
Hari berjalan seperti biasanya, jam dinding terus berputar, Hari ini adalah hari sabtu. Mau kemana ya pikirku. Rasanya gak ada perubahan setiap hari gini gini aja.
"Kell aku sama april mau main nih ke kota tua. Ikut ga?"
"Boleh tuh"
Kataku semangat.
"Nanti deh berangkatnya agak sorean biar kita nongkrong disana malam malam"
"Yaudah kalo gitu"
Kemanapun aku pergi, aku selalu mengabari fito, karena aku tidak mau terjadi salah paham. Dan syukurlah diapun mengizinkan. Tapi dengan syarat tidak boleh pergi bareng laki laki.
Ya ampun, laki laki siapa? Satu saja belum pernah aku temui.
Dan sore itupun tiba. Aku, kiki dan april bersiap siap menuju stasiun Pondok Ranji yang ada di bintaro.
Selesai membeli tiket, kamipun menunggu kereta. Setelah kereta tiba kamipun naik dan turun di stasiun tanah abang. Diperjalanan aku menikmati setiap sudut kota jakarta. Jakarta adalah kota metropolitan dengan budaya betawi dan kesenian ondel ondelnya yang khas.
Menuju kota tua, memang 2 kali transit. Transit pertama di tanah abang, setelah itu di stasiun akhir yaitu jakarta kota.
Tiba di sana, kami langsung menuju kota tua. Karena memang malam minggu, banyak sekali anak muda yang menongkrong dan penjual berjejeran memenuhi sudut kota tua.
Aku menikmati setiap hiburan disana.
Kiki sibuk dengan HP nya, entah sedang menunggu siapa. Tak lama kemudian ada dua orang laki laki datang dan menemui kiki. Oh rupanya kiki bukan hanya sekedar main, tetapi berjumpa dengan teman laki lakinya.
Karena aku bukan asli jakarta, dan entah kapan lagi aku menginjak kota tua, akupun membeli baju khas bali dengan tulisan "Kota tua dan Musium Fatahillah". Tidak lupa juga aku membeli gelang tangan hasil kerajinan.
"Aku mau beli tiga. Berapa bang?"
"Lima belas ribu"
Dan akupun membeli tiga gelang itu. Sengaja membeli tiga karena akan aku bagi buat kiki dan april.
"Nih pril ini buat kamu, dan ini buat kamu ki"
Kataku sambil memberikan gelang itu
"Waah, makasih ya"
Kata april. Gelang itu langsung dipake sama april. Sedangkan kiki memasukannya ke dalam tas
Aku dan april berjalan jalan keliling kota tua, sementara kiki kami biarkan bersama teman laki lakinya.
Aku duduk di sebuah bangku sambil membeli minuman dan menikmati pertunjukan seni disana.
Fito telfon. Dan aku angkat
"Hallo"
"Sudah di kota tua kah?"
"Iya sayang. ni lagi duduk"
"Pulangnya jangan malam malam yah"
"Iya sayang, paling pulang jam 9. Soalnya takut ketinggalan kereta"
"Yaudah sayang"
Telfon diakhiri dengan sebuah kecupan. Aku masih duduk disini menikmati angin yang mulai menerpa wajah. Malam hari tidak terasa dingin disini, jakarta memang panas.
__ADS_1
Lagi asyik nenikmati kesenian jakarta, tiba tiba datang seorang anak kecil menawarkan minuman di gelas plastik.
"Kak beli minum gak?"
Dia menawari kami minuman. Anak kecil itu membawa tas gendong dan nampan.
Aku kasian melihat anak kecil itu. Diumurnya yang masih kecil dia sudah bisa membantu ekonomi keluarganya.
"Yaudah kaka beli yah"
Jujur, sebenernya aku gak mau beli minuman itu, soalnya minuman yang aku beli sebelumnya masih belum habis. Aku lebih ke kasihan aja.
"Beli berapa gelas ka?"
Ada semangat yang terpancar di kedua matanya. Mata yang sangat indah
"Kaka beli 2 gelas aja yah. Nih pril buat kamu satu"
Tadinya april menolak. Tapi aku memaksanya.
"Berapa de satunya?"
"Sepuluh ribu ka"
Akupun mengeluarkan uang 20ribu di tasku.
"Nih kaka beli 2 yah"
Dia tersenyum kegirangan.
"Makasih banyak ya ka, minumannya belum laku dari tadi, baru kakak aja yang beli"
Aku terenyuh mendengar ceritanya.
"Namaku Rista ka"
Aku masih ingat sampai sekarang kalau anak itu bernama rista. Umurnya sekitar 9 tahunan dengan rambut panjangnya yang terurai. Dia duduk sejenak di sampingku. Tas yang dia gendong dia buka. Rupanya di dalam tasnya itu berisi gelas plastik dan minuman serbuk sachetan. Satu buah termos dan 3 botol plasik besar.
Dia juga membuka dompet dan memasukan uang 20ribu itu ke dompetnya.
"Ade sudah makan kah?"
"Belum ka. Aku makannya nanti kalau daganganku habis"
Ya allah anak sekecil ini rela mengorbankan isi perut dan tenaganya.
"Yaudah adek makan dulu, kakak yang bayar"
"Gausah ka, aku mau keliling dulu takutnya nanti es batu nya keburu cair"
"Yaudah kaka bungkusin kamu makanan. Tapi ingat kamu makan yah"
Dia mengangguk pelan dan sedikit malu. Aku berjalan menuju orang jualan nasi bungkus. Aku memesannya satu dan aku berikan nasi itu kepada Rista.
"Makasih banyak ya kaa"
"Sama sama adek. Oh ya nanti kalau jualannya sudah habis langsung pulang yah"
"Iya kak"
Dia mengangguk.
Ada emosi tersendiri saat melihat anak kecil berjualan. Seharusnya dia sekolah, seharusnya dia berjalan jalan bersama orangtuanya. Tapi yasudahlah. Biasanya kalau sedari kecil pandai mencari uang, besarnya suka sukses.
__ADS_1
Setelah dirasa semuanya cukup. Aku dan April memutuskan untuk pulang. Kamipun menemui kiki, tapi kiki tidak ada disana.
"Si kiki kemana? bukannya tadi disini yah?"
"Aneh tuh anak"
Lalu aprilpun menelfon kiki, tapi nomornya gak aktiv. Jujur saja kami sudah kesal, karena kami takut ketinggalan kereta.
"Yaudah kita duduk dulu aja disini. Mungkin si kiki lagi beli makanan"
April pun menurut. Kami menunggu kiki selama 20 menit, Karena kiki gak ada nyamperin terus, akhirnya kamipun menunggu kiki distasiun.
"Kiki itu kebiasaan, kalo udah sama cowo pasti gini"
April menggerutu dengan mata penuh amarah
"Yaudah sabar aja dulu. Bentar lagi juga nelfon"
Dan benar saja kikipun nelfon.
"Kamu dimana ki, kalau ketinggalan kereta gimana"
"Sorry tadi lagi keliling dulu bareng temen. Kalian dimana, aku ditempat tadi"
"Kita di stasiun"
"Oke kesana"
April mematikan telfon.
"Kiki dimana katanya?"
Tanyaku
"Dia ditempat tadi dan mau kesini"
Akupun diam. Sekilas terbayang soal fito.
Aku menatap kosong ke arah rel kereta.
Pikiranku terus dihantui soal hubungan yang tak direstui dan pertemuan yang tak pernah terjadi. Sekilas terlintas dalam benakku untuk meninggalkan fito.
Pikiranku mendadak buyar pas kiki datang. Dia lari tergopoh gopoh
"Sorry ya kel, pril"
"Ki jadi orang itu gaboleh kaya gitu. Kamu berangkat di villa bertiga, tapi nyampe sini kamu malah asyik dengan cowo"
"Iya maafin aku pril"
"**Udahlah. Kap**ok aku harus jalan lagi samamu"
April marah.
"Sudah sudah, tuh keretanya udah datang. Ayo naik"
Kataku mencoba menenangkan. Kamipun naik kereta dan menuju pulang. Sepanjang perjalanan april diam saja dan kiki masih sibuk dengan HP nya. Aku sih gak ambil pusing soal masalah itu, yang penting malam ini aku cukup terhibur dengan kesenian jakarta dan kota tua yang dulu hanya aku lihat lewat TV.
Senang sih bisa jalan jalan kaya gini sekedar hanya untuk menghilangkan penat.
Diperjalanan menuju pulang, aku terus menikmati setiap keindahan malam di balik kaca kereta. Aku melihat monas dengan cahaya indahnya ditengah malam, aku juga melihat banyak gedung menjulang tinggi. Pasar tanah abang dan kebayoran yang dulu hanya aku dengar lewat berita di TV, sekarang aku bisa melihat dan merasakannya secara langsung.
Gapapa kalau dibilang kampungan, yang jelas kebahagiaan setiap manusia memang berbeda beda, tergantung dari cara manusia itu bersyukur.
__ADS_1