
Eira mematung. Belum genap Eira mencerna kecupan yang pertama, Eira sudah dihujani ciuman kedua yang begitu lembut. Dan entah untuk alasan apa, eira meneteskan air mata. Dengan air mata ini lah akhirnya Nata menghentikan ciumannya.
"kamu nangis Ra, sorry.... Im impulsif. Kamu cantik banget saat ketawa Ra" kata Nata jujur yang kemudian menarik kepala Eira ke pelukannya. Dan entah kenapa Eira tak mampu menolak. Air matanya makin deras tapi dia tidak terisak.
"Maaf Ra... maafin aku" Nata kembali meminta maaf. Dan setelah itu hening. Keduanya berada di pikiran masing masing.
Eira menarik dirinya dari pelukan Nata ketika air matanya berhenti sendiri. Eira menelan ludah sebelum mulai bicara.
"Mas.... Aku sudah pernah ingetin untuk jangan ngelakuin hal kaya gini. Aku gak mau GR mas. Jangan perlakukan aku dengan manis. Jangan baik baikin aku. Jangan bikin gestur yang akhirnya membuat aku salah paham, membuat aku baper. Taukan cewek itu gampang di baperi" cerocos Eira. Lega setelah uneg uneg hatinya keluar.
Nata hanya tersenyum simpul. Perempuan di depannya benar benar membuatnya gemas. Kedua Tangannya tergerak untuk menangkup pipi Eira. And you know what, Eira gak nolak.
"Dengerin my baby honey sweety......" tangan Nata langsung ditarik oleh kedua tangan Eira ketika kalimat Nata keluar.
"aku suamimu, aku menyukaimu, menyayangimu dan gak ingin kehilangan kamu"
Eira mencari kebenaran kata kata Nata dari kedua matanya.
"Sejak kapan?" respon Eira
"Entah Ra, mungkin sejak kita tabrakan, tukeran hp sampai akhirnya aku kepoin kamu, atau bahkan sejak kecil mulai saat kamu curi first kiss aku"
"Ngarang"
"Beneran Ra, liat Ni" Nata menarik tangan kanan Eira ke dada kirinya. Debaran jantung yang semirip debaran Eira.
"Dengerin dulu" kata Nata kemudian. Tangan Eira masih di pergelangan tangan Nata.
"Denger.?"
__ADS_1
"enggak" Eira jujur, dia memang tidak mendengar, tapi degup jantung itu bisa dirasakan telapak tangan Eira. Nata protes lewat padangan nya.
"tapi kerasa kok di telapak tangan" kata Eira kemudian. Nata tersenyum. Manis banget, manisnya gula mah kalah sama senyum manis laki laki di depannya.
"Ra... Denger" kata Nata lembut sambil menggenggam kedua tangan Eira. Sorot matanya mulai redup. Tapi ada kesungguhan di sana.
"Aku mau kamu jadi istriku yang sebenarnya. Nanti saat di rumah, kita buang perjanjian kemarin, karena aku gak butuh itu. Aku mau kamu" kata Nata kemudian mengecup kedua punggung tangan Eira, kemudian membelainya lembut.
Eira mencari kesungguhan di balik tatapan Nata. Dan Eira tahu itu tulus, hatinya membuncah, terlalu banyak kupu kupu yang saat ini beterbangan di perutnya.
"Mas yakin" kata Eira dengan suara serak. Entah kenapa tenggorokannya terasa kering.
"kamu gak yakin dengan yang aku katakan Ra?" pegangan tangan Nata mengencang. Gestur tubuhnya terlihat gusar.
"Entah" Kata eira sambil menunduk. Tak berani menatap Nata, tapi Eira jujur. Walaupun perutnya di penuhi kupu kupu, ada sudut hatinya yang masih mengganjal.
"Sorry......" kata Nata kemudian memegang kedua pipi Eira, mengangkat wajah Eira untuk kembali melihatnya.
"bobo yuk, dah malem" Kata Nata yang kemudian beranjak ke tengah tempat tidur, tangannya masih memegang tangan Eira
"tapi Mas" Eira menahan tangan Nata
"Kenapa?"
"Sekasur?"
"Ya iyalah, emang gimana?" Nata terlihat berfikir sebentar. "Okay, kamu tidur disini, aku di sofa" Nata mulai menggeser badannya, tapi tangannya kembali di tarik Eira.
"Jangan, mas tidur disini saja" kata Eira dengan suara pelan.
__ADS_1
"trus kamu"
Eira melepaskan tangannya dan mulai beranjak menyusul Nata. Menata bantal di tengah sebagai sekat, kemudian duduk di sebelah Nata dengan sekat bantal.
"Gini okay" kata Eira. Nata tergelak. Kemudian mengacak rambut Eira. Gemas.
Mereka akhirnya rebahan. Nata mematikan lampu utama hanya dengan sekali tepuk. Dan itu membuat Eira terpana. emang kalau punya uang bisa apa aja ya.
Hampir 30 menit kedua orang tersebut rebahan, ternyata belum ada satupun yang sukses memejamkan mata. Mereka sibuk dengan pikiran masing masing. Keduanya menghembuskan nafas panjang hampir bersamaan kemudian saling menoleh dan akhirnya hanya ngakak.
"coba sini" Nata mengambil satu bantal untuk dia pakai kemudian meluruskan tangan kanannya. Meminta Eira untuk membuatnya sebagai bantal.
"bantal yang ini gakkan aku pindah nah gantinya pake tangan ku buat bantal."
Eira sempet ragu, akhirnya nurut.
"aku gakkan apa apain, beneran. Kan masih ada satu bantal buat sekat.
Eira nurut, meletakkan kepalanya di lengan Nata. Aroma feromon menguar menusuk hidung Eira. Dan anehnya itu membuatnya tenang.
"gih merem" kata Nata di atas pucuk kepalanya.
Eira nurut, 5 menit berlalu, suara nafas lembut teratur Eira sudah terdengar. Menandakan Eira sudah pulas. Nata mencium pucuk kepala Eira. Menyesali kalimatnya sendiri bahwa dia tidak akan ngapa ngapain Eira. Akhirnya justru dia sendiri yang terjaga, di temani juniornya yang ikit terbangun.
"****..." umpatnya. Nata terjaga sepanjang malam, akhirnya dia menarik tangan kanannya dan meraih bantal menggantikan tangannya. Eira menggeliat sebentar tapi kemudian mengganti posisi tidurnya. Dan benar benar menjadi siksaan Nata karena leher jenjang Eira terekspos dengan nyata. Menanti untuk di nikmati.
Nata menggaruk kasar kepalanya. Frustasi. Akhirnya dia memilih push up di kamar, tapi justru makin frustasi. Kamar mandi menjadi pilihan terakhir untuknya.
30 menit berlalu, Nata keluar kamar mandi dengan lebih segar dan wangi. Berendam setelah self service, lumayan membuatnya kembali lebih segar. Nata beranjak ke tempat tidur, menarik selimut, menyelimuti Eira dan dirinya, kemudian merebahkan diri setelah sebelumnya menyempatkan diri mendaratkan kecupan singkat di bibir Eira.
__ADS_1
"Nakal kamu Ra" ucap Nata lembut. Dan Eira tersenyum dalam lelapnya