PINTU NO.7

PINTU NO.7
PART 34 - RINDU LAGI


__ADS_3

Suara angin, angin yang membuai hati


Ingatkanku padamu yang ku sayangi


Ku menangis teteskan air mata ini


Lama tak jumpa walaupun hanya dimimpi..


Pagi itu aku terbangun karena sebuah lagu yang sengaja aku setting di Alarm. Aku terbangun dengan detak jantung yang tidak beraturan. Pagi ini bayangan fito mulai bergelayut di pikiranku..


Arrgggggghhhhh!!


Sumpah saangat mengganggu!!


Segera aku ganti musik di alarm itu dengan lagu setelan pabrik. Bayangan tentangnya akan membuat hari hariku lebih buruk.


Akupun langsung mandi, ganti baju dan sarapan. Tidak lupa juga sebats dulu ngebangunin paru paru yang mulai haus dengan asap.


Aku duduk dengan HP ditanganku. Rupanya tadi malam Marcel ada nelfon tapi tidak terangkat. Aku coba telfon balik tapi nomornya gak aktiv.


Sebatang sudah habis, akupun langsung siap siap pesan gojek dan berangkaat!!!!


Sekarang aku diperintah sama Evan buat masuk pagi terus, biar evan yang masuk siang. Evan khawatir kalau aku harus pulang malam cieee....


Aku langsung melakukan tugasku seperti biasanya. Siapin demo, pasang Alarm, hidupin balon olli dan stay deh.


"Kell masuk pagi juga?"


Tanya windy yang sudah berdiri di mejanya.


"Iyanih, evan yang siang"


Lalu windypun melangkah dan berdiri di sampingku.


"Lu mah enak kel staynya berdua, guemah sendiri"


"Ko bisa sendiri?"


"Iya soalnya dibrand gue satu toko stay satu orang"


"Ya gue juga karena anak baru kali, jadinya suruh berdua dulu"


"Enggak ah dibrand lu dari dulu kaya gitu ko, stay berdua. Kadang ada juga yang bertiga"


Lagi asyiknya ngobrol tiba tiba datang si Aji. Dia anak V*vo.


"Wooi ngobrol ga ngajak ngajak"


"Lagian lu mikir deh, lu kan cowo ngapain ikut nimbrung"


Kata windy ketus


"Yaelah, bete gue, partner gue kan masuk siang"


"Sama kaya guelah"


Kataku sedikit banyol


"Eh dari kemaren angka gue masih nol"


Kata aji.


"Lagian lu sih gabisa ngelobby user. Ngejelasin masi blepotan, gimana user mau yakin sama produk lo"


"Ya ampun windy, user yang datang ke gue itu rata rata pengennya spek tinggi harga murah"


Aku ketawa kecil mendengar percakapan mereka. Windy sama Aji emang gak aneh, selalu saja debat soal user.


"Kalau soal itumah ada di brand gue, lagian keselnya napa sih lu gak lempar ke gue aja kalau ada user lu yang gak jadi beli. Lu lempar terus sama si vadia. Mentang mentang lu deket sama dia"


"Jadi lu cemburu?"


Tanya aji sambil menunjuk geli


"Dih ogah guemah cemburu sama lo. Pokoknya syukurin deh lu gak dapet angka, tiap ada user lu lempar mulu ke si vadia"


Aku masih menyimak apa yang mereka bicarakan. Setahu aku Vadia adalah anak brand sebelah yang produknya menjadi kompetitor utama Windy. Itulah yang membuat windy kesal sama aji.


Obrolan kamipun terpotong karena ada costumer datang. Kami semua menyambutnya dan langsung balik ke meja masing masing. Costumernya memang masuk ke meja Ip*one, aku masih menunggu costumer itu, siapa tau dia datang ke mejaku. Tapi ternyata tidak, costumer itu rupanya hanya menanyakan acessories saja.


Si Aji tadinya udah kegirangan, wkwkwkw


Emang beginilah jadi promotor....


Waktu menunjukan pukul 12 siang, aku masih menunggu evan datang. Dan benar saja, aku sudah melihat evan datang dari kejauhan. Dia sudah melempar senyuman.


"Hayyyyy, gimana udah jualan?"


Tanya evan sumringah


"Belum Van, belum ada yang jebol satupun. Paling ada yang beli asesoris aja tadi"


"Yaudah gapapa, semangat yahh... Yaudah kamu break dulu gih"


"Hemmm, sorry yah van"


Kataku


"Ya ampun, ko bilang gitu? emang salah kamu apa? wajar lah emang toko lagi sepi ko"

__ADS_1


Kata even dengan tersenyum.


Dan setelah itu aku pamit ke evan buat break bareng Windy.


Selama kerja disini, aku selalu bersyukur mendapatkan partner kerja yang baik. Aku juga gak pernah canggung bertanya soal kerjaan yang belum aku pahami.


Evan lebih suka kalau aku banyak nanya daripada aku diem dan ujungnya aku gak ngerti apa apa.


Anyway ternyata kerja jadi promotor itu menyenangkan yah...


Kerja disini memang kebanyakan umurnya masih muda muda. Dari umur 18-27 tahun.


Kami selalu dituntut soal Fashion dan make up.


Cewek rambutnya harus digerai gak boleh diiket. Gak cuma itu, kalo bisa rambut harus dikasih sedikit pewarna semacam di omre atau toning.


Celana harus jeans, sepatu harus casual dan intinya kami harus menarik.


Laki laki pun rambutnya gak boleh lepas dari yang namanya pomade. Memang bener sih, kadang aku juga suka agak tertarik kalau lihat evan atau marcel pake pomade. Ada inner beauty tersendiri.


...*****...


Hari berlalu seperti biasanya, dimana temen kosan yang selalu ribut dengan musik yang jedar jedernya, ibu kost yang selalu sinis sama penghuni lantai 3 dan aku yang memulai semangat dengan pekerjaan baru.


Malam itu aku baru pulang dari kerjaan, aku gak langsung masuk kamarku, aku masuk ke kamarnya yudi. Aku nengok, dan rupanya ada yudi doang disana sendiri, dia duduk dengan gitar di tangannya.


"Yud"


"Eh kel, baru balik lu"


"Ya yud"


Akupun membuka sepatu dan masuk ke kamarnya.


"Wih tumben gitaran"


"Iya nih gue pinjem gitar sama temen gue"


"Yang lain pada kemana?"


Tanyaku sambil nengok ke kamar joko.


"Harusnya sih mereka udah pada balik jam segini. Nongkrong dulu kali kel dikerjaan"


"Mana ada di kerjaan nongkrong, ya gawe lah"


"Haha balik gawe nongkrong dulu maksud gua"


"Nah gitu dong, ngomong yang jelas. Yud gue pengen nyanyi nih yud"


"Lagu apaan?"


"Gue pengen lagunya elegi esok pagi"


"Oh itu kan lagu lawas kel"


"Biarin yud, gue suka lagu itu"


"Tar gue nyari dulu chordnya ya"


Yudi mulai membuka HP dan mencari chord lagu yang aku minta.


"Nih ada nih, yo mulai"


Dan yudi pun langsung memetik senar gitarnya.


#####


Izinkanlah ku kecup keningmu


Bukan hanya ada di dalam angan


Esok pagi kau buka jendela


Kan kau dapati seikat kembang merah


Engkau tau aku mulai bosan


Bercumbu dengan bayang bayang


Bantu aku temukan diri


Menyambut pagi membuang sepi


Izinkanlah aku kenang sejenak perjalanan


Dan biarkan ku mengerti apa yang tersimpan di matamu hooo.....


Barangkali di tengah telaga


Ada tersisa butiran cinta


Dan semoga kerinduan ini


Bukan jadi mimpi diatas mimpi


Izinkanlah aku rindu pada hitam rambutmu


Dan biarkan ku bernyanyi

__ADS_1


Demi hati yang risau ini ho....


######


Aku menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan. Ada terlintas bayangan seseorang yang memang sedang aku rindukan malam ini. Orang yang belum pernah aku temui tapi menyimpan luka yang amat dalam.


Dia yang membuatku terlupa dengan dunia malam tapi dia meninggalkan saat aku mulai melangkah menuju apa yang dia harapkan.


"Lu nyanyinya ngehayatin banget, lagi kangen seseorang yah?"


Yudi nyeletuk


"Ya yud, gue kangen orang yang belum gue temui"


"Hah? kok bisa?"


"Aneh kan? tiap gue cerita sama orang juga ko bisa terus, seunik itukah perasaan gue?"


"Ya gimana gak unik, ketemu aja belum apa yang lu rinduin dari dia?"


Aku tarik nafas sejenak, lalu aku melanjutkan.


"Gue rindu aja, dulu gue nakal sering main ke club malam, sering karoke bareng temen cowo gue, sekarang gue bisa kaya gini karena dukungan dan semangat dari dia"


"Dia mantan lu?"


Akupun mengangguk.


"Kenal dari mana?"


"Kenal lewat aplikasi. Awalnya gue juga gasuka sama dia, gua risih kalau dia nelfonin gue mulu. Semenjak cerai gue emang belum pacaran lagi"


"Orang mana dia?"


"Sama kaya lu yud orang padang"


"Padangnya dimana?"


"Bilangnya sih di pesisir selatan"


"Oh itu 3 jam dari tempat gue kel, kenapa lu bisa putus?"


"Dia yang mutusin gue, bilangnya sih orangtuanya gak restu karena gue janda"


"Yaelah cuman karena janda doang"


Yudi mendecak sambil tersenyum sinis.


"Emang orang padang orangtuanya kaya gitu semua ya yud?"


"Yaelah kel, kepala boleh sama tapi pemikiran beda beda. Orangtua gue engga gitu sih. Orangtua gue mah bebas gue mau nikah sama siapapun yang penting gue bahagia"


"Tapi beda dengan orangtuanya dia"


"Emang dia orang kaya kah?"


"Gue gak tau, gak pernah tau tentang keluarganya. Intinya keluarga mereka gak suka sama gue. Emang kenapa kalau seandainya dia orang kaya?"


"Ya kalo dia anak orang kaya pantas aja lah muluk muluk orangtuanya. Memang di padang ada tradisi tersendiri. Dan intinya Padang sama Sunda itu beda ras juga. Apalagi kan di padang itu marganya dari cewe. Kalau dia nikah sama lu, marga dia bakalan hilang"


Aku terdiam. Mendengar apa yang yudi jelaskan. Seribet itukah?


Aku membatin dalam hati.


"Yaudah gausah dipikirin. Cari aja yang keluarganya siap nerima lu dan status lu. Cari yang keluarganya gak ribet"


Aku mendengarkan saran yudi. Memang iya sih aku juga sempat berfikiran begitu. Tapi gak tau kenapa, malam ini bayangan tentang fito selalu hinggap di kepalaku. Padahal kami putus sudah hampir 5 bulan.


"Dia milih orangtuanya dan yaudah gue ngalah aja yud."


"Ya pasti dia milih orangtuanya. Tapi gue yakin keputusannya itu salah. Dia menyelamatkan sebagian hati tapi menyakiti hati yang lain. Kalo kata gue sih dia gak punya pendirian"


Angin malam ini cukup kencang sampai masuk ke dalam kamar. aku biarkan angin malam ini menerpa wajah dan membawa sebagian apa yang sedang aku pikirkan saat ini. Masa lalu memang tidak seharusnya dikenang dan diingat terus menerus. Apalagi masalalu yang membawa kita pada rasa sakit.


Tapi semakin kita melupakan masalalu, semakin kencang kenangan itu teringat.


Bukankah sebelum kita melupakan segala sesuatu kita akan mengingatnya terlebih dahulu?


Arrrrggggghhh......!!!!


Kok bisa ingat terus?


Kenapa?


Mengapa?


Padahal nomornyapun sudah aku hapus, apalagi foto fotonya yang selalu aku screenshoot setiap video call.


Tapi aku lupa, aku punya hati dan otak yang dulu sempat beradu argumen soal perasaanku untuk dia.


Aku lupa kalau aku adalah bunga mawar yang layu karena ditinggal pemiliknya.


Sekarang, bunga mawar yang layu itu harus tumbuh kembali di pemilik yang baru..


Pemilik yang benar benar menjaganya..


Pemilik yang benar benar merawatnya..


Sampai bunga mawar itu benar benar mati bersama pemilik sesungguhnya..

__ADS_1


__ADS_2