Pilihan

Pilihan
Perih 2


__ADS_3

Eira yang baru turun dari kamar langsung menemui Nenek di pinggir kolam. Nenek terlihat sedang memberi makan ikan koi di kolam tersebut.


"sini sini, duh... Yang abis nikah di kamar mulu, tapi gak papa. Nenek malah seneng, berarti Nata junior bakalan segera launching" kata Nenek jasmine antusias.


"lah... Nenek bisa aja, gak gitu juga kali nek" Eira mengelak. Sementara tangannya ikut menjumput pakan untuk diberikan ke ikan.


"gitu juga gak papa, nenek malah seneng" kata nenek jasmine di sertai tawa lebarnya.


"nek, nanti sore Eira balik ya. Mo nyiapin perangkat pembelajaran buat senin" kata Eira yang kemudian menghentikan tawa sang nenek.


"dih.... Kamu ya....emang mirip sih" kata nenek jasmine.


"mirip siapa? "


"mirip Nata lah, paling gak betah kalo di sini sejak punya rumah sendiri" terang nenek jasmine


"Ra,, baik baik jaga Nata ya, dia itu rapuh. Gak sekuat kamu. Nenek titip Nata ke kamu" lanjut nenek jasmine


"Mas Nata kan sudah besar Nek,,, gak kebalik, harusnya Eira yang dititipin ke mas Nata" Eira tergelak mendengar ucapan nenek.


"lah,,, di bilangin ngeyel" jawan nenek jasmine

__ADS_1


"eira kan gak paham nek"


"nanti kalo saatnya tiba, atau nata bisa cerita sendiri, kamu pasti paham maksud nenek"


"Ra, ngomong ngomong, kalung kamu, siapa yang ngasih?" tanya nenek jasmine mengalihkan pembicaraan.


"gatau nek, kata ibu panti sih dulu Eira waktu di temuin sudah pake kalung ini, kata beliau siruh oake ni kakung terus, bisa jadi, jadi jembatan buat ketemu keluarga Eira lagi" kata Eira sambil memilin liontin kalungnya.


"kok gitu Ra, kamu gak ingat keluarga kamu?"


Eira menggeleng.


"oh dear....kalian bagaimana bisa bernasib seperti ini" kata nenek jasmine, kemudian menarik Eira ke dalam pelukannya.


"Sayang.... Anggap nenek nenekmu sendiri, nenek ini keluargamu ya sayang" respon nenek jasmin kemudian melepas pelukannya. Tahu air mata Eira jatuh, semakin membuat nenek jasmin trenyuh. Padahal sejatinya air mata Eira jatuh karena Nata.


"Sudah sayang.... Gak usah nangis lagi, cup cup" kata nenek jasmin sambil menepuk nepuk punggung Eira lembut.


"Eira gak papa Nek. Sudah biasa" kata Eira mengusap air matanya.


"sudah biasa bukan siapa siapa dan tidak dianggap" batin Eira, sementara air mukanya menunjukkan senyum yang sedikit dipaksakan.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Nata terlihat berjalan menuju Eira, menggunakan kaos oblong dan celana pendek yang dipilihkan Eira waktu packing. Dan sangat terlihat aura maskulinnya meskipun dari jauh. Eira terkesima, bisa jadi iya, tapi otaknya menguatkan hatinya untuk tetap netral, terlepas apa yang telah terjadi diantara mereka. Eira tidak ingin tersakiti untuk kesekian kalinya.


"ayuk Ra" ajak Nata setelah mendekat dan memeluk Eira singkat. Eira tak merespon. Pandangannya tertuju pada ikan di kolam.


"Kalian mau balik sekarang, bukannya nanti sore" seru nenek jasmine.


"Kapan Nata ngajak pulang" protes Nata.


"tadi Eira bilang" kata nenek jasmine jujur.


"aku ada kerjaan mas, balik tar sore ya, sekarang tak packing" jawab Eira datar, langsung berjalan meninggalkan Nata dan nenek jasmine.


"Ra...." panggil Nata dan Eira tetap berjalan pergi.


"Kalian sedang ada masalah?" tanya nenek jasmine penasaran setelah melihat Nata yang terlihat kebingungan.


"Nggak Nek, bahkan tadi sempet olahraga buat cicit nenek" jawab Nata kelewat jujur.


"bocah semprul, "


"beneran nek, kan emang program buat cicit nenek, hehe "kata Nata sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

__ADS_1


"Nata susul Eira dulu nek, takut gak dapet jatah" kata Nata sambil ngacir, meninggalkan neneknya yang sudah siap melempar sandal.


__ADS_2