
Nata sedikit mengernyit ketika melihat parkiran di rumah neneknya. Sesak. Yang paling dia lihat adalah, sepupunya samuel ada di sini, kalau dilihat dari mobilnya. Paman dan bibinya juga terlihat berkunjung.
"Ra, di rumah bakal banyak orang, selain orang orang yang pernah kita temui di RS. km santai aja ya. Kalo ada yang perlu ditanyakan, tanyain aja. Satu lagi, ingat kamu istriku, aku suamimu. mari kita sama sama menjaganya" pesan Nata pada Eira sebelum keluar mobil untuk masuk ke rumah Nenek.
Eira menenteng bingkisan yang sudah disiapkan Nata sebelumnya. Salad buah yang kata Nata merupakan kesukaan nenek. Sementara koper merka sudah disambut oleh pelayan untuk langsing dibawa ke kamar.
Ruang tamu terlihat kosong, hanya menyisakan cangkir bekas pakai dan beberapa toples kue yang isinya sudah berkurang. Sepertinya baru saja ada tamu.
Nata bertanya pada salah satu ART di rumah tersebut. Sambil menyerahkan salad buah untuk ditarus di kulkas.
"Nenek kemana?"
"Ada di taman belakang Den, tadi di bawain bunga sama den samuel" terang si bibik
Nata langsung menggandeng tangan Eira menuju taman. Nenek, paman, tante dan samuel ada disana.
__ADS_1
"widih.... Penganten baru, gendengan mulu....." celutuk samuel ketika melihat Nata muncul. Sementara Nata dan Eira langsung menyapa sang nenek yang tangannya masih belepotan tanah.
"kalian ini.... Nunggu nenek mati baru mau ngunjungin nenek" kemarahan nenek yang di buat buat yang langsung dapat pelukan dari Nata.
"i love you nenek ku sayang....."
"Mah....ini...." ada raut terkejut dari laki laki di seberang nenek, yang tak lain laksana anindhita, paman Nata sekaligus ayah Samuel.
Nenek tersenyum. "miripkan, makanya langsung tak taliin, biar gak kemana mana. Baru lihat aja sudah sayang" celutuk sang nenek setelah lepas dari pelukan Nata, dan sekarang pindah ke pelukan Eira. Sekaligus paham apa yang di maksud anaknya.
"Nata sudah tahu?" celutuk om laksana lagi
"entah, sepertinya belum" jawab nenek.
"apa ini nek" Nata ikut kepo dengan topik bahasan paman dan neneknya.
__ADS_1
"Nanti tak kasih tahu, sini bantuin nenek nanem dulu. Ini yang bawa tantemu, katanya habis liburan dari puncak." terang sang nenek. Tangannya masih sibuk dengan pot dan media tanam.
"sekolah gimana Ra?" tanya nenek kemudian. Eira yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.
"Baik nek, anak anak sering nanyain nenek. Kangen katanya" jawab Eira jujur.
Tawa renyah nenek menguar. Tawa seperti ini yang dirindukan nata dan samuel. Mereka berdua amat menyayangi sang nenek.
"Titip salam buat mereka. Karena sudah ada kamu, nenek mo fokus aja d rumah. Nunggu kabar baik soal cicit nenek. Selama ini nunggu dua orang ini buat nikah gak berangkat berangkat, alhasil nenek cari hiburan lain dengan cara jadi guru TK. Jadi gimana? Cicit nenek sampai mana?" pertanyaan yang sukses membuat wajah Eira tegang dan telinga Nata memerah.
"sudah sukses jebol gawang kan bro" samuel ikutan ngecengin nata. "apa perlu bantuan" goda samuel lagi.
"enak aja lo, sono cari istri sendiri, jangan ganggu istri orang" bela Nata sambil meninju pelan lengan samuel
"nenek....aku disakiti....." rajuk samuel pada sang nenek dengan suara dibuat buat.
__ADS_1
"bener kata nata, kamu juga buru nikah" omel nenek