
"Ra...." panggil Nata ketika sampai kamar. Eira tak menyahut. Di terlihat sibuk menata baju di koper. Dibatas tempat tidur. Nata mendekat dan langsung memeluk Eira dari belakang.
"gak usah packing gak papa Ra, tar kalo nginep disini lagi, gak perlu bawa baju" kata Nata dari atas kepala Eira. Eira menghentikan gerakannya sebentar. Kemudian mengeluarkan kembali baju Nata yang sudah dia masukkan ke koper. Menutup koper yang hanya berisi bajunya dan mengembalikan baju Nata ke lemari. Nata yang sudah melepaskan pelukannya hanya mengamati gerakan Eira.
"Mas bisa anter Eira sekarang? Kalau gak bisa Eira pesen taksi online saja". Kata Eira sambil mengangkat koper turun dari tempat tidur.
"Sayang.... Kamu kenapa? marah sama mas" tanya Nata akhirnya.
"Eira melirik netra Nata sebentar, kemudian kembali sibuk dengan packingnya. Sekali lagi, hanya barang barang Eira yang Eira beresin.
"pikiran lagi banyak mas" jawab Eira dingin.
"Mas salah apa Ra, ayo ngomong. Aku gak bisa kamu giniin Ra...." kata Nata memelas. Kali ini kembali mendekat untuk memeluk Eira, tapi Eira justru menghindar.
"Emang mas punya salah?" Eira balik bertanya.
"Makanya mas tanya, sikap kamu berubah Ra, kali aja mas punya salah yang mas sendiri gak tahu"
"Mas gak salah kok, Eira aja yang terlalu baper"
__ADS_1
"maksud kamu gimana?"
"Mas.... Mas kalo belum selesai sama masa lalu mas, selesain dulu. Atau kalau emang ingin mengulang masa lalu, Kita bisa akhiri perjanjian kita sekarang" kata Eira datar, dingin, tanpa Ekspresi. Nata terkesiap. Apalagi ini. Batin Nata.
Nata membalik tubuh Eira di depannya. Mendudukkannya di tepi kasur, sementara dia berlutut di depan Eira, mereka berhadapan. Sejajar.
"Ra... Denger... Aku sayang kamu ra, aku cinta kamu, kalau enggak kenapa aku minta melakukannya tadi pagi Ra" kata Nata sambil memegang tangan Eira kemudian menciuminya.
Eira mencari kejujuran dari mata Nata. Yup Eira melihat kejujuran di sana, tapi entah hatinya pias. Terlalu takut untuk mempercayai semua itu setelah apa yang terjadi dan dilihatnya tadi pagi.
Eira melepaskan tangan Nata, menarik Nata mendekat dan melepaskan kaos oblong Nata. Nata terlihat tersenyum. Otaknya sudah traveling apa yang akan terjadi setelah kaos di lepas. Eira terlihat membalik kaos tersebut, mengamati bagian punggung, kemudian menyerahkannya pada Nata.
"Ini cuma salah satu bukti, karena yang lain aku tidak punya bukti kecuali mas sendiri yang ingat" kata Eira menyerahkan kaos dengan Noda bekas bibir dari lipstik, tercetak jelas di punggung kaosnya.
"****...." umpat Nata ketika paham maksud Eira.
"Ini salah paham Ra, ini gak seperti yang kamu pikirkan" Elak Nata, kemudian menuju lemari, mengambil kaos baru dan memakainya. Kembali berlutut di depan Eira.
"Termasuk pelukannya?" Eira mencerca
__ADS_1
"Ra ,,, aku bilang ini salah paham, oke Ana memang kembali untuk menemuiku, tapi aku sudah punya kamu Ra, aku gak mungkin milih dia karena sudah ada kamu disisiku" kata Nata membelai lembut pipi Eira dengan kedua tangannya. Mata Eira terlihat berkaca kaca.
'bibir kami bisa ngomong gitu mas, tapi hati kamu enggak" kata Eira dengan suara bergetar. pop up notifikasi dari ojek online muncul di layar hp Eira. Eira membuka sebentar, kemudian beranjak bangun. Yup tadi Eira sudah sempat memesan ojek online sebelum packing.
"Eira balik sekarang mas, turun sekalian pamitan sama nenek. Ojolnya sudah sampai depan." kata Eira mengambil tangan kanan Nata kemudian menciumnya. Pamit.
"Ra....please... " kata nata frustasi sambil menjambak rambutnya. Eira terlalu kaku untuk diajak negosiasi. Rayuannya pun gak mempan.
Nata keluar kamar setelah sebelumnya menyambar kunci mobil di meja. Ketika Eira pamitan sama nenek, Nata langsung ke depan, memberitahu ojek online untuk membatalkan pesanan Eira. Setelah selesai dia menyiapkan mobilnya sendiri untuk mengantar istrinya.
Nenek mengantar Eira sampai pintu depan, banyak wejangan yang di titipkan nenek, termasuk untuk segera menyelesaikan ketika ada masalah, jangan di tunda tunda. Eira hanya mengangguk mengiyakan wejangan nenek.
Eira menatap Nata sebentar ketika akhirnya Nata memaksa mengambil koper Eira dan menaruhnya di bagasi. Eira terdiam dan mengikuti Nata ketika Nata memberi kode kalau masih ada Nenek.
15 menit perjalanan mereka hanya terdiam dengan pikiran masing masing, Eira menyibukkan diri dengan mengecek hp nya dan mendapatkan pembatalan sepihak dari pihak ojol yang di pesannya.
"Ra... Mas beneran minta maaf, kejadian tadi pagi bukan yang disengaja. Ana tahu tahu sudah ada di belakang mas dan memeluk mas, mas kira itu kamu tapi setelah bersuara baru tahu itu Ana. Dan mas beneran gak ngapa ngapain sama dia, mas aja gak tahu kalau dia ninggalin stempel di baju mas" terang Nata perlahan dan penuh ketegasan. Sementara matanya berbagi fokus antara nyetir dan sesekali melihat Eira.
Eira hanya diam, pandangannya mengarah ke pintu samping.
__ADS_1
"Ayolah Ra, jangan diam saja, aku bingung nih mesti ngapain?" lanjut Nata.
"ya gak usah ngapa ngapain mas, aku cuma butuh waktu untuk mencerna semua ini kok" balas Eira tanpa memindahkan pandangan matanya. Eira memang benar benar butuh waktu untuk mencerna pikiran dan hatinya sendiri. Disaat dia membuka hati untuk Nata, ternyata kenyataan di depannya berbeda.