Pilihan

Pilihan
Malam Pertama


__ADS_3

Dari sejak kedatangan Nata dan Eira ke rumah, Nenek terlihat lebih ceria. Ditambah dengan polah Samuel dan Nata yang kalau sudah mulai ejek ejekan, kaya kucing sama tikus. Rame. Sebenarnya semua itu sudah settingan dari dua cucu nenek tersebut. Mereka jarang melihat sang nenek tertawa lepas, jadi bagaimanapun caranya, mereka akan membuat nenek bisa tertawa lepas lagi. Seperti sore ini.


Setelah makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga. Nata yang awalnya hanya nonton tv, nonton chanel anak kecil langsung di ganggu samuel dengan memindah chanel ke chanel olahraga.


"apaan sih lo" protes Nata yang kembali memindahkan chanel


"udah gede juga gak move on dari kartun" kata samuel yang kembali mengganti channel dan justru menyimpan remote di kantongnya. Nata tak kalah akal, dia bangun dan pindah di depan tv digitalnya. Mengganti saluran manual dan berada di depan tv, menutup sensor remote.


"Mas, malu ih" Eira yang duduk di ujung kursi, menegur Nata yang sekarang ada di depannya dengan setengah berbisik. Nenek yang baru ikut bergabung tertawa ngakak.


"Biarin Ra, dari dulu mereka kaya gitu, kalo gak jahil, ya gak bakal rame rumah ini" kata nenek lalu memilih duduk di samping Eira. Om Laksana yang mengikuti nenek, memilih duduk di ujung sofa sebelahnya. Tidak berkomentar, hanya diam tanpa ekspresi. Sementara istrinya, sepertinya kembali ke kamar setelah makan malam tadi.


"Dulu pernah waktu jalan ke panti, samuel usilin Nata sampai nangis, sama salah satu anak panti, Nata di cium. Eh bukannya diem, malah makin kenceng. Si Samuel ngakak nya juga makin kenceng. Abis itu di ceng in mulu sama si samuel." cerita Nenek pada Eira.


"kapan itu Nek" Sam dan Nata kompak bertanya


"dulu waktu ngerayain ultah Nata kayanya, tu di kamar ada foto nya" Kata Nenek lebih kepada Nata. Samuel semakin ngakak kegirangan.


"penasaran, pengen liat ah" celetuk Samuel


"Ada di kamar Nata tu" nenek menjelaskan sambil menunjuk kamar Nata.

__ADS_1


"Ra, cabut yuk.... Ngantuk, Di sini berisik" kata Nata yang kemudian langsung meraih tangan Eira, mengajaknya pergi.


"Eh tapi...." kata kata Eira menggantung. Samuel semakin terpingkal pingkal sedang nenek tersenyum lepas. Samuel paling tahu gimana cara buat Nata jengkel.


Nata membuka pintu kamar dengan sedikit kasar. Aroma mint tercium dari kamar ini. Seger banget.


"Masuk Ra, sorry kamu ikutan tak tarik kesini. Daripada di sana tar kamu keracunan pikiran Samuel" kata Nata yang bablas ke kasur. Rebahan.


"hmm okay" respon Eira. Eira kemudian berkeliling, mengobservasi kamar yang baru saja dimasukinya. Eira mengamati seluruh ruangan. Ada hiasan lemari kecil setinggi 150 an cm dengan lebar 175 an di depan tempat tidur, semacam sekat untuk menghalangi agar pandangan tidak langsung ke tempat tidur. Nah di meja tersebut terdapat pajangan berupa foto, mulai dari Nata kecil sampai lulus kuliah. Semacam perjalanan hidup nata dalam bentuk foto.


Eira tersenyum melihat foto Nata bayi. Lucu dan menggemaskan. Eira beralih ke foto Nata saat mulai anak anak, mulai dari foto saat TK sampai SD. ada satu foto keluarga yang membuatnya tertegun. Foto ayah ibu dan adik Nata. Disebelahnya ada foto berlima bersama nenek. selama ini nata tak pernah bercerita memiliki saudara.bahkan ayah ibunya tak pernah diceritakan. Eira diam, menyimpan tanya dalam hati. Karena seteleh foto itu, tidak ada lagi foto nata bersama keluarga. Hanya nata dan nenek.


Ada satu figura foto yang dibalik kebelakang. Eira penasaran dan kemudian tertawa ngakak ketika melihatnya.


"oh ... Anak kecil yang telah mencuri ciuman pertamaku" kata Nata acuh kemudian rebahan lagi dengan kaki menekuk. Hanya badanya yang rebahan.


"tapi mas, ini kaya gak asing. Ini panti tempat aku tinggal kayanya. Ni ini tu Heru, Ini Naya ini reni" kata Eira menunjuk anak anak yang ikut mengelilingi Nata yang sedang menangis. Anak anak yang di kenalnya.


"tunggu,,,,,, aku punya fotonya dengan versi yang lain di hp ku" kata Eira sambil mengeluarkan hapenya. Kemudian menscroll galery yang sudah terhubung dengan emailnya. Membuka foto lama.


"mas lihat ni" kata Eira menunjukkan hp nya.

__ADS_1


Nata bangun karena ikut penasaran.


"mas yang nyium mas yang mana?" tanya Eira penasaran.


"yang rambutnya di kuncir dua pake poni, inget banget aku" kata Nata penuh dendam.


"Ini mas?" Kata Eira yang menunjuk foto di hpnya. Foto di pigura anak tersebut membelakangi kamera, karena melihat Nata yang menangis.


"mungkin, ingat ku cuma kuncir dua pake poni" kata Nata sambil melihat anak kecil yang di tunjukkan Eira.


Tawa Eira mengalir begitu saja.


"Lo yang mana Ra?" Tanya Nata.


Eira menunjuk gadis kecil dengan kuncir dua dan poni, mengakui bahwa itu dirinya. Dan dia semakin terpingkal pingkal.


Nata hanya memandangi Eira yang masih tertawa sambil memegangi perutnya. Tawa yang entah untuk alasan apa, Eira terlihat semakin mempesona.


"kenapa mas..." tanya Eira sambil menyeka air mata di sudut matanya. bukan air mata kesedihan karena dia tertawa dengan seluruh hati dan pikirannya.


Entah untuk alasan apa, bahkan gerakan yang tanpa disadari Nata , Nata mendekat dan mengecup bibir Eira. Hanya mengecup dan itu sukses membuat tawa Eira diam.

__ADS_1


Eira tidak merespon. Melihat Eira yang diam saja, Nata salah membaca situasi. Dia kembali mendekat ke Eira dan kali ini mel*mat bibir Eira dengan lembut. Sangat lembut.


__ADS_2