aku pasangin fotoku, baru bisa protes ini hp aku sendiri kenapa di protes" Eira balik ngeyel gamau kalah.


"udah kok" kata Nata tiba tiba


"apanya yang sudah?" Eira penasaran


"foto kamu" jawab Nata penuh teka teki


"Foto kamu udah jadi wallpaper, buat nakut nakutin semut"


"Mas...."


"tuh lihat, paswordnya tanggal nikahan kita" Nata menyerahkan hpnya ke Eira. Hp yang sama yang waktu itu pernah ketuker sama hp miliknya. Sementara Nata masih sibuk di depan setir


Eira melihat hp tersebut, memasukkan tanggal yang masih hangat dalam ingatannya. Dan benar saja, fotonya terpampang di wallpaper hp Nata. Eira speechless, tapi pertahanan dirinya masih kuat.


"Mas nepi dulu, ada yang mau tak omongin" kata Eira kemudian. Nata nurut dan menepikan mobilnya.

__ADS_1


"Mas....jangan kaya gini lagi ya, "kata Eira menunjukkan layar hp yang berisi fotonya.


"Mas kan masih ingat hubungan kita kaya apa, aku gak mau terlibat perasaan lebih, jika akhirnya harus segera berakhir. Lagian Nenek juga sudah sembuh, kaya gini tu bikin aku ge er mas, tar nglunjak lo" terang Eira dengan hati hati.


Nata mencari kebenaran dari perkataan Eira lewat matanya. Dan yah perempuan di depannya punya prinsip. Eira tak tahu saja, sikapnya selama ini selama menjadi istri cukup membuat hati Nata mobat mabit, makanya dengan berani Nata mentransfer foto Eira ke hpnya tanpa ijin. Tapi kenapa perempuan di depannya justru membuat batasan ketika tahu.


Nata menghela nafas panjang. "baik, sini in hpnya"


Nata mengambil hp tersebut dan menghapus poto Eira, menunjukkan ke Eira.


"Kaya gini?" katanya menunjukkan walpaper yang bersih, Eira terlihat menghela nafas, dan mengangguk.


Nata terlihat menghidupkan mobilnya, Eira kembali fokus ke jalan depan.


"Ra, liat sini" dan suara shutter kamera terdengar nyaring. Nata dan Eira selfi dengan muka terkejut Eira


"Nah kalo kaya gini gak papa kan ya" kata Nata menunjukkan selfie barusan sudah menjadi wallpaper.


"Mas...." Eira protes, dan protes Eira terdengar seksi di telinga Nata. Andaikan suara seksi tersebut berada ditempat dan suasana berbeda. Pikiran Nata mulai traveling.


"Mas..." Eira kembali protes. Nata mulai menjalankan mobilnya kembali.


"udah ah... Yang pasti saat ini kamu istriku, meskipun bisa jadi kamu punya laki laki lain di luar sana. Tapi kenyataannya saat ini, kamu, Istriku"


"jalan lagi ya, istriku, Nanti keburu telat" Nata melajukan mobilnya masih sambil menggoda Eira

__ADS_1


Eira semakin jengkel. Nata gak bisa dibilangin.


__ADS_2